Ig - @FIDADIDO5

Saturday, 25 April 2020

SPRING TO FALL (BAB 8)



Bersantai dengan duduk di sofa ruang tengah sembari makan roti isi yang mereka beli tadi.
Beli roti isi ini dimana?” Tanya abel yang baru saja turun dari kamarnya.
“Beli di toko dekat rumah sakit” jawab Sakura yang masih mengunyah.
“Oh.. ya sudah kalau begitu, aku turun hanya menanyakan dimana kau beli roti isi ini.. dah!” kata abel sambil terkekeh dan langsung pergi.
“Kau hanya menanyakan itu? Astaga” jawab Sakura heran. “Maaf ya Noah, ia memang seperti itu” katanya pada Noah.
“Kelakuan dia denganmu, aku rasa tidak ada bedanya” ujar Noah sambil melirik Sakura dengan nada bercanda.
“Tidak ada bedanya bagaimana?” Tanya Sakura.
“Ya sama-sama tidak jelas” Noah terkekeh.
“huh enak saja!” timpalnya kesal. Dan Noah hanya tersenyum melihat raut wajah Sakura yang jengkel.
Noah yang kemudian mengambil remote tv lalu menyalakan tv tersebut, kemudian menekan tombol untuk mengganti program acara tv yang ia inginkan sembari menyesap kopi panasnya. Sedangkan Sakura yang sedang duduk bersandar sambil meluruskan kakinya sedang asyik mengunyah rotinya dan bermain ponselnya.
Ternyata ia sedang berbalas pesan dengan Alexander. Terlihat senyum-senyum sendiri dan Noah sesekali memperhatikan gerak-gerik Sakura. Sedang berkirim pesan pada siapa anak ini? Kelihatannya senang sekali. Apa laki-laki yang bernama Alexander itu?” tanyanya dalam hati.
Apa ia tidak tau kalau Sakura sedang bersamaku saat ini? Kenapa ia harus menghubungi Sakura? Bukannya ia kemarin baru saja bertemu? Peduli sekali laki-laki itu dengannya. Teman tapi seperti lebih dari seorang teman” gumamnya jengkel.
Tetapi Noah berusaha tidak terlihat kesal saat Sakura melihat ke arahnya. Ia berusaha fokus menonton acara di tv tersebut dan sesekali menyesap kopinya.
“Noah aku ke kamar dulu ya sebentar” katanya tiba-tiba, sambil membawa ponselnya, ia berlari kecil.
“Iya” jawab Noah singkat.
Mau apa anak itu? Tiba-tiba izin masuk kamar dan sambil membawa ponselnya? Aneh sekali. Atau jangan-jangan memang mereka sudah menjadi pasangan kekasih? Hmm ah tidak-tidak! Mereka hanya teman biasa semenjak SMA dulu. Tapi kenapa aku seperti ini? Ada apa dengan diriku sekarang-sekarang ini?” Ujarnya.
Sakura yang masuk ke kamarnya dan duduk bersandar diatas ranjangnya, ternyata sedang asyik mengobrol lewat ponselnya.
Sakura bagaimana keadaanmu” kata Alexander di dalam telepon.
“Sudah lumayan membaik Lex, tadi sore baru saja ke dokter” jawabnya.
“Oh baguslah, kau pergi ke dokter ditemani Abel?” Tanya Alexander.
“Tidak, aku kesana ditemani Noah” sahut Sakura.
“Noah itu siapa? Kekasih barumu ya?” Tanyanya menggoda.
“Enak saja, dia rekan kerjanya Lenard” jelas Sakura.
“Oh, tetapi kenapa ia peduli sekali denganmu? Memangnya kau sudah kenal lama dengannya?” Tanya Alexander penasaran.
“Hmm baru beberapa pekan belakangan ini” jawabnya memikir. “Aku juga tidak tau, kenapa ia peduli sekali padaku akhir-akhir ini” jelasnya pada Alexander dengan nada heran.
“Sepertinya ia ada rasa padamu” kata Alexander.
“Rasa apa? Manis?” ejek Sakura. Sudah tiga orang yang berkata seperti itu, Lenard, Abel dan sekarang kau Alexander. Aku pikir seperti itu tetapi ia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, apalagi mengenai perasaan. Kalau boleh jujur sebenarnya aku masih mengharapkanmu Lex. Aku tidak tau bisa selama ini aku menunggu sahabatku sendiri. Tetapi kau tidak pernah tau apa yang selama ini aku rasakan padamu. Kalau aku jujur, aku takut kau menjauh. Aku takut kita tidak bisa bersahabat seperti dulu lagi, bahkan seperti sekarang. Telepon sampai larut malam, jalan-jalan berdua, main gitar, dan banyak hal lagi. Aku takut semuanya berubah kalau aku jujur pada perasaan ini” gumamnya dalam hati dengan keadaan terdiam dan menatap kosong ke dinding kamarnya yang saat ini berada pada satu garis lurus.
“Ra? Apakah kau baik-baik saja?” Kata Alexander tiba-tiba membuyarkan lamunan Sakura.
“Eh..eh, maaf tadi tiba-tiba aku tertidur” jawabnya berbohong.
“Ada-ada saja Sakura ini, dari dulu kau seperti ini” jawab Alexander sambil tertawa.
“Iya maaf.. maaf” jawabnya.
Terlalu asyik mengobrol Sakura hampir lupa kalau ia sedang meninggalkan Noah diruang tengah. Kemudian Sakura izin mengakhiri obrolannya bersama Alexander dengan alasan ingin tidur karena masih terasa sakit di bagian keningnya.
Lalu Sakura beranjak dari ranjangnya dan pergi ke ruang tengah.


Melihat Noah yang masih asyik menonton tv, kemudian Sakura duduk tepat disamping Noah.
“Maaf, lama menunggu. Aku baru selesai mengangkat telepon dari teman lamaku” katanya biasa saja.
“Iya, tidak apa-apa” jawabnya singkat dan pura-pura tidak tau apa-apa.
“Oh iya, kau bermalam disini saja” kata Sakura. “Kau bisa tidur di kamar tamu seperti kemarin” sambungnya.
“Tidak perlu repot-repot, aku pulang saja nanti” jawab Noah menolak.
“Ini sudah malam, sudah kau disini saja. Lagipula kau juga lelah tadi pulang kerja terus mengantarkanku ke dokter” katanya memohon.
“Baiklah, kalau kau memaksa” jawab Noah sekali lagi. “Oh iya, kalau kau mengantuk, tidur duluan saja, biar aku disini sendiri” kata Noah.
“Tidak aku belum mengantuk, lagipula aku juga belum minum obat” kata Sakura.
“Oh iya kau minum obat dulu sana. Hmm atau biar aku saja yang mengambilkan kau air.. tunggu disini sebentar ya” kata Noah sambil beranjak dari sofa kemudian berjalan kearah dapur.
“Eh kau tidak perlu repot-repot seperti ini” kata Sakura dengan nada sedikit keras tetapi dihiraukan oleh Noah.
Kemudian Noah datang membawa segelas air putih dan memberikannya kepada Sakura.
“Cepat minum obatnya, kalau tidak kepalamu sakit lagi” perintahnya.
“Iya” jawabnya singkat. Lalu Noah duduk di samping Sakura dan menghadap ke arahnya dan mengamati Sakura yang sedang meminum obat.
Ada dua buah obat yang diberi oleh dokter sekaligus untuk Sakura, satu obat minum untuk penghilang rasa nyeri dan satu lagi berbentuk krim yang harus di oleskan pada keningnya yang memar tersebut agar tidak membengkak dan tidak memerah lagi.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Sakura.
“Hanya memastikan kau minum obat itu dengan benar” jawab Noah tegas.
“Memangnya aku anak kecil yang harus kau pantau ketika minum obat?” Tanya Sakura sambil menatap Noah.
“Mana obat krim mu? Sini berikan padaku” perintah Noah sambil menjulurkan tangan.
“Untuk apa?” Tanyanya sambil mengambil bungkusan plastik yang di dalamnya berisi obat krim tersebut.
“Sini biar aku saja yang memakaikan krim itu” katanya.
“Aku bisa sendiri” jawab Sakura.
“Sudah. Sini berikan padaku” perintahnya sekali lagi. Kemudian Sakura menurut dan memberikan obat krim tersebut kepada Noah. “Kalau kau yang pakai sendiri, kau tidak dapat melihat bagian mana yang memar” kata Noah sambil mengoleskan krim tersebut di kening Sakura.
“Tapi kan aku bisa merasakan bagian mana yang sakit pada keningku” jawab Sakura sambil menatap tangan Noah yang sedang berada dikeningnya.
“Kau memang bisa merasakannya. Tetapi kau tidak tau kan seberapa besar memar yang ada pada keningmu ini?” tanyanya.
“Sudah turunkan tanganmu ini. Aku pikir sudah rata semua krimnya pada memarku” katanya sambil memukul tangan Noah.
“Sebentar lagi. Kan sudah ku bilang memar merah mu tidak hanya ada pada satu bagian saja” jelasnya. “Kau ini sudah dibantu bukannya terima kasih, malah marah-marah seperti ini” ujarnya dengan nada serius tetapi maksud hati ingin bercanda.
“Oh iya maaf meester Noah van Jasper. bedankt!” Jawab Sakura jengkel tetapi berusaha mengembangkan senyum ke arah Noah.
“Seperti itukan lebih baik” sambil menutup krim tersebut. “Sudah kau jangan banyak bicara, nanti sakit lagi keningmu itu” kata Noah.
“Iya iya” jawabnya melemah.
Kemudian Noah kembali menonton tv dan begitupun dengan Sakura. Diam tanpa membuka suara sedikitpun hanya terdengar suara orang yang mengobrol di tv tersebut. Mereka berdua memang benar-benar sedang mengamati topik pembicaraan yang ada pada acara tersebut.



Tiga puluh menit kemudian Noah membuka obrolan “Aku rasa besok kau tidak perlu pergi ke restoran dulu” katanya tetapi tetap menatap layar tv.
“Memangnya kenapa?” Tanyanya heran.
“Kau masih sakit, lihat saja keningmu. Kalau kau kerja, keningmu itu mau terkena pan?” ejek Noah.
“Huh enak saja, masa iya pan akan mengenai keningku?”
Bisa saja. Rekan kerjamu yang lebih tinggi dari tinggi badanmu saat membawa pan panas, tiba-tiba kau berada dihadapannya. Bagaimana?” jelas Noah meledek.
“Tapi bagaimana dengan yang lain? Mereka pasti membutuhkan bantuan ku. Lagipula aku tidak enak pada mereka” kata Sakura bingung.
“Sudah, biar aku yang katakan ke restoran besok pagi bahwa kau tidak bisa masuk dikarenakan sakit. Atau perlu aku telepon sekarang atasan mu itu” ujar Noah.
“Tidak, tidak perlu seperti itu Noah. Aku tidak mau mereka berpikir yang tidak-tidak padamu” kata Sakura menolak.
“Berpikir yang tidak-tidak bagaimana?” Tanyanya heran.
“Iya, kau ini pemilik baru restoran itu dan aku hanya pegawai dapur restoran itu. Bagaimana pikiran mereka kalau aku bisa dekat denganmu?” Jelas Sakura.
“Ya memangnya salah? Kalau aku mengizinkanmu untuk tidak masuk besok? Aku kan hanya memberitahu pada atasanmu kalau kau sedang sakit” ujar Noah.
“Ya memang tidak ada yang salah. Hanya saja aku tidak enak pada mereka dan terutama kau. Aku takut kau jadi topik perbincangan mereka. Sudah biar aku saja yang menghubungi Nienke, kalau besok aku tidak bisa masuk” kata Sakura.
“Baiklah kalau itu maumu” kata Noah menyerah.
Sakura mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Nienke bahwa besok ia tidak bisa masuk kerja dikarenakan sakit.
Lalu Sakura terlihat mengantuk mungkin karena efek samping obat yang ia minum tadi.
“Noah, aku mengantuk sekali. Kalau kau ingin tidur, bangunkan ku saja nanti ya?” Kata Sakura sembari menguap lebar.
“Kau mau tidur di sofa dulu? Kenapa tidak langsung ke kamar saja?” Tanya Noah.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menemanimu disini melihat siaran tv” sahutnya sambil mengatur posisi tidurnya.
“Ya sudah kalau begitu. Kau tidur saja disini. Luruskan kakimu, biar aku pindah ke sofa sebelah sini” perintahnya.
“Terima kasih banyak Noah” katanya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Sakura sudah terlelap. “Cepat sekali reaksi obat ini” Kata Noah pelan.
Drrtt..drrrtt selang beberapa menit tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Kemudian ada nama yang masuk di layar ponselnya “Alexander?” Kata Noah berusaha membaca pesan yang ada pada pemberitahuan tersebut. “Tidur yang nyenyak Sakura, mimpi indah, selamat malam” pesan tersebut tertera.
“Apa maksudnya orang ini? Memangnya tadi pas ia telepon tidak mengucapkan itu? Bodoh!” gumamnya kesal. “Bikin emosi saja malam-malam begini” gumamnya. “Ohiya aku masukan saja nomorku di kontaknya Sakura. Aku kan belum pernah bertukaran nomor telepon dengannya” kemudian ia mengambil ponsel Sakura dan mengetikkan nomornya, kemudian ia mencoba miss call ke ponselnya dan ternyata masuk panggilan dari Sakura.
Sesekali ia menatap wajah Sakura yang sedang tertidur pulas. Ia bingung apa yang harus ia lakukan pada Sakura soal perasaannya terhadap Sakura. Kalau ia ingin memulai, ia sendiri pun takut berkomitmen. Jika tidak, ia akan kehilangan orang yang ia sayangi. “Sudahlah aku tidak ingin memikirkan ini dulu. Tidak ada habisnya kalau aku saja masih bingung” pikirnya.
Lalu Noah pergi ke kamar tamu untuk mengambil selimut dan bantal. Lalu ia menyelimuti Sakura dan memberinya bantal. Kemudian ia tidur di kursi samping Sakura tidur. Ia tidak berani membangunkan Sakura yang sudah tertidur pulas, tidak tega lebih tepatnya. Dan ia akhirnya memutuskan untuk tidur di ruang tengah untuk menemani Sakura.




Bersambung...

No comments:

Post a Comment

Bieber'n

Bieber'n