“Goedemorgen
wereld” (selamat pagi dunia) sapa Sakura pada pagi hari kepada dunia dengan
menggunakan bahasa Belanda. Tepat pukul tujuh pagi. Sakura baru bangun dari larut
kantuknya yang menyelimuti sedari malam.
Pagi yang sangat indah tetapi matahari belum menampakan
bentuk aslinya hanya masih samar-samar. Embun yang membasahi kaca jendela kamar
Sakura menyambutnya dengan senyuman. Kamar yang begitu sejuk dengan ranjang
yang tidak terlalu besar. Pagi ini ia akan bekerja di restoran, setelah selesai
bekerja ia langsung bergegas pergi kuliah. Sepertinya hari ini akan menjadi hari
yang sangat melelahkan baginya dengan jadwal yang begitu padat.
“Ura! Apakah kau sudah
bangun dari tidurmu? Jam sudah menunjukan pukul tujuh. Bukankah pagi hari ini jadwalmu
pergi ke restoran?” teriak bibi dari balik pintu kamar Sakura sambil
mengetuk-ngetuk pintu.
Tapi tak ada jawaban dari
Sakura, hanya gemercik suara air dan lantunan lagu dari kamar mandi yang
terdengar samar di telinga pembantu rumah itu.
“Oh syukurlah ia sudah
bangun” ucap
bibi pelan sambil membalikan badan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk
Sakura.
Tak lama kemudian, Sakura
yang sudah rapi hanya saja belum memakai sepatunya. Lalu ia pergi ke ruang
makan untuk mengambil sarapannya dengan cepat. Melihat seperti itu, bibi
langsung meyuruh Sakura cepat sarapan agar tidak terlambat.
“Hati-hati Ra, nanti kau
tersedak” seru bibi kepada Sakura.
“Oh iya bi, Abel dan Lenard
tidak kelihatan? Bi
sepertinya aku harus pergi sekarang, aku ambil sepotong sandwich lagi saja ya.
Oh iya bi aku pergi dulu. Bye” kata Sakura tergesa-gesa dengan sepotong
sandwich yang cukup besar berada diseluruh mulutnya.
“Abel dan
Lenard sudah berangkat
sejak tadi pagi. Hati-hati Ra!”
teriak bibi dari dapur. “Jangan lupa sepatumu!”
Walaupun Sakura seorang
majikan, tetapi Sakura paling tidak suka dipanggil Non atau diperlakukan selayaknya ratu di
kerajaan. Karena itu,
Sakura dipanggil oleh bibi hanya dengan sebutan nama. Ajaran itu di didik
semenjak ia masih kecil dan juga bibi ini adalah orang yang sudah merawat ia
sejak kecil dan sekarang bibi diajak Sakura untuk tinggal menemaninya di
Belanda.
Sakura dengan tergesa-gesa
berjalan menuju jalan raya. Dengan gaya penampilan yang begitu sederhana tetapi
enak dipandang oleh mata-mata yang melihat dirinya. Ia langsung menuju ke
pemberhentian
bus di ujung jalan untuk mencapai ke restonya itu. Sekitar lima menit ia
berjalan ke ujung sana dan sekitar dua puluh menit untuk menuju restoran. Ya, ia lebih senang dengan
menggunakan kendaraan umum seperti bus daripada ia harus membawa mobil mewahnya
itu. Alasannya, karena jalanan
terlalu padat
di pagi hari dan bus
yang ia tumpangi ini mempunyai jalur sendiri. Sehingga begitu cepat menuju ke
tempat tujuan.
Beberapa menit kemudian ia
baru saja sampai ke restorannya, tapi harus berjalan sedikit untuk benar-benar
mencapai restoran itu. Dan waktu tepat menunjukan ke angka setengah sembilan. Lalu ia masuk dan langsung menuju ke
ruang ganti staff. Restoran yang Sakura bekerja itu adalah restoran khas negara
Indonesia. Jadi ia banyak mengetahui menu makanan yang enak dan pantas untuk
perut para pecinta kuliner yang ada dimanapun mereka berada. Dikarenakan ia
adalah orang berdarah Indonesia. Ibunya sering membuatkan ia masakan Indonesia
khususnya dari tanah Bali seperti sate lilit, plecing kangkung, lawar dan ayam
betutu maupun dari daerah lain yaitu rendang, gado-gado dan banyak lainnya ketika ia pulang ke Jepang.
Restoran dimana Sakura
bekerja mulai buka pada pukul sepuluh
pagi. Jadi semua karyawan
yang ada di dalam membereskan semua yang ada di dalamnya seperti meja, kursi, peralatan masak dan
lain-lain. Agar bersih
dan steril jika digunakan.
Jam berputar tepat
menunjukan pukul sepuluh
dan tibanya restoran dibuka. Baru lima menit pertama dibuka, para pengunjung
atau sebut saja pecinta kuliner menyerbu restoran Indonesia tersebut. Sakura
pun sibuk mempersiapkan satu
persatu alat
yang digunakan.
Tak lama kemudian orang-orang sudah memilih makanan yang di inginkannya lalu
memesannya. Dan Sakura
segera memasak apa
saja makanan yang dipesan oleh pelanggan restorannya tersebut.
Sakura
langsung turun dari Ducati milik
Lenard dan segera membuka helm. Lalu mencoba merapikan rambutnya yang mungkin
agak sedikit berantakan karena diterpa angin di perjalanan tadi. Sedangkan
Lenard terlihat begitu tampan dengan dadanya yang bidang bertubuh tinggi dan
berambut hitam pekat. Sedangkan Sakura dengan sepatu ketnya dengan rambut yang dikuncir
asal tetapi menarik penuh gaya. Yang memakai kemeja berlengan panjang yang
dilipat seperempat keatas dan celana jeans panjang, terlihat gaya yang kasual. Sakura terlihat sangat menawan!
Sedangkan
Lenard hanya memakai kaos polos yang di timpal dengan jaket jeans dan celana
jeans panjangnya itu. Ternyata Lenard yang
baru saja pulang dari kantor lebih awal itu ia langsung mengirim
pesan kepada Sakura bahwa
hari ini ia akan menjemput dan mengantar Sakura ke kampus. Lenard memang pria
yang baik dan sangat sayang kepada kedua sahabatnya terutama Sakura, karena
Sakura mempunyai sifat yang masih kekanak-kanakan.
“Nanti aku
jemput, hubungiku
saja kalau kau sudah selesai kelas” kata Lenard. “Lho, memang kau mau kemana setelah ini, tidak biasanya mau jemput aku juga?” tanyanya.
“Aku
ada acara kantor setelah
ini, kebetulan di restoran dekat sini” ujar Lenard.
“Oh baiklah, nanti aku
telepon, dah!”
jawab Sakura.
Lalu Sakura
sampai diruang
kelasnya. Ruang art berada dilantai dua yang mengkhususkan hanya
untuk kelas, sedangkan semua
barang-barang atau perlatan tentang art berada di
lantai 3.
Sakura
pun memasuki ruang kelasnya dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Dan
pelajaran pun akan dimulai, ada dua puluh lima anak dalam satu ruangan. Dosen yang
mengajar kali ini adalah Meester Luuk van Daan, ya mungkin ini bisa
dibilang salah satu dosen paling killer.
Dia adalah tipe orang yang sekali bilang A tetap A, tidak akan berubah menjadi
B atau C apalagi Z. Sehingga Sakura tidak punya nyali untuk tidak hadir dalam
mata kuliahnya, begitupun
dengan mahasiswa yang lainnya. Apabila sekali ada yang tidak masuk ke dalam
kelasnya akan dihukum seberat-beratnya. Jika ada yang sakit harus ada surat izin
dari dokter.
Pelajaran
sudah dimulai, kali ini ada banyak
tugas. Dengan seksama Sakura mengerjakan dengan teliti dan tekun agar tidak
salah menerapkan. Setelah tugas selesai harus di presentasikan menggunakan
bahasa Belanda dengan lancar. Jika tidak harus diulangi terus hingga lancar.
Dan
jika waktu sudah menunjukan bahwa
mata kuliah tersebut yang sudah ditentukan telah berakhir. Mahasiswa yang berada di dalamnya tidak
diperbolehkan untuk keluar ruangan jika belum selesai atau pembahasan yang
dosen ajarkan belum tuntas. Dalam mata kuliah ini, ia sering mengambil jam
pulang lebih lama. Sekitar tiga puluh menit yang dibutuhkan. Mahasiswa mana
yang tidak bosan dengan semua ini? Pasti bosan dan banyak yang mengeluh di
dalam hati.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Hai
Lenard” teriak Noah sambil melambaikan tangan.
Kemudian Lenard melambaikan tangan ke arah Noah dan
berjalan menghampiri meja yang sudah disusun panjang yang berada di pojok
sebelah kanan ruangan.
“Hai
kau sudah lama disini?” Tanyanya kepada Noah.
“Tidak,
aku baru saja sampai. Aku pikir sudah ramai ternyata ekspektasiku diluar
dugaan” katanya sambil memegang kepala.
“Ya
begitulah, aku langsung saja
kesini..
habis mengantar tuan putri” kata Lenard sambil bersandar.
“Tuan
putri? Siapa?” Tanya Noah penasaran.
“Sakura” jawabnya.
“Oh
memang dia kemana? Kuliah?”.
“Iya, kuliah. aku tadi menjemputnya di restoran
tempat ia bekerja lalu mengantarnya ke kampus” Lenard menjelaskan.
“Oh
begitu” ucap Lenard.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu jam lewat dua puluh menit kemudian.
ddrrtt...ddrrrtt ponsel Sakura bergetar.
Sakura langsung
mengeluarkan ponselnya
ke bawah meja dengan perlahan agar tidak ketahuan.
“Belum
selesai?” Lenard.
“Belum, aku
masih di kelas”
Sakura langsung mematikan ponselnya dan memasukan ke saku kemejanya.
Dan mulai memperhatikan pelajaran.
Drrrtttt....ddrrtttt ponselnya
bergetar untuk kedua kalinya. Lalu Sakura mengeluarkan ponselnya kembali dengan hati-hati dan
perlahan.
“Ra kalau sudah selesai langsung saja ke restoran di blok F ya, aku tunggu disana.”
Lenard
Tiga puluh menit berlalu, dengan
cepat mereka semua membereskan alat-alat tulisnya. Dan bersiap-siap untuk
pulang dan menghirup udara kebebasan yang ingin para mahasiswa dapatkan saat
ini juga. Keluar dari kandang singa itu adalah hal yang menyenangkan.
Sama
halnya dengan Sakura. Pikiran yang penat sejak ia di penjara dalam kesuntukan.
Mempunyai dosen yang killer adalah
neraka bagi para mahasiswa yang tidak bersalah.
Sakura
menuruni anak tangga yang tidak terlalu luas untuk menuju ke lorong yang tadi
ia lewati. Di sepanjang perjalanan menuju restoran yang
dikatakan
Lenard tadi ia hanya
mendengarkan musik melalui headset dengan iPod ditangannya. Semua lagu barat ia
sukai tanpa terkecuali.
Lenard menunggu Sakura di depan pintu restoran. Tak lama Sakura datang
dan ia melihat Lenard sedang memperhatikan langkahnya. Sesampainya itu mereka
berdua masuk dan menuju ke meja tempat dimana Noah duduk sambil menatap keluar jendela.
“Ada
rekan kerjamu?” Tanya Sakura sambil menyiku tangan Lenard.
“Iya, namun
yang lain sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu, sudah tidak apa-apa”
jawabnya santai.
Kemudian Sakura duduk persis dihadapan dimana Noah duduk.
Sontak Noah menoleh dan menyapa Sakura “Hai Sakura
senang bertemu denganmu lagi” sambil mengulurkan tangan.
“Hai”
jawabnya singkat.
“Jadi
kita mau kemana setelah
ini?” Tanya Lenard.
“Huh?
Mau kemana? Aku baru saja
tiba, masih pegal-pegal
kaki ku jalan kaki dari kampus kesini” sahut Sakura sambil
menatap sinis ke
arah Lenard.
“Benar kata
Sakura. Nanti saja, Sakura baru saja sampai.. Apakah kau tidak haus? Mau pesan minum apa?”
Tanya Noah.
“Ah
tidak perlu, aku tidak haus” kata Sakura.
“Jangan
malu-malu. Kalau
kau tidak mau pesan minum, minum saja minuman ku ini” ejek Lenard sambil menyodorkan gelas miliknya.
“Terima kasih! Tidak
perlu repot-repot” sahut Sakura ketus.
“Ya sudah. Lebih baik kita berangkat
sekarang saja, lagipula
kau juga tidak akan memesan salah satu menu yang ada di restoran ini dan aku rasa
kau juga sudah tidak merasa pegal-pegal lagi” Ujar Lenard sembari memijit-mijit kaki
Sakura dengan cepat.
Kemudian mereka bergegas dan memakai
jaket lalu
berjalan meninggalkan restoran tersebut.
“Kau menumpang di motor
Noah ya” kata Lenard.
“Lho
memangnya kenapa? Memangnya kau tidak ikut? Kenapa aku harus bersama Noah?”
Tanya Sakura dengan pupil
mata yang sedikit melebar.
“Ban
motorku bermasalah, aku baru mau service besok siang” jawab Lenard.
“Sudah.
tidak apa-apa ikut denganku saja, nanti helmnya kau ambil saja dari motor
Lenard” jawab Noah lembut.
Tidak banyak basa basi mereka
langsung pergi. Walaupun di dalam hati Sakura agak sedikit kesal ya tapi mau
bagaimana lagi ban motor Lenard bermasalah, tidak mungkin juga ia menolak
tawaran Noah. Bisa-bisa
ia harus jalan kaki mengikuti Lenard dan Noah pergi.
Setibanya di taman yang kemarin, kemudian
Noah dan Lenard memarkirkan motor mereka di tempat parkir motor yang tidak jauh
dari taman. Lalu Sakura turun dan menggantungkan helmnya di motor Noah.
Kemudian mereka berjalan
menuju ke tengah taman yang ada kincir angin dan kolam ikan yang ditengahnya
ada air mancur buatan.
“Sebentar
ya aku mau ke toilet dulu” ucap Lenard sambil memegang perut.
“Ada-ada
saja manusia satu ini!”
decak Sakura sambil menggelengkan kepala “Ya sudah sana, cepat!”
“Kami
tunggu di bangku dekat kolam” teriak Noah.
Kemudian Sakura dan Noah duduk
berdiam dan memperhatikan sekeliling tanpa bersuara satupun. Entah itu gugup
atau memang tidak ada bahan obrolan. Kemudian Noah berdeham dan Sakura melihat
ke arahnya.
“Ra, Lenard bilang kau juga bekerja? Kalau memang benar, dimana?”
Tanya Noah membuka topik pembicaraan.
“Hmm
aku..aku bekerja di restoran di pusat kota Amsterdam, restoran Indonesia” jawab
Sakura gugup.
“Oh
kapan-kapan aku boleh berkunjung kesana?”
Tanyanya.
“Tentu saja! Dengan senang
hati” jawab Sakura dengan tersenyum paksa.
“Dan kau
juga seorang mahasiswa ya?” Tanya nya lagi.
“Iya,
di Vrije Universiteit
jurusan art” ujar Sakura.
“Wah
keren” ucap Noah sambil terkesima.
“Ah
biasa saja” jawabnya.
“Oh iya namaku
Noah van Jasper” katanya sambil memperkenalkan diri.
“Ya ampun,
sampai lupa kita belum
pernah berkenalan secara formal, namaku Sakura Dayu Yumma”
jawab Sakura hangat.
“Nama
yang bagus, ngomong-ngomong kau orang Jepang ya? Tetapi mengapa tidak terlihat seperti kebanyakan orang Jepang lainnya dengan mata
yang sedikit sipit?”
Tanya Noah.
“Ayahku
Jepang ibuku Indonesia, memang banyak yang mengatakan bahwa namaku saja yang Jepang tetapi tidak
dengan wajahku” jawabnya menjelaskan.
“Ah
tidak apa-apa kau tetap cantik, dengar-dengar memang orang Indonesia punya rupa
yang cantik-cantik bagi wanitanya” memuji.
“Kau berlebihan,
tapi tidak denganku” Sakura mengelak.
Kemudian Lenard datang dan membawa tiga cup coklat panas dan roti keju. Dan ia memberikan
cup satu persatu ke
Noah dan Sakura dan menaruh kantong plastik yang berisi roti disamping tempat
duduk Sakura.
“Lama
sekali kau Nard” Tanya Sakura.
“Aku
habis berkeliling taman dan melihat ada café aku mencoba untuk mampir sebentar dan membelikan mu
ini” jawab Lenard.
Tepat pukul sepuluh malam, dan
mereka menyesap coklat panas yang Lenard beli di café taman. Bercengkrama dan
melihat sekeliling taman memang mengasyikan ditambah dengan adanya suara air
yang mengalir dari kolam.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment