Ig - @FIDADIDO5

Saturday, 25 April 2020

SPRING TO FALL (BAB 8)



Bersantai dengan duduk di sofa ruang tengah sembari makan roti isi yang mereka beli tadi.
Beli roti isi ini dimana?” Tanya abel yang baru saja turun dari kamarnya.
“Beli di toko dekat rumah sakit” jawab Sakura yang masih mengunyah.
“Oh.. ya sudah kalau begitu, aku turun hanya menanyakan dimana kau beli roti isi ini.. dah!” kata abel sambil terkekeh dan langsung pergi.
“Kau hanya menanyakan itu? Astaga” jawab Sakura heran. “Maaf ya Noah, ia memang seperti itu” katanya pada Noah.
“Kelakuan dia denganmu, aku rasa tidak ada bedanya” ujar Noah sambil melirik Sakura dengan nada bercanda.
“Tidak ada bedanya bagaimana?” Tanya Sakura.
“Ya sama-sama tidak jelas” Noah terkekeh.
“huh enak saja!” timpalnya kesal. Dan Noah hanya tersenyum melihat raut wajah Sakura yang jengkel.
Noah yang kemudian mengambil remote tv lalu menyalakan tv tersebut, kemudian menekan tombol untuk mengganti program acara tv yang ia inginkan sembari menyesap kopi panasnya. Sedangkan Sakura yang sedang duduk bersandar sambil meluruskan kakinya sedang asyik mengunyah rotinya dan bermain ponselnya.
Ternyata ia sedang berbalas pesan dengan Alexander. Terlihat senyum-senyum sendiri dan Noah sesekali memperhatikan gerak-gerik Sakura. Sedang berkirim pesan pada siapa anak ini? Kelihatannya senang sekali. Apa laki-laki yang bernama Alexander itu?” tanyanya dalam hati.
Apa ia tidak tau kalau Sakura sedang bersamaku saat ini? Kenapa ia harus menghubungi Sakura? Bukannya ia kemarin baru saja bertemu? Peduli sekali laki-laki itu dengannya. Teman tapi seperti lebih dari seorang teman” gumamnya jengkel.
Tetapi Noah berusaha tidak terlihat kesal saat Sakura melihat ke arahnya. Ia berusaha fokus menonton acara di tv tersebut dan sesekali menyesap kopinya.
“Noah aku ke kamar dulu ya sebentar” katanya tiba-tiba, sambil membawa ponselnya, ia berlari kecil.
“Iya” jawab Noah singkat.
Mau apa anak itu? Tiba-tiba izin masuk kamar dan sambil membawa ponselnya? Aneh sekali. Atau jangan-jangan memang mereka sudah menjadi pasangan kekasih? Hmm ah tidak-tidak! Mereka hanya teman biasa semenjak SMA dulu. Tapi kenapa aku seperti ini? Ada apa dengan diriku sekarang-sekarang ini?” Ujarnya.
Sakura yang masuk ke kamarnya dan duduk bersandar diatas ranjangnya, ternyata sedang asyik mengobrol lewat ponselnya.
Sakura bagaimana keadaanmu” kata Alexander di dalam telepon.
“Sudah lumayan membaik Lex, tadi sore baru saja ke dokter” jawabnya.
“Oh baguslah, kau pergi ke dokter ditemani Abel?” Tanya Alexander.
“Tidak, aku kesana ditemani Noah” sahut Sakura.
“Noah itu siapa? Kekasih barumu ya?” Tanyanya menggoda.
“Enak saja, dia rekan kerjanya Lenard” jelas Sakura.
“Oh, tetapi kenapa ia peduli sekali denganmu? Memangnya kau sudah kenal lama dengannya?” Tanya Alexander penasaran.
“Hmm baru beberapa pekan belakangan ini” jawabnya memikir. “Aku juga tidak tau, kenapa ia peduli sekali padaku akhir-akhir ini” jelasnya pada Alexander dengan nada heran.
“Sepertinya ia ada rasa padamu” kata Alexander.
“Rasa apa? Manis?” ejek Sakura. Sudah tiga orang yang berkata seperti itu, Lenard, Abel dan sekarang kau Alexander. Aku pikir seperti itu tetapi ia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, apalagi mengenai perasaan. Kalau boleh jujur sebenarnya aku masih mengharapkanmu Lex. Aku tidak tau bisa selama ini aku menunggu sahabatku sendiri. Tetapi kau tidak pernah tau apa yang selama ini aku rasakan padamu. Kalau aku jujur, aku takut kau menjauh. Aku takut kita tidak bisa bersahabat seperti dulu lagi, bahkan seperti sekarang. Telepon sampai larut malam, jalan-jalan berdua, main gitar, dan banyak hal lagi. Aku takut semuanya berubah kalau aku jujur pada perasaan ini” gumamnya dalam hati dengan keadaan terdiam dan menatap kosong ke dinding kamarnya yang saat ini berada pada satu garis lurus.
“Ra? Apakah kau baik-baik saja?” Kata Alexander tiba-tiba membuyarkan lamunan Sakura.
“Eh..eh, maaf tadi tiba-tiba aku tertidur” jawabnya berbohong.
“Ada-ada saja Sakura ini, dari dulu kau seperti ini” jawab Alexander sambil tertawa.
“Iya maaf.. maaf” jawabnya.
Terlalu asyik mengobrol Sakura hampir lupa kalau ia sedang meninggalkan Noah diruang tengah. Kemudian Sakura izin mengakhiri obrolannya bersama Alexander dengan alasan ingin tidur karena masih terasa sakit di bagian keningnya.
Lalu Sakura beranjak dari ranjangnya dan pergi ke ruang tengah.


Melihat Noah yang masih asyik menonton tv, kemudian Sakura duduk tepat disamping Noah.
“Maaf, lama menunggu. Aku baru selesai mengangkat telepon dari teman lamaku” katanya biasa saja.
“Iya, tidak apa-apa” jawabnya singkat dan pura-pura tidak tau apa-apa.
“Oh iya, kau bermalam disini saja” kata Sakura. “Kau bisa tidur di kamar tamu seperti kemarin” sambungnya.
“Tidak perlu repot-repot, aku pulang saja nanti” jawab Noah menolak.
“Ini sudah malam, sudah kau disini saja. Lagipula kau juga lelah tadi pulang kerja terus mengantarkanku ke dokter” katanya memohon.
“Baiklah, kalau kau memaksa” jawab Noah sekali lagi. “Oh iya, kalau kau mengantuk, tidur duluan saja, biar aku disini sendiri” kata Noah.
“Tidak aku belum mengantuk, lagipula aku juga belum minum obat” kata Sakura.
“Oh iya kau minum obat dulu sana. Hmm atau biar aku saja yang mengambilkan kau air.. tunggu disini sebentar ya” kata Noah sambil beranjak dari sofa kemudian berjalan kearah dapur.
“Eh kau tidak perlu repot-repot seperti ini” kata Sakura dengan nada sedikit keras tetapi dihiraukan oleh Noah.
Kemudian Noah datang membawa segelas air putih dan memberikannya kepada Sakura.
“Cepat minum obatnya, kalau tidak kepalamu sakit lagi” perintahnya.
“Iya” jawabnya singkat. Lalu Noah duduk di samping Sakura dan menghadap ke arahnya dan mengamati Sakura yang sedang meminum obat.
Ada dua buah obat yang diberi oleh dokter sekaligus untuk Sakura, satu obat minum untuk penghilang rasa nyeri dan satu lagi berbentuk krim yang harus di oleskan pada keningnya yang memar tersebut agar tidak membengkak dan tidak memerah lagi.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Sakura.
“Hanya memastikan kau minum obat itu dengan benar” jawab Noah tegas.
“Memangnya aku anak kecil yang harus kau pantau ketika minum obat?” Tanya Sakura sambil menatap Noah.
“Mana obat krim mu? Sini berikan padaku” perintah Noah sambil menjulurkan tangan.
“Untuk apa?” Tanyanya sambil mengambil bungkusan plastik yang di dalamnya berisi obat krim tersebut.
“Sini biar aku saja yang memakaikan krim itu” katanya.
“Aku bisa sendiri” jawab Sakura.
“Sudah. Sini berikan padaku” perintahnya sekali lagi. Kemudian Sakura menurut dan memberikan obat krim tersebut kepada Noah. “Kalau kau yang pakai sendiri, kau tidak dapat melihat bagian mana yang memar” kata Noah sambil mengoleskan krim tersebut di kening Sakura.
“Tapi kan aku bisa merasakan bagian mana yang sakit pada keningku” jawab Sakura sambil menatap tangan Noah yang sedang berada dikeningnya.
“Kau memang bisa merasakannya. Tetapi kau tidak tau kan seberapa besar memar yang ada pada keningmu ini?” tanyanya.
“Sudah turunkan tanganmu ini. Aku pikir sudah rata semua krimnya pada memarku” katanya sambil memukul tangan Noah.
“Sebentar lagi. Kan sudah ku bilang memar merah mu tidak hanya ada pada satu bagian saja” jelasnya. “Kau ini sudah dibantu bukannya terima kasih, malah marah-marah seperti ini” ujarnya dengan nada serius tetapi maksud hati ingin bercanda.
“Oh iya maaf meester Noah van Jasper. bedankt!” Jawab Sakura jengkel tetapi berusaha mengembangkan senyum ke arah Noah.
“Seperti itukan lebih baik” sambil menutup krim tersebut. “Sudah kau jangan banyak bicara, nanti sakit lagi keningmu itu” kata Noah.
“Iya iya” jawabnya melemah.
Kemudian Noah kembali menonton tv dan begitupun dengan Sakura. Diam tanpa membuka suara sedikitpun hanya terdengar suara orang yang mengobrol di tv tersebut. Mereka berdua memang benar-benar sedang mengamati topik pembicaraan yang ada pada acara tersebut.



Tiga puluh menit kemudian Noah membuka obrolan “Aku rasa besok kau tidak perlu pergi ke restoran dulu” katanya tetapi tetap menatap layar tv.
“Memangnya kenapa?” Tanyanya heran.
“Kau masih sakit, lihat saja keningmu. Kalau kau kerja, keningmu itu mau terkena pan?” ejek Noah.
“Huh enak saja, masa iya pan akan mengenai keningku?”
Bisa saja. Rekan kerjamu yang lebih tinggi dari tinggi badanmu saat membawa pan panas, tiba-tiba kau berada dihadapannya. Bagaimana?” jelas Noah meledek.
“Tapi bagaimana dengan yang lain? Mereka pasti membutuhkan bantuan ku. Lagipula aku tidak enak pada mereka” kata Sakura bingung.
“Sudah, biar aku yang katakan ke restoran besok pagi bahwa kau tidak bisa masuk dikarenakan sakit. Atau perlu aku telepon sekarang atasan mu itu” ujar Noah.
“Tidak, tidak perlu seperti itu Noah. Aku tidak mau mereka berpikir yang tidak-tidak padamu” kata Sakura menolak.
“Berpikir yang tidak-tidak bagaimana?” Tanyanya heran.
“Iya, kau ini pemilik baru restoran itu dan aku hanya pegawai dapur restoran itu. Bagaimana pikiran mereka kalau aku bisa dekat denganmu?” Jelas Sakura.
“Ya memangnya salah? Kalau aku mengizinkanmu untuk tidak masuk besok? Aku kan hanya memberitahu pada atasanmu kalau kau sedang sakit” ujar Noah.
“Ya memang tidak ada yang salah. Hanya saja aku tidak enak pada mereka dan terutama kau. Aku takut kau jadi topik perbincangan mereka. Sudah biar aku saja yang menghubungi Nienke, kalau besok aku tidak bisa masuk” kata Sakura.
“Baiklah kalau itu maumu” kata Noah menyerah.
Sakura mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Nienke bahwa besok ia tidak bisa masuk kerja dikarenakan sakit.
Lalu Sakura terlihat mengantuk mungkin karena efek samping obat yang ia minum tadi.
“Noah, aku mengantuk sekali. Kalau kau ingin tidur, bangunkan ku saja nanti ya?” Kata Sakura sembari menguap lebar.
“Kau mau tidur di sofa dulu? Kenapa tidak langsung ke kamar saja?” Tanya Noah.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menemanimu disini melihat siaran tv” sahutnya sambil mengatur posisi tidurnya.
“Ya sudah kalau begitu. Kau tidur saja disini. Luruskan kakimu, biar aku pindah ke sofa sebelah sini” perintahnya.
“Terima kasih banyak Noah” katanya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Sakura sudah terlelap. “Cepat sekali reaksi obat ini” Kata Noah pelan.
Drrtt..drrrtt selang beberapa menit tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Kemudian ada nama yang masuk di layar ponselnya “Alexander?” Kata Noah berusaha membaca pesan yang ada pada pemberitahuan tersebut. “Tidur yang nyenyak Sakura, mimpi indah, selamat malam” pesan tersebut tertera.
“Apa maksudnya orang ini? Memangnya tadi pas ia telepon tidak mengucapkan itu? Bodoh!” gumamnya kesal. “Bikin emosi saja malam-malam begini” gumamnya. “Ohiya aku masukan saja nomorku di kontaknya Sakura. Aku kan belum pernah bertukaran nomor telepon dengannya” kemudian ia mengambil ponsel Sakura dan mengetikkan nomornya, kemudian ia mencoba miss call ke ponselnya dan ternyata masuk panggilan dari Sakura.
Sesekali ia menatap wajah Sakura yang sedang tertidur pulas. Ia bingung apa yang harus ia lakukan pada Sakura soal perasaannya terhadap Sakura. Kalau ia ingin memulai, ia sendiri pun takut berkomitmen. Jika tidak, ia akan kehilangan orang yang ia sayangi. “Sudahlah aku tidak ingin memikirkan ini dulu. Tidak ada habisnya kalau aku saja masih bingung” pikirnya.
Lalu Noah pergi ke kamar tamu untuk mengambil selimut dan bantal. Lalu ia menyelimuti Sakura dan memberinya bantal. Kemudian ia tidur di kursi samping Sakura tidur. Ia tidak berani membangunkan Sakura yang sudah tertidur pulas, tidak tega lebih tepatnya. Dan ia akhirnya memutuskan untuk tidur di ruang tengah untuk menemani Sakura.




Bersambung...

Friday, 24 April 2020

SPRING TO FALL (BAB 7)



Kasihan aku melihat Sakura” kata Lenard tiba-tiba.
Ada apa memang dengan dirinya?” sahut Noah sambil mengetuk-ngetuk bolpoin ke dagunya.
Keningnya terbentur dinding” jawabnya. Kemudian Noah tertawa pelan “Ada-ada saja yang dibuat anak itu”.
Entahlah, aku juga heran dengannya. Tetapi keadaannya memprihatinkan, ia tidak mau dibawa ke dokter. Ia hanya ingin di kompres saja” ujar Lenard.
Bagaimana mau cepat sembuh kalau ia tidak mau pergi ke dokter, sudah biar aku saja yang membawanya” kata Noah.
Paling juga tidak mau, aku saja sahabatnya tidak di dengar apalagi kau” jawab Lenard kesal.
Lihat saja nanti” katanya menantang.
            Kemudian Noah beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah jendela besar yang berada di belakangnya dan berdiri menghadap ke arah jalan raya sembari memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Dan Lenard yang berada diruangan Noah hanya duduk di sofa hitam panjang sembari menyilangkan kaki dan membaca koran.
            Tepat pukul tiga lewat tiga puluh sore hari. Waktunya coffee break, para karyawan biasanya beristirahat sebentar sambil memejamkan mata, minum kopi atau teh dan meregangkan otot-otot seluruhnya.
Permisi tuan, apakah anda ingin kopi atau teh?” tanya office boy.
Kopi saja” jawab Lenard, “Kau mau apa?” sambungnya.
Teh” jawabnya singkat.
Baiklah, permisi tuan” kata office boy sambil menutup pintu.
Kemudian Noah berbalik badan dan berjalan kearah Lenard. “Nard, apakah proyek yang berada di Perancis kau akan ikut juga denganku?”
Iya aku juga akan ikut mengurus proyek disana, tetapi tidak seutuhnya. Bos hanya meminta kau untuk turut serta sepenuhnya bukan?” Tanya Lenard sambil menutup koran dan menaruhnya di meja.
Katanya sih begitu, aku pikir selain ku ada lagi yang membantuku mengurus semuanya” ujarnya.
Membantumu hanya sebentar saja” sahutnya.
Sudah lima kali aku selalu di tugaskan diluar negeri dan itu dalam kurun waktu yang cukup lama. Aku baru benar-benar di perusahaan yang berada disini kira-kira dua bulanan” katanya.
Kau harus bersyukur, bos mempercayai kerjamu” ujar Lenard sambil memegang bahu Noah.
Iya, aku tahu itu” sahutnya. “Tetapi aku rindu dengan negaraku” sambungnya melemah.
Ya sudah sabar, ini tuntutan pekerjaan dan kau tidak mungkin menolaknya” kata Lenard.
Kemudian Noah merenung akan hal itu, tiba-tiba ia terpikir oleh Sakura. Bagaimana kalau aku pergi ke Perancis? Bagaimana dengan wanita itu? Aku bingung dengan semua ini. Ia baru saja dekat dengan seorang wanita yang bisa membuatnya nyaman. Tetapi disisi lain ia harus pergi tidak lama lagi meninggalkan negara ini karena urusan pekerjaan. Ia takut untuk memulai suatu hubungan, karena resikonya ia akan berhubungan jarak jauh.
            Tetapi disisi lain, ia sangat menginginkan wanita tersebut. Dan ingin menjaga dirinya. Tapi ia terus berpikir, apakah ia bisa memulainya dan akhirnya meninggalkan wanita tersebut dengan satu alasan pekerjaan? Meninggalkan bukan berarti mengakhiri hubungan tersebut, tetapi memulai suatu hubungan yang baru dengan jarak .


Apakah kau mau donat?” tanya Lenard.
Donat?” tanya Noah.
Iya, kalau kau mau biar ku pesankan sekarang. Lumayan buat teman minum teh mu itu” ujar Lenard.
Aku rasa itu pilihan yang tepat” katanya mengiyakan.
Baiklah” sahutnya sambil mengambil ponselnya dan menelepon toko donat.
            Noah melambai-lambaikan tangan dan berbisik “Aku pesan satu box”. “Untuk apa?” kata Lenard berbisik.
“Sakura” jawabnya singkat.


            Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Setibanya di depan rumah Sakura, Lenard membuka pintu rumah dan mempersilakan Noah untuk masuk sembari membawa donat untuk Sakura. Kemudian mereka berdua berjalan menghampiri kamar Sakura dan Lenard mengetuk pintu kamar Sakura izin untuk masuk.
Masuk” teriak dari dalam kamar.
            Kemudian Lenard membuka pintu kamar dan masuk kemudian disusul oleh Noah. Sakura sedang memejamkan matanya dan dengan kompresan handuk yang membalut kepalanya.
Hai Ra” sapa Noah. Sontak Sakura membuka matanya dan melihat ke arah Noah “Hai Noah”. Kemudian Noah duduk di kursi yang berada tepat disebelah ranjang Sakura.
Katanya kau sedang sakit, ini aku bawakan donat untukmu. Kau makan ya donat ini” kata Noah sambil menunjukkan box donat.
Iya terima kasih Noah, maaf kalau merepotkan” jawab Sakura lemah.
Tidak, apakah kau sudah minum obat?” Tanya Noah.
Bagaimana kau ini Noah, sudah ku bilang tadi. Ia saja tidak mau pergi ke dokter” cetus Lenard.
Apa kau?” sahut Sakura agak kesal.
Kenapa kau tidak mau pergi ke dokter? Kau takut ya?” Tanya Noah bercanda.
Iya, ia memang takut sama dokter” sambung Lenard sekali lagi.
Eh tidak” bantahnya.
Ya sudah, kau bangun ya. Makan donat ini, setelah itu kita pergi ke dokter. Aku yang akan mengantarmu” perintah Noah.
Tapikan..” Sakura menyelak.
Tidak ada bantahan ya, lihat saja keningmu semakin memburuk. Sekarang aku suapin kamu donat ini, ayo harus nurut” perintah Noah sekali lagi.
Sudah ikuti saja, demi kebaikanmu juga” ujar Lenard.
Kemudian Noah mengambil satu donat dan menyuapi Sakura dengan pelan-pelan dan Sakura menuruti sembari bersandar di sandaran tempat tidurnya itu. Kemudian Lenard keluar untuk mengambilkan minum untuk Sakura.
            Sakura melihat Noah begitu tulus sekali menyuapininya. Aku tidak ingin terjebak pada dua hati sekaligus. Aku juga tidak boleh berharap lebih pada orang ini. Aku takut hal yang sama seperti Alexander. Jatuh cinta sendirian.
            Sakura kenapa kau begitu damai? Kau mempunyai hati yang tulus dan mata yang benar-benar jujur ujar Noah dalam hati. Apakah aku sanggup untuk membuat hatinya terluka suatu saat nanti? Disisi lain aku juga ingin melupakan masa laluku, yang seenaknya meninggalkan diriku yang sedang mencintai dirinya saat itu dengan alasan tidak bisa berhubungan jarak jauh”.
            Dan suatu saat aku akan meninggalkan Sakura untuk tugas keluar negeri. Tapi aku akan tetap menjaga hubungan ini, karena aku belajar dari masa lalu”.
Tiba-tiba Lenard menjulurkan gelas yang berisi air ke Sakura “Ini minum dulu”. Kemudian Sakura mengambil kemudian meminumnya.
Apakah kau mau donatnya lagi?” Tanya Noah.
Tidak Noah, aku sudah kenyang. Sekarang aku mau mengganti baju kemudian kita pergi ke dokter” kata Sakura sambil menaruh gelas di meja samping ranjangnya.
Baiklah, aku tunggu diruang tamu ya” kata Noah sambil berdiri.
Iya” sahutnya.
            Lenard yang berjalan di depannya menoleh ke arahnya “Kau pakai sihir apa? Bagaimana bisa tiba-tiba is bisa nurut padamu”.
Itulah aku” jawabnya santai.
Sombong sekali kau, ah tapi tidak apa-apa. Akhirnya ia mau pergi ke dokter juga, setelah aku, Charlotte dan Alexander berusaha menyuruhnya tapi ia tidak mau juga” ujar Lenard sambil duduk di sofa.
“Alexander?” Tanyanya penasaran.
Iya, ia teman satu sekolah Sakura di Indonesia dulu” jelas Lenard.
Oh begitu. Apakah mereka sangat dekat?” tanyanya sekali lagi.
Mereka memang bersahabat semenjak sekolah dulu” jelasnya.
Hmm” gumam Noah.
Memangnya kenapa? Kau cemburu ya dengannya? Bertemu saja belum dengan lelaki itu, Sakura juga bukan kekasihmu” ledek Lenard.
Sudah” jawab Noah.
Sudah apa?! Kau sudah mengutarakan isi hatimu? Jadi kau benar-benar suka pada Sakura? Wah tidak menyangka” kata Lenard terheran-heran.
Kau bicara apa? Ada-ada saja” balasnya.
Itu tadi kau bilang sudah, ya sudah apa?” tanyanya penasaran.
Sudahlah lupakan, tidak penting juga” jawabnya menghindar.
Tak lama kemudian Sakura keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk pergi. Lalu ia berjalan ke ruang tamu menghampiri Noah, bahwa ia sudah siap untuk ke dokter. Lalu Noah melihatnya dan langsung berdiri.
Hati-hati kalian di jalan, terutama kau Sakura harus pakai sabuk pengaman. Nanti tiba-tiba Noah menginjak pedal rem mendadak kena lagi keningmu itu” kata Lenard sambil terkekeh, begitupun dengan Noah. Sakura hanya melirik kearah Lenard dengan lirikan sinis.
Awas kau!” sahutnya ketus.
Ya sudah kami pergi dulu Nard” kata Noah sambil memegang pinggang Sakura, maksud untuk menuntun Sakura ke dalam mobil tetapi yang ada dalam pikiran Sakura berbeda.


            Setelah diperiksa oleh dokter, Sakura dan Noah keluar dari ruangan tersebut. Mereka berjalan menuju apotek yang berada di lantai dasar. Kemudian Sakura duduk di bangku ruang tunggu sedangkan Noah mengambil semua obat Sakura di apotek.
Kau tunggu disini saja, biar aku yang mengambil obatmu” katanya sambil mendudukkan Sakura. Dan Sakura hanya menganggukan kepala.
Selagi Noah mengambil obatnya, Sakura hanya duduk terdiam sembari menyandarkan kepalanya. Dan matanya hanya melihat orang-orang berjalan di depannya. Dengan keadaan lesu ia tak dapat berbuat banyak.
            Tak lama kemudian Noah datang dengan membawa obatnya, kemudian ia duduk disebelah Sakura.
Apakah kau mau makan diluar?” Tanyanya.
Mau makan dimana?” Tanya Sakura.
Apakah kau ingin roti isi di restoran dekat sini?” menatap Sakura dekat.
Baiklah, kita pergi kesana saja” ujarnya.
Kemarikan tanganmu, biar ku gandeng agar kau tidak jatuh” melihat keadaan Sakura yang  diperban bagian kepalanya, Noah merangkul bahu Sakura agar tidak hilang keseimbangan. Kemudian mereka berjalan menuju pintu keluar ke arah parkiran.
            Sesampainya di depan mobil, Noah membukakan pintu untuk Sakura dan mendudukkannya.
Kemudian Noah menutup dan berjalan kearah pintu sebelahnya,  kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


            Sepuluh menit kemudian sampai di toko yang menjual roti isi tersebut.
“Noah.. sepertinya dibawa pulang saja roti isinya. Kasihan juga Lenard, Abel sama bibi pasti belum makan malam” kata Sakura.
Baiklah..” jawab Noah. “Kau mau pesan apa saja?” tanya Noah.
Apa ya? Aku bingung” katanya sambil melihat menu yang terpampang pada layar dinding.
Hmm.. bagaimana kalau roti isi daging sapi lima porsi, kentang goreng 5 porsi yang besar, sama krim sup?” Tanya Noah.
Boleh” jawab Sakura singkat. “Oh iya kali ini aku yang bayar semuanya ya” sambungnya.
Lho kenapa begitu? Kan aku yang mengajakmu kesini” kata Noah sambil melihat kearah Sakura.
Tapi kan kau sering sekali membelikanku sesuatu, seperti kemarin yang di Bloemnmarket, kau membelikan semua yang aku butuhkan” celotehnya tanpa menatap Noah.
Sudah tidak apa-apa, biar aku saja yang bertanggung jawab membayar semua ini” jelasnya sambil membayar ke kasir.   
            Kemudian mereka berjalan menuju pintu keluar.
“Kenapa kau begitu baik padaku?” Tanya Sakura heran. Tetapi Noah tidak langsung menjawab apa yang Sakura tanyakan. Ia hanya sibuk membawa kantung yang berisi makanan dan berjalan cepat dengan tatapan lurus kedepan.
“Noah pelan-pelan.. kepalaku masih terasa sakit” kata Sakura yang berjalan cepat karena mengikuti langkah kaki Noah.
Kemudian Noah menoleh kearahnya “Maaf Ra.. terlalu cepat ya langkah kaki ku?”
Jawabnya dengan sedikit mengelak pertanyaan.
“Kau belum jawab pertanyaanku” kata Sakura sedikit kesal.
“Pertanyaan yang mana?” Tanya Noah pura-pura tidak tau.
“Kau ini memang tidak tau apa pura-pura tidak dengar?” Katanya tambah kesal.
“Aku benar-benar tidak tau, mungkin memang tidak dengar karena aku jalan terlalu cepat dan angin yang begitu kencang” elaknya.
“Pertanyaanku, kenapa kau begitu baik padaku?” tanyanya mencoba dengan nada pelan.
“Hmm.. karena” jawabnya ragu.
“Karena apa?!” Sakura Penasaran.
“Ya.. karena kau sahabatnya Lenard” jawab Noah.
“Oh” jawabnya singkat. Apakah iya, dia baik padaku dengan alasan aku teman baiknya Lenard? Apa mungkin alasan seperti itu masuk di akal? Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu hal. Lho tapi apa urusannya denganku kalau ia mau berbohong atau tidak? Peduli sekali aku padanya” sembari melirik ke arah Noah dengan seksama.
Harus bagaimana aku ini? Terlihat gugup sekali berkata di depannya. Noah kenapa kau jadi seperti ini gumamnya dalam hati. Kalau kau memang tidak ada perasaan seharusnya jantung ini tidak berdegup sehebat ini katanya pada diri sendiri. Ah apakah aku memang ada rasa dengannya? Kenapa aku selalu menanyakan hal ini? Selalu berulang-ulang pertanyaan ku. Tetapi belum ada jawaban yang pas. Sudahlah Noah jangan pikirkan itu sekarang, kau sedang bersamanya, jangan sampai kau membuatnya curiga dengan tingkah lakumu yang aneh” kata Noah dalam hati.
“Hei kenapa kau melamun seperti itu?” Tanya Sakura yang sudah berada depan pintu mobil sejak tadi.
Apakah iya aku melamun? Oh iya sampai lupa buka pintunya” katanya sambil mecoba mengambil kunci mobil yang berada di saku celananya.
“Ya ampun kau masih melamun ternyata” ujarnya sambil mengamati.“Ah tidak” sahut Noah. “Ya sudah kau masuk duluan saja, biar aku taruh makanan ini di kursi belakang” sambungnya.




Bersambung...

Bieber'n

Bieber'n