Ig - @FIDADIDO5

Saturday, 5 September 2020

SPRING TO FALL (BAB 20)

    Mata yang sudah disuguhkan oleh pemandangan beberapa alat dapur yang bergantungan pada rak dinding membuanya semakin tidak semangat untuk menjalani hari ini. 

“Kau terlihat tidak bersemangat untuk hari ini” celetuk Nienke yang saat ini berdiri tepat disampingnya. “Kurasa juga begitu” sahutnya dengan mata yang dipaksa untuk terbuka.

“Pesta?”.. “Bisa dibilang begitu, tetapi tidak benar-benar pesta” sembari diikuti melebarkan mulutnya. “Pantas.. pulang jam berapa kau semalam?” tanya Nienke.

“Tiga pagi”

“Astaga. Cuci wajah kusam mu itu sedikit lagi jam makan siang, restoran kita pasti akan ramai sekali” perintah Nienke yang sedang melap meja. Sakura pun pergi ke wastafel untuk membasuh wajahnya itu untuk menghilangkan rasa kantuk yang sangat-sangat menghantuinya.

“Sakura” salah seorang menepuk pundak Sakura tiba-tiba.

“Hmmm..”

“Ada pak Noah sedang mencarimu” ujarnya.

“Baiklah. Eh dimana ia sekarang?” tanyanya yang masih mengusap wajahnya dengan perlahan. “Meja nomor dua”

Sakura pun segera keluar dari dapur untuk menemui Noah. Sakura pun berjalan sedikit cepat.

“Hallo Noah, ada apa kau kesini?”

“Hai lieverd” sapanya dengan nada yang membuat sedikit orang disekitarnya menoleh. “Ya ampun kau bisa berbicara lebih pelan sedikit tidak? Kau tidak melihat beberapa orang melihat ke arah kita” kata Sakura pelan namun dengan raut wajah yang terlihat panik.

“Sedang apa kau disini?” tanyanya kembali. “Aku mau makan siang disini, tolong buatkan ku menu spesial yang ada disini” ujar Noah santai.

“Baiklah, aku kembali ke dapur dulu dan menyiapkan makan siang untukmu”. Senyum Noah pun mengembang.

 

            Sakura yang kembali ke dapur langsung menuju chiller tempat menyimpan sate lilit dan beberapa bahan makanan lainnya. Kemudian ia segera masak menu makanan yang paling terkenal di restoran tersebut.

“Sudah ada list pesanan yang masuk?” tanya Nienke. “Noah” sahutnya singkat.

“Sopan sekali kau ini” jawab Nienke sambil berlalu. Namun Sakura menghiraukannya dan kembali menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan dengan sigap.

20 menit kemudian makanan pun datang yang dibawakan oleh seorang pelayan ke meja Noah. “Permisi pak” kata seorang pelayan sembari menurunkan satu per satu piring yang berada diatas tray. Noah terlihat bingung “Dimana Sakura? Aku memesannya makanan ini dengannya” ujar Noah.

“Sakura saat ini sedang berada di dapur menyiapkan beberapa makanan untuk para tamu yang lain” jelasnya. “Ada beberapa orang didalam dapur itu?”

“Empat orang”.. “Panggil ia suruh kemari” perintahnya.

“Kalian bisa kan untuk mengatasi list pesanan yang ada kan?” tanya Noah. “Baik pak, akan saya panggilkan Sakura” sahut pelayan tersebut lalu berjalan ke arah dapur.

Sakura yang mengetahui bahwa dirinya dipanggil oleh Noah segera melepaskan celemek yang sedang dipakai dibadannya itu.

“Ada apa Noah?” tanyanya yang saat ini berdiri dihadapan Noah. “Hai, duduklah” perintahnya dengan menunjuk kursi yang berada dihadapannya.

“Tidak bisa, aku sedang banyak pesanan” elak Sakura yang masih berdiri. “Sebentar saja” ujarnya yang terdengar sedikit memaksa. Sakura menuruti perintahnya kemudian duduk dihadapannya itu, Sakura sedikit merasa malu pada rekan-rekan kerjanya yang lain dikarenakan ia berada disana disaat situasi sedang ramai makan siang.

“Coba kau jelaskan menu makanan apa yang kau berikan padaku?” tanya Noah sembari mengambil salah satu menu makanan tersebut.

“Yang kau ambil itu adalah lawar, berisi sayur seperti kacang panjang, nangka muda, kelapa parut dan daging sapi. Namun untuk resep aslinya ia memakai buah pisang batu, tetapi disini susah untuk mendapatkannya jadi tidak dipakai. Dan yang itu namanya sate lilit, sate lilit terbuat dari daging ayam. Namun biasanya dipakai daging babi, tetapi restoran ini mengandung unsur makanan halal jadi kami hanya memakai daging ayam dan daging sapi. Makanan yang kau makan ini berasal dari Bali dimana daerah tempatku berasal” jelas Sakura panjang lebar dan Noah hanya mendengarkan sembari menyicipi satu per satu.

“Coba kau makan dengan nasi, itu lebih nikmat” sarannya.

“Benarkah?”.. “Kau dapat rasakan sendiri, Noah”

“Bisakah aku kembali ke dapur sekarang?”

“Tunggu sampai aku melahap semua makanan ini Sakura” katanya. “Astaga, aku merasa sangat tidak enak dengan teman-temanku didapur sana”

“Mereka akan mengerti” sahutnya ringan. Sakura pun tidak bisa bertindak banyak ia hanya duduk dan perhatikan Noah makan saja.

“Setelah ini aku akan kembali ke kantor dan pulang sekitar pukul empat sore”

“Oh”... “Apakah kau ingin ku jemput pas pulang kerja?”

“Tidak perlu, aku akan pulang pukul tiga sore”

“Tunggu satu jam saja, aku akan tidak lama. Mungkin aku akan pulang kantor pukul setengah empat”

“Tadi kau bilang pukul empat sore”

“Sudah itu bisa diatur, kau tenang saja”.. “Apa katamu sajalah” tanda menyerah.

000

Langkah kaki yang melangkah senada itu menyusuri area jembatan The Jordaan. Semilir sejuk angin yang mulai terasa melalui celah-celah lengan baju yang dikenakan oleh Sakura.

“Tidak terasa seminggu lagi aku akan berangkat ke Paris” serunya dan mulai memperlambat langkah kakinya. Sakura tertegun menangkap ucapan yang baru saja ia dengar.

“Apakah kau akan kembali kesini lagi setelah pekerjaanmu telah usai nanti?” suaranya sedikit terdengar sumbang. “Tentu saja, aku berusaha untuk mendapatkan kerja disini lagi”.

Sakura terlihat sedikit agak murung, seperti ia lupa akan kata-katanya bahwa ia akan optimis akan hal ini.

            “Kau dapat mengunjungiku di Paris jika kau mau”. Sakura masih termenung mendengarnya.

“Sudah. Kau jangan bersedih seperti ini, kita berjalan lagi lebih baik kurasa” tangan Noah yang mulai menggenggam erat tangan Sakura mulai berjalan lunglai.

            Banyak jejeran bangku permanen yang terdapat di pinggir jalan setapak yang menghadap kanal tersebut. Banyak pula barisan sepeda yang dapat disewa untuk mengelilingi area The Jordaan.

“Kau membawa buku atau semacamnya?” tanya Noah yang duduk di salah satu bangku tersebut. “Untuk apa?”

“Berikan saja padaku, bolpoin juga jika kau punya” katanya dengan tersenyum hangat kepada Sakura. Sakura pun merogoh tasnya dan mengambil semua barang yang dipinta oleh Noah.

            Noah mulai membuka lembaran buku Sakura itu.. “Ini buku kampusmu?”

“Ya..” sahutnya datar.

“Boleh aku tuliskan sesuatu?” tanya Noah. Sakura mengangguk.

            Sakura memperhatikan dengan seksama melihat guratan yang terlihat diatas bukunya itu “Ku tuliskan namaku dan namamu, kau jaga ini”. Sakura tetap tidak berkata apa-apa.

Tersadar Sakura hanya meneteskan air mata “Kau kenapa menangis?” tanya Noah yang tiba-tiba berhenti menulis. Sakura terkesiap mengusap air matanya dengan punggung tangannya itu.

            “Lihat aku” terucap nada rendah dari bibir Noah. “Kau menangis?” seru Sakura

No comments:

Post a Comment

Bieber'n

Bieber'n