Mata yang sudah disuguhkan oleh pemandangan beberapa alat dapur yang bergantungan pada rak dinding membuanya semakin tidak semangat untuk menjalani hari ini.
“Kau terlihat
tidak bersemangat untuk hari ini” celetuk Nienke yang saat ini berdiri tepat
disampingnya. “Kurasa juga begitu” sahutnya dengan mata yang dipaksa untuk
terbuka.
“Pesta?”..
“Bisa dibilang begitu, tetapi tidak benar-benar pesta” sembari diikuti
melebarkan mulutnya. “Pantas.. pulang jam berapa kau semalam?” tanya Nienke.
“Tiga pagi”
“Astaga. Cuci
wajah kusam mu itu sedikit lagi jam makan siang, restoran kita pasti akan ramai
sekali” perintah Nienke yang sedang melap meja. Sakura pun pergi ke wastafel
untuk membasuh wajahnya itu untuk menghilangkan rasa kantuk yang sangat-sangat
menghantuinya.
“Sakura”
salah seorang menepuk pundak Sakura tiba-tiba.
“Hmmm..”
“Ada pak Noah
sedang mencarimu” ujarnya.
“Baiklah. Eh
dimana ia sekarang?” tanyanya yang masih mengusap wajahnya dengan perlahan.
“Meja nomor dua”
Sakura
pun segera keluar dari dapur untuk menemui Noah. Sakura pun berjalan sedikit
cepat.
“Hallo
Noah, ada apa kau kesini?”
“Hai
lieverd” sapanya dengan nada yang
membuat sedikit orang disekitarnya menoleh. “Ya ampun kau bisa berbicara lebih
pelan sedikit tidak? Kau tidak melihat beberapa orang melihat ke arah kita”
kata Sakura pelan namun dengan raut wajah yang terlihat panik.
“Sedang apa
kau disini?” tanyanya kembali. “Aku mau makan siang disini, tolong buatkan ku
menu spesial yang ada disini” ujar Noah santai.
“Baiklah, aku
kembali ke dapur dulu dan menyiapkan makan siang untukmu”. Senyum Noah pun
mengembang.
Sakura yang kembali ke dapur
langsung menuju chiller tempat
menyimpan sate lilit dan beberapa bahan makanan lainnya. Kemudian ia segera
masak menu makanan yang paling terkenal di restoran tersebut.
“Sudah ada
list pesanan yang masuk?” tanya Nienke. “Noah” sahutnya singkat.
“Sopan sekali
kau ini” jawab Nienke sambil berlalu. Namun Sakura menghiraukannya dan kembali
menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan dengan sigap.
20
menit kemudian makanan pun datang yang dibawakan oleh seorang pelayan ke meja
Noah. “Permisi pak” kata seorang pelayan sembari menurunkan satu per satu
piring yang berada diatas tray. Noah
terlihat bingung “Dimana Sakura? Aku memesannya makanan ini dengannya” ujar
Noah.
“Sakura saat
ini sedang berada di dapur menyiapkan beberapa makanan untuk para tamu yang
lain” jelasnya. “Ada beberapa orang didalam dapur itu?”
“Empat
orang”.. “Panggil ia suruh kemari” perintahnya.
“Kalian bisa
kan untuk mengatasi list pesanan yang ada kan?” tanya Noah. “Baik pak, akan
saya panggilkan Sakura” sahut pelayan tersebut lalu berjalan ke arah dapur.
Sakura
yang mengetahui bahwa dirinya dipanggil oleh Noah segera melepaskan celemek
yang sedang dipakai dibadannya itu.
“Ada apa
Noah?” tanyanya yang saat ini berdiri dihadapan Noah. “Hai, duduklah”
perintahnya dengan menunjuk kursi yang berada dihadapannya.
“Tidak bisa,
aku sedang banyak pesanan” elak Sakura yang masih berdiri. “Sebentar saja”
ujarnya yang terdengar sedikit memaksa. Sakura menuruti perintahnya kemudian
duduk dihadapannya itu, Sakura sedikit merasa malu pada rekan-rekan kerjanya
yang lain dikarenakan ia berada disana disaat situasi sedang ramai makan siang.
“Coba kau
jelaskan menu makanan apa yang kau berikan padaku?” tanya Noah sembari
mengambil salah satu menu makanan tersebut.
“Yang kau
ambil itu adalah lawar, berisi sayur seperti kacang panjang, nangka muda,
kelapa parut dan daging sapi. Namun untuk resep aslinya ia memakai buah pisang
batu, tetapi disini susah untuk mendapatkannya jadi tidak dipakai. Dan yang itu
namanya sate lilit, sate lilit terbuat dari daging ayam. Namun biasanya dipakai
daging babi, tetapi restoran ini mengandung unsur makanan halal jadi kami hanya
memakai daging ayam dan daging sapi. Makanan yang kau makan ini berasal dari
Bali dimana daerah tempatku berasal” jelas Sakura panjang lebar dan Noah hanya
mendengarkan sembari menyicipi satu per satu.
“Coba kau
makan dengan nasi, itu lebih nikmat” sarannya.
“Benarkah?”..
“Kau dapat rasakan sendiri, Noah”
“Bisakah aku
kembali ke dapur sekarang?”
“Tunggu
sampai aku melahap semua makanan ini Sakura” katanya. “Astaga, aku merasa sangat
tidak enak dengan teman-temanku didapur sana”
“Mereka akan
mengerti” sahutnya ringan. Sakura pun tidak bisa bertindak banyak ia hanya
duduk dan perhatikan Noah makan saja.
“Setelah ini
aku akan kembali ke kantor dan pulang sekitar pukul empat sore”
“Oh”...
“Apakah kau ingin ku jemput pas pulang kerja?”
“Tidak perlu,
aku akan pulang pukul tiga sore”
“Tunggu satu
jam saja, aku akan tidak lama. Mungkin aku akan pulang kantor pukul setengah
empat”
“Tadi kau
bilang pukul empat sore”
“Sudah itu
bisa diatur, kau tenang saja”.. “Apa katamu sajalah” tanda menyerah.
000
Langkah
kaki yang melangkah senada itu menyusuri area jembatan The Jordaan. Semilir
sejuk angin yang mulai terasa melalui celah-celah lengan baju yang dikenakan
oleh Sakura.
“Tidak terasa
seminggu lagi aku akan berangkat ke Paris” serunya dan mulai memperlambat
langkah kakinya. Sakura tertegun menangkap ucapan yang baru saja ia dengar.
“Apakah kau
akan kembali kesini lagi setelah pekerjaanmu telah usai nanti?” suaranya
sedikit terdengar sumbang. “Tentu saja, aku berusaha untuk mendapatkan kerja
disini lagi”.
Sakura
terlihat sedikit agak murung, seperti ia lupa akan kata-katanya bahwa ia akan
optimis akan hal ini.
“Kau dapat mengunjungiku di Paris
jika kau mau”. Sakura masih termenung mendengarnya.
“Sudah. Kau
jangan bersedih seperti ini, kita berjalan lagi lebih baik kurasa” tangan Noah
yang mulai menggenggam erat tangan Sakura mulai berjalan lunglai.
Banyak jejeran bangku permanen yang
terdapat di pinggir jalan setapak yang menghadap kanal tersebut. Banyak pula
barisan sepeda yang dapat disewa untuk mengelilingi area The Jordaan.
“Kau membawa
buku atau semacamnya?” tanya Noah yang duduk di salah satu bangku tersebut.
“Untuk apa?”
“Berikan saja
padaku, bolpoin juga jika kau punya” katanya dengan tersenyum hangat kepada
Sakura. Sakura pun merogoh tasnya dan mengambil semua barang yang dipinta oleh
Noah.
Noah mulai membuka lembaran buku
Sakura itu.. “Ini buku kampusmu?”
“Ya..”
sahutnya datar.
“Boleh aku
tuliskan sesuatu?” tanya Noah. Sakura mengangguk.
Sakura memperhatikan dengan seksama
melihat guratan yang terlihat diatas bukunya itu “Ku tuliskan namaku dan
namamu, kau jaga ini”. Sakura tetap tidak berkata apa-apa.
Tersadar
Sakura hanya meneteskan air mata “Kau kenapa menangis?” tanya Noah yang tiba-tiba
berhenti menulis. Sakura terkesiap mengusap air matanya dengan punggung
tangannya itu.
No comments:
Post a Comment