Pelanggan
restoran tempat Sakura bekerja tak kunjung sepi. Berlalu lalang keluar masuk
melewati pintu restoran. Sakura juga sangat sibuk dalam pekerjaan untuk
melayani para pelanggan yang memesan makanan.
“Ramai sekali” gumamnya.
Banyak sekali pesanan yang masuk ke
dalam list, yang tak henti-hentinya para pelayan restoran menempelkan notes pada jajaran list
itu. Sakura yang sangat sibuk sampai lupa kalau ia sudah sarapan atau belum
pagi tadi, karena sangat
buru-buru untuk berangkat supaya tidak terlambat. Hari Sabtu
memang tidak khayal baginya kalau restorannya itu dipenuhi pengunjung.
Tinggg..
bel berbunyi tanda makanan sudah siap.
“Sakura, untuk gado-gado yang di meja nomor lima tanpa tofu” jelas
pelayan.
“Baiklah”
jawab Sakura singkat.
Tinggg..
bel berbunyi untuk kedua kalinya. Kemudian Sakura terkejut sampai-sampai
ia menyenggol piring yang sedang dibawa oleh rekan kerjanya. Kemudian Sakura
meminta maaf kepadanya bahwa ia
tidak sengaja.
“Hai! sedang apa
kau disini?” Tanya Sakura pada laki-laki itu sambil mengintip lewat kaca kecil.
“Aku
hanya mengecek saja bagaimana restoranku pada hari Sabtu, apakah ramai atau
biasa-biasa saja” ujarnya. Kemudian lewat salah satu pelayan mengambil makanan
tadi “Permisi”.
“Kau
lihat saja bagaimana, ramai sekali bukan.. aku saja sampai bingung bisa seperti
ini” jelasnya.
“Ya
begitulah, makanan disini berbeda dari resto yang lain dan rasanya mungkin
cocok untuk lidah mereka” jawab Noah.
“Kau
darimana? Olahraga?” tanyanya.
“Iya, di taman yang
kita kunjungi beberapa waktu lalu” .
“Oh. Ya sudah aku
kembali bekerja dulu, dah” kata Sakura
sambil menutup kaca.
“Sakura sebentar, apakah kau mau menemaniku keluar sehabis kau selesai bekerja?
Pulang jam berapa hari ini?” Tanya Noah.
“Huh?
Kemana lagi? Jam empat..”
“Ya sudah nanti
aku akan menjemputmu
disini, sudah lanjutkan pekerjaanmu jangan mengobrol saja” perintah Noah sambil terkekeh.
“Enak
saja” kemudian Sakura benar-benar menutup kacanya dan kembali bekerja.
Ruang kerja yang cukup luas, yang di
dalamnya terdapat satu buah komputer beserta satu set dengan meja dan kursi
yang sangat nyaman, rak buku, dan sofa. Dengan cat dinding berwarna abu-abu tua
di campur dengan abu-abu muda terkesan elegan. Noah sedang duduk di kursi
kerjanya sambil bersandar menatap ke arah komputer yang sedang menyala.
Sebenarnya ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya tetapi ia hanya melamun,
entah apa yang ia pikirkan.
“Sakura Dayu Yumma”
katanya.
Selama beberapa hari ini ia memang
kedapatan sering melamun. Terkadang ia suka tidak fokus pada apa
yang ada di depannya, kecuali Sakura. Sepertinya Noah memang benar-benar
tertarik dengannya. Kemudian
buyar semua lamunan Noah ketika ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul
tiga lewat tiga puluh menit. Lalu ia segera mematikan komputernya dan mengambil
jaket yang ia letakkan di sandaran kursinya, lalu ia bergegas pergi untuk
menjemput Sakura di restoran.
“Tuan, kopinya tidak jadi
di minum?” tanya pembantu rumah Noah yang sedang membawa nampan yang diatasnya
terdapat secangkir kopi hitam.
“Tidak bi, saya sedang buru-buru.
Maaf” ucap Noah sambil berlari-lari kecil menuju ke garasi.
Selama di dalam perjalanan
menuju restoran tempat Sakura berkerja, Noah hanya menyetel siaran radio dan
membuka kaca mobil dengan tangan kiri yang bersender pada kaca. Jalanan yang
lancar membuatnya merasa senang, karena tidak perlu berlama-lama karena macet.
Terjebak dalam lampu merah,
kemudian ada seorang wanita yang berteriak memanggil namanya. Awalnya Noah
tidak sadar kalau ada yang memanggil namanya, karena suara musik yang di dalam
mobil lumayan kencang volumenya. Sampai akhirnya ia sadar kalau ada yang
memanggil namanya, kemudian Noah menoleh ke arah suara tersebut.
“Noah!” teriak Charlotte
dari dalam mobilnya
“Hai Bel!” jawabnya sambil
melambaikan tangan
“Kau mau kemana?”
“Apa?!” teriaknya sambil
memegang kuping kirinya
“Kau mau kemana?” tanya
Charlotte untuk kedua kalinya
“Oh, mau menjemput Sakura.
Lho itu di sebelahmu Lenard? Hai Nard!” teriak Noah sampai mengeluarkan
kepalanya keluar kaca.
Kemudian Lenard yang
sedang sibuk bermain ponselnya menoleh ke arah Noah “Hai Noah! Kau mau kemana?”
.
“Menjemput Sakura” sahut
Charlotte pelan sembari menaikan bibir sebelah kanannya.
Belum sempat menjawab,
lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Dan Noah hanya bisa membunyikan
klakson tanda ia pamit terlebih dulu.
Sepuluh
menit kemudian Noah sampai di restoran. Dan ia tepat waktu, tapi ia belum
melihat Sakura keluar dari dapurnya. Kemudian Noah masuk.
“Permisi, apakah kau
melihat Sakura? Apakah ia sudah selesai bekerja?” tanyanya pada salah satu
pelayan.
“Sepertinya ia belum
keluar, ia masih berada di dalam dapur. Mungkin ia akan terlambat keluar untuk
hari ini karena ramai sekali” jelasnya.
“Tetapi tadi ia bilang
pukul empat sudah selesai”.
“Betul! Jadwal sore memang
sampai pukul empat, tetapi kalau tamu yang datang ramai seperti sekarang
ini kemungkinan akan agak
terlambat satu jam. Silakan duduk” ujar si pelayan.
“Oh begitu, iya terima
kasih. Tolong sampaikan padanya kalau saya sudah menunggunya sejak tadi” jawab Noah sambil menarik kursi.
“Baik pak! Kalau begitu
saya permisi” sahut si pelayan.
Kemudian pelayan itu
menemui Sakura yang sedang berada di dapur.
“Sakura, ada yang mencarimu”
kata si pelayan sambil mencondongkan
kepala dari balik pintu.
“Noah?” sahutnya santai.
Si pelayan heran
melihatnya “Hei! Kau tidak memanggil beliau dengan sebutan bapak? Ia adalah salah
satu pemilik saham disini”.
Kemudian Sakura menutup
mulut dan berpura-pura kalau ia salah ucap “Hmm, maksudku bapak Noah. Sampaikan
saja padanya kalau ia akan menemui anda dua puluh menit lagi”.
“Baiklah” sahut si pelayan
sambil menutup pintu.
Lalu si pelayan berjalan
ke arah Noah untuk menyampaikan apa yang Sakura katakan.
“Pemisi pak, baru saja
Sakura katakan bahwa ia akan menemui anda dua puluh menit lagi” ujarnya.
“Baiklah kalau begitu”.
“Apakah anda ingin minum
sesuatu? Nanti biar saya sediakan” si pelayan memberikan tawaran. “Tidak terima kasih” jawabnya.
Sembari menunggu Sakura menyelesaikan pekerjaannya, Noah hanya memainkan
ponselnya.
“Noah!” panggil Sakura yang baru saja berdiri disampingnya.
“Lho,
katanya tadi sekitar dua puluh menit lagi” tanyanya.
“Tidak,
ternyata waktunya dipercepat. Dikarenakan
pekerjaanku ternyata tidak sebanyak yang aku pikirkan, jadi aku katakan saja
padanya kalau kau akan menungguku sekitar dua puluh menit” sambil terkekeh.
“Lalu kita
akan kemana
sekarang?” lanjutnya.
“Sudah. Ikut
saja denganku”
jawab Noah.
Selama di perjalanan Sakura hanya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil
dan menatap ke jalan
dengan penuh konsentrasi, sedangkan Noah yang
berasa disampingnya sedang menyetir mobil dengan santai.
“Sakura? Hari
ini kau mau kemana? Biar aku antarkan kemana kau akan pergi" ujar Noah
yang sedang konsentrasi menyetir.
"Aku tidak
tau. Bukannya tadi kau
yang mengajakku pergi? Dan kau bilang kau
mengajakku untuk menemanimu" tetap dengan posisi bersandar dan tetap
konsentrasi menatap jalanan.
"Ya sudah. Aku akan mengajakmu ke Bloemenmarkt"
.
"Sangat
menarik!" ujarnya sambil menoleh dan posisi Sakura sudah tidak bersandar
lagi.
"Bagus!"
jawabnya.
Bloemenmarkt
adalah pasar bunga yang terletak di pusat kota Amsterdam adalah pasar bunga
apung yang sangat terkenal. Di musim apa pun pasti menemukan bunga favorit di
pasar bunga, baik tulip, dafodil, snowdrop, anyelir, violet, peony, maupun
anggrek. Selain itu, penjual juga menawarkan tanaman rumah, herbal, bibit, dan
umbi.
Setiap musim semi, saat ladang bunga
berubah menjadi deretan warna cerah, bunga tulip di Belanda adalah objek wisata
utama. Gantungan kunci, tulip kayu, dan kartu pos juga banyak tersedia di
sekitar Pasar Bunga.
Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai tempat tersebut hanya memerlukan
waktu sekitar sepuluh menit. Tempat yang tidak begitu jauh jaraknya dari
restoran tempat Sakura bekerja. Itu ajakan yang tepat bukan?
Tibanya di daerah Bloemenmarkt, Noah
memarkirkan kendaraannya yang cukup jauh dari tempat tersebut. Dikarenakan
pasar apung tersebut mengkhususkan untuk para pejalan kaki.
“Ramai
sekali” ujar Sakura
“Iya,
mungkin karena hari ini hari Sabtu” jawab Noah
“Mungkin.
“
Mereka bertepatan berada di sebrang pasar apung, untuk mencapainya
mereka harus berjalan kaki dan sambil melihat-lihat boat yang berlalu lalang di kanal. Biasanya
boat tersebut disewa oleh turis asing maupun turis lokal untuk melihat-lihat
daerah tersebut menggunakan jalur air.
Sesampainya,
Sakura melihat-lihat bunga-bunga yang sangat cantik. Ditambah lagi sekarang adalah musim semi.
Banyak ragam bunga yang memiliki warna yang cerah.
Noah melihat Sakura yang sedang memegang beberapa bunga dengan wajah
ceria “Kau suka bunga itu?”
Sakura menoleh “Tidak,
aku hanya ingin
melihatnya”
“Kalau
kau suka ambil saja” Noah menawarkan
“Tidak, terima kasih”
jawabnya
“Bu,
tolong ikatkan bunga yang ini dan yang ini ya” kata Noah sambil menunjuk dua
bunga tersebut yang tadi dipegang-pegang oleh Sakura.
Sakura hanya terdiam melihat Noah membayar bunga tersebut. Kemudian Noah
memberikan dua ikat bunga tersebut kepada Sakura “Ini untukmu”.
“Terima
kasih, seharusnya kau tidak perlu melakukan hal seperti ini” katanya tidak
enak.
“Sudah
tidak apa-apa. Kau ingin
membeli apalagi selain ini?” tanya Noah.
“Belum
tau, aku ingin membeli bibit bunga dafodil dan peony. Karena waktu lalu
aku ingin menitip bibit tersebut pada Abel, tetapi ia sedang kehabisan kedua bibit
tersebut” jawabnya
“Baik,
akan aku pesankan lagi padanya. Bu tambah
bibit daffodil dan peonynya ya”
“Kalau
begitu sekarang biar aku saja yang membayarnya” ujar Sakura sambil mengambil
dompet dari dalam tasnya.
“Tidak..tidak
ini satu paket dengan dua
buket bunga yang tadi” kemudian Noah segera membayarnya sambil
tersenyum.
“Kau
ini kenapa?” Tanya Sakura agak sedikit kesal.
“Mari kita
jalan-jalan lagi” ajaknya.
Kemudian mereka menelusuri pasar tersebut, dan Noah berhenti di tempat
toko cat akrilik. Kemudian ia memilih warna cat tersebut dan Sakura menunggu
disebelahnya sembari
melihat-lihat.
“Untuk
apa kau kesini? Kau kan bukan orang art” ujarnya sambil memegang botol-botol
cat.
“Aku
ini suka melukis, aku ingin melukis sepatuku yang sudah lama tidak dipakai.
Akan ku perbaharui warna dan gambarnya.” Jawab Noah.
“Oh
begitu, hebat juga ya. Padahal sekarang banyak orang yang suka membuang barangnya yang sudah
tidak terpakai” kata Sakura sambil
menatap Noah.
“Aku
bukan tipe orang seperti itu, aku lebih suka memperbaharui barang-barang
lamaku” jelas Noah.
Kemudian Sakura melihat Noah dengan tampang terkesan padanya. Sakura menyukai laki-laki
seperti ini, pintar, baik
dan tidak boros. Sakura mengamati Noah dengan penuh arti. Kemudian Noah
melihat Sakura sedang mengamati dirinya.
“Hei,
kenapa kau
melihatku seperti itu?” mengagetkan.
“Huh?
Siapa yang melihatmu.. aku sedang melihat cat yang kau pegang” elak Sakura
dengan pipi memerah.
Padahal Noah mengetahuinya kalau Sakura sedang memperhatikan dirinya,
tetapi bairlah “Baiklah kalau itu alasanmu,
menurutmu yang mana yang lebih bagus? Yang ini atau yang ini?”.
“Yang
ini lebih bagus” jawabnya mencoba untuk santai.
“Baiklah,
tolong bungkuskan ini satu ya” kata Noah kepada si penjual.
Sakura melihat
ke sekeliling apakah ada tempat duduk didekat sini. Karena lumayan lelah seluruh kakinya berjalan kaki yang lumayan lama. Kemudian ada tempat
duduk yang terbuat dari batu yang ditengahnya terdapat pohon besar. Kemudian
Sakura mengajak Noah untuk beristirahat sebentar, untuk meluruskan otot-otot
kakinya yang mulai sedikit menegang.
Banyak sekali orang yang berlalu
lalang di hadapannya. Kemudian Sakura melihat Charlotte dan Lenard berada di
kerumunan orang yang sedang berlalu lalang.
“Abel! Lenard!” teriak Sakura.
Kemudian Lenard menoleh kearah Sakura dan melambaikan tangan. Lenard
langsung menyolek Charlotte untuk memberi tau kalau Sakura sedang berada
ditempat ini juga. Kemudian mereka berdua menghampiri Sakura.
“Hai,
disini juga?” tanya Charlotte kepada Sakura tetapi ia tidak sadar kalau
disamping Sakura ada Noah. Ia pikir Sakura kesini seorang diri.
“Oh bersama Noah, aku
pikir orang lain” sambung Charlotte. Noah tersenyum.
“Banyak
sekali belanjaanmu” kata Charlotte pada Sakura. Sakura hanya tersenyum manis
padanya.
“Aku rasa ini
hadiah dari Noah” ejek Lenard.
“Astaga cepat
sekali bukan, jadi kau..”
ujar Charlotte.
“Apa?
Sudah-sudah jangan mulai berbicara yang tidak-tidak” selak Sakura.
Noah hanya tersenyum melihat ia dan Sakura digoda oleh Charlotte dan
Lenard.
“Jadi
kalian mau minum apa?” kata Noah mengalihkan.
“Air limun
saja” jawab Charlotte
“Bagaimana, Sakura?”
Tanya Noah. “Sama seperti
Abel”
“Ya sudah. Kalian tunggu disini
ya, akan kami
belikan air
limun untuk kalian. Ayo
Nard jangan main ponselmu saja, temani aku” kata Noah.
Kemudian Noah dan Lenard pergi,
tinggal Sakura dan Charlotte yang duduk disana. Kemudian Charlotte
menyolek-nyolek dagu Sakura tanda ia menggodanya.
“Hentikan Bel,
jangan menggangguku seperti ini” katanya malu-malu.
“Kau
sudah jadian dengannya?”
Tanya Charlotte bersemangat.
“Tidak,
aku tidak terpikir hal
itu, bahwa kami akan menjadi
sepasang kekasih” jawabnya.
“Oh,
ya mungkin tidak sekarang. Suatu saat pasti” kata Charlotte. Tetapi Sakura
hanya tersenyum.
“Oh iya,
aku tadi beli bibit bunga daffodil dan peony” kata Sakura sambil menunjukan
padanya.
“Kau
sudah membelinya, aku baru akan membawakanmu besok. Yasudah kalau begitu” .
“Iya, tadi aku melihatnya, jadi aku beli saja” ujarnya.
Kemudian Sakura mengajak Charlotte untuk mencari Noah dan Lenard. Sakura
membawa belanjaannya dan membawa belanjaan Noah dengan susah payah. Tetapi
Charlotte dengan segera
menolongnya dan
membawakan sebagian belanjaan Sakura.
Sambil mencari toko yang menjual
limun. Sakura mencoba menghubungi Lenard, tetapi ponselnya tidak aktif. Dan ia
berinisiatif untuk menghubungi Noah, tetapi ia tersadar bahwa ia tidak
mempunyai nomor telepon Noah.
“Lenard aku hubungi tetapi ponselnya
tidak aktif,
bagaimana ini?” ujar Sakura.
“Kenapa
kau tidak menghubungi Noah?” Tanya Charlotte.
“Masalahnya
aku tidak mempunyai nomornya” jawabnya sambil memijit keningnya.
“Sudah
kenal lama, sudah sering jalan bareng.. tetapi belum bertukar nomor telepon,
bagaimana kau ini” melirik Sakura sinis.
“Aku
saja setiap bertemu dengannya selalu dengan keadaan tidak sengaja. Terkadang
dia menemuiku di restoran” .
“Demi Tuhan!” kata
Charlotte sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Kemudian Sakura melihat ada orang yang membawa segelas limun dari arah
kiri jalan. Lalu Sakura berinisiatif untuk belok kearah kiri. “Apakah kau
yakin belok kesini” Tanya Charlotte.
“Sudah
ikuti saja” kata Sakura sambil memperhatikan setiap toko. Dan ternyata benar
ada sebuah antrian panjang
dan di antrian ketiga ada Noah dan Lenard. Sakura langsung menunjuk
kearah Noah dan Lenard “Itu
mereka disana”.
Sakura dan Charlotte mempercepat langkah kakinya menuju ke arah dua lelaki
tersebut. “Hei”
colek Sakura ke Noah.
“Kalian
kenapa menghampiri kami kesini?” Tanya Noah.
“Tidak
apa-apa, kami sudah tidak ingin duduk lagi. Dari sini lebih baik kita
jalan-jalan dan melihat-lihat
saja, siapa tau Abel dan Lenard ingin membeli sesuatu” jelas Sakura.
“Oh
baiklah, tunggu sebentar” jawab Noah.
Lima menit berlalu, Charlotte sedang
memilih-milih buku. Memang niat
awal Charlotte kesini untuk membeli sebuah buku, untuk referensi tugas
kuliahnya. Kemudian Lenard juga tertarik untuk melihat-lihat buku, karena
Lenard salah satu penggemar buku, salah satunya tentang sejarah dunia.
Sedangkan Sakura dan Noah sedang asyik mengobrol dan sesekali menyesap
limunnya.
“Kemarikan tasmu,
biar aku bawakan” kata Noah memberikan tawaran kepada Sakura.
“Tidak perlu,
aku bisa membawanya sendiri.
Kau sudah
membawakan belanjaanku” Sakura menolaknya.
“Ayolah
berikan padaku” mencoba melepaskan dari bahu Sakura.
“Maaf
ya aku selalu merepotkanmu” katanya menunduk.
“Tidak
perlu minta maaf” ujar Noah dengan menunjukkan senyum hangatnya.
Tiba-tiba Charlotte memanggil Sakura “Sakura! Kemari sebentar”, kemudian
Sakura menghampiri Charlotte “Ada
apa?”.
“Buku ini
yang kau cari bukan?” tanyanya sambil menunjukkan buku tersebut.
“Benar, tetapi aku sudah
menemukannya di
perpustakaan kampus” jawabnya
“Ah
berarti aku terlambat ya”. Dan Sakura hanya tertawa kecil. Kemudian Sakura
kembali menemani Noah.
“Ada
apa dengannya?” Tanya Noah
“Abel hanya menunjukkan buku yang sedang aku cari, tetapi aku sudah
menemukannya” jawab Sakura.
“Oh
begitu. Oh
iya,
aku lupa aku harus mencari buku resep untuk ibuku, minggu lalu ibuku meneleponku untuk
mencarikan buku resep untuknya. Kebetulan
kau ini seorang koki, bantu aku mencarinya ya” kata Noah seperti memohon.
“Baiklah”
jawabnya.
Sakura dan Noah sibuk mencari buku resep. Kemudian Sakura menemukannya dengan
lumayan cepat “Aku
menemukan buku
resepnya”. Lalu Noah menengok ke arahnya “Cepat sekali. Apakah ini
lengkap?”.
“Aku
pikir ini lengkap. Coba aku lihat sebentar” sambil membacanya. “Ya ini lengkap,
ada masakan kontinental dan oriental. Aku pikir ibumu akan menyukainya”
sambungnya.
“Pasti
ibuku menyukainya, karena yang menemukannya adalah seorang ahli masak” ucap Noah menggoda.
“Kau ini bisa
saja. Ya sudah kali ini
aku yang membayarnya,
sebagai gantinya” kata Sakura.
“Kau
tidak perlu membayarnya, biar aku saja” kata Noah sambil menahan buku yang ada
ditangan Sakura.
“Kenapa
kau selalu menghalangiku untuk membayarnya?” tanyanya heran.
“Karena
yang mengajak kesini adalah aku, jadi aku bertanggung jawab atas semuanya” jawabnya
tersenyum. Lalu Sakura hanya bisa tersenyum merasa tidak enak.
“Kalian
sudah selesai belum” colek Sakura pada Charlotte.
“Aku
sudah, sepertinya Lenard sedang membayar bukunya” sahut Charlotte.
“Baguslah,
setelah
ini kalian mau kemana?” Tanya Sakura.
“Bagaimana
kalau kita makan malam?
Di dekat sini ada street food yang enak”
kata Noah.
“Boleh”
jawab Charlotte
“Baiklah,
Lenard ayo cepat” teriak Sakura
“Sebentar”
sahutnya
Charlotte dan Lenard berjalan di depan, sedangkan Sakura dan Noah
berjalan di belakangnya. Kemudian Noah tiba-tiba menggandeng tangan Sakura
dengan erat untuk menyebrang ke
arah tempat yang
banyak jajanan. Sontak Sakura melihat tangannya digenggam oleh Noah,
ingin berusaha melepasnya namun Noah tetap menggenggam tangannya. Sakura hanya melihat
ke arah
Noah, tetapi sayangnya Noah menghiraukannya.
Sesampainya di depan yang
banyak jajanan pinggir jalan “Kau
mau roti isi? Di
sebelah sana ada
yang mejual roti yang
sangat lezat”. Sembari
melepas genggamannya Noah, Sakura hanya mengangguk terhadap ajakan Noah. “Kenapa aku gugup seperti ini?” tanya Sakura
dalam hati.
Kemudian Noah menawarkan apakah Lenard dan Charlotte juga mau roti isi
atau tidak. Ternyata Lenard dan Charlotte menolaknya, mereka lebih memilih untuk
membeli fish and chips saja. Lenard
dan Charlotte berpisah dengan Noah dan Sakura. Tetapi Lenard dan Charlotte mengatakan bahwa jika
sudah selesai membeli makan segera tunggu di taman dekat sini.
Sesampainya di tempat roti isi “Sakura,
kau mau yang mana?”
“Terserah
kau saja” jawab Sakura masih sedikit gugup. Kemudian Noah memesan untuk dua
porsi “Roti isi dagingnya
dua porsi”.
“Kau
mau minum apa? Kali ini jangan
katakan terserah lagi” katanya.
“Aku
mau air mineral saja” jawab Sakura.
“Baiklah”.
Tak lama kemudian makanan mereka sudah siap.
“Kau
mau apalagi?” Tanya Noah.
“Tidak,
ini saja sudah cukup membuatku kenyang” jawabnya sambil menunjukkan miliknya.
“Kau
tidak mau kentang goreng?” .
“Tidak, terima kasih”
kata Sakura menolak.
“Kau
tidak sedang sakit bukan?
Kau berbeda
sekali dari sebelumnya” Tanya Noah sambil menatap Sakura.
“Huh?
Tidak apa-apa aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir” jawabnya membuat Noah
merasa tenang.
“Syukurlah,
ayo kita ke taman. Mungkin mereka sudah menunggu kita” ajak Noah.
Kemudian mereka berjalan ke arah taman, selama berjalan menuju ke taman Sakura
hanya menatap ke
arah depan, ia tidak berani menoleh ke hadap Noah. Ia berjalan sambil
membawa kantung plastik buku dan kantung roti isi di dekapannya. Ia takut kalau
Noah akan menggandeng tangannya lagi.
Sesampainya ditaman, mereka mencari
Lenard dan Charlotte. Ternyata mereka belum selesai membeli makanan. Lalu
Sakura dan Noah memutuskan untuk mencari tempat duduk. Tetapi tempat duduk
semua sudah terisi penuh. Lalu mereka memutuskan untuk duduk di rerumputan
saja.
Drrtt..drrttt ponsel
Sakura bergetar, kemudian ia mengambilnya dari dalam tas dan menjawab telepon
tersebut “hallo Bel, kau
masih lama?”
“Maaf Ra, sepertinya kami tidak jadi ke taman.
Dikarenakan sekarang kami
sedang
menuju ke
arah parkiran”
kata Charlotte diseberang
sana. Sakura mendecakan lidah “Kau ini bagaimana?” Sakura
mengharapkan kawannya supaya cepat datang, agar ia tidak canggung hanya berdua
bersama Noah.
“Maaf. Aku harus pulang, kepalaku tadi tiba-tiba sakit”
jawab Charlotte.
“Ya sudah tidak apa-apa, bye” kemudian raut wajah Sakura
tambah canggung dikala ia harus berdua dengan Noah.
“Mereka
tidak jadi kesini?” tanyanya dalam keadaan mulut yang penuh dengan roti isi.
“Iya,
Abel tiba-tiba tidak enak badan” jelas Sakura.
“Oh begitu. Ya sudah cepat
makan makananmu itu nanti keburu dingin” perintah Noah sambil menunjuk roti
isi.
Satu jam yang lalu Sakura sampai
dirumah, kemudian Sakura langsung masuk kamar dan hanya terdiam. Ia masih
memikirkan kejadian tadi, dimana tangannya digenggam dan digandeng oleh Noah.
Mengapa Noah bisa-bisanya melakukan hal seperti itu padanya? Ya walaupun memang
tadi itu hanya kejadian ketika menyeberang
jalan. Tetapi kenapa harus menggandeng dan menggenggam tangannya? Apa benar
yang dikatakan waktu lalu oleh Lenard, bahwa Noah menyukai dirinya? Tapikan
Noah tidak mengatakan apa-apa padanya.
Bunyi
dering ponsel Sakura tiba-tiba membuyarkan lamunannya, kemudian ada nama yang
muncul dilayar ponsel Sakura “Alex? Kenapa telepon malam-malam seperti ini” gumamnya.
Lalu ia mengangkat telepon Alexander dalam deringan kedua.
“Hallo!”
sapa Alexander.
“Hai,
ada apa telepon malam-malam begini?” Tanya Sakura.
“Tidak
apa-apa, sudah lama tidak mengobrol denganmu” sahutnya.
“Oh
begitu” jawabnya singkat.
“Kau
sedang apa?” Tanya
Alexander.
“Baru
saja pulang” lagi-lagi jawabnya singkat.
“Darimana?
Sama siapa?” .
“Memangnya
kenapa?” Sakura mengerutkan keningnya heran.
“Tidak
apa-apa hanya penasaran, oh iya besok kau sibuk tidak?” .
“Tidak,
sepertinya aku akan dirumah saja” jawabnya.
“Kalau
begitu mau tidak kita pergi makan?” ajak Alexander.
“Pergi
makan? Kemana?” tanyanya.
“Iya
pergi makan, terserah kau mau makan dimana”.
Tetapi Sakura tidak langsung menjawab, ia hanya berdiam dan
mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggir ranjang. “Sakura?” panggil Alexander.
“Heh.
Iya apa?”
kata Sakura tidak menyimak.
“Kau
ini sedang melamun ya?” Tanya Alexander.
“Tidak,
aku tidak melamun” Sakura mengelak.
“Jadi
besok kau mau kan menerima tawaranku untuk pergi makan? Tapi tempatnya terserah
kau dimana” katanya sekali lagi.
“Ya
sudah, kita ke
café pusat kota saja ya” ujar Sakura.
“Baiklah
kalau begitu, kau mau ku jemput jam berapa?”.
“Sore
saja, sekitar pukul empat” kata Sakura.
“Baiklah,
sampai besok! Cepat tidur sudah malam” perintah Alexander.
“Selamat
malam sampai bertemu besok” kemudian Alexander belum sempat menjawab, Sakura
keburu mematikan ponselnya.
Sehabis itu,
Sakura mendengarkan musik di iPodnya sembari memejamkan mata entah apa yang sekarang ia pikirkan,
apakah sama dengan yang tadi atau pikiran baru yang muncul setelah ia di telepon dengan
Alexander?
“Kenapa Alex tiba-tiba mengajakku
makan dengannya?” gumamnya pelan dengan mata terus tertutup.
Bersmbung...
No comments:
Post a Comment