Taman? Ya taman Vondelpark!
Tapi berbeda dengan taman yang Sakura dan Charlotte kunjungi waktu
lalu. Kali ini taman yang
sangat menunjukan keindahan dan kedamaian pada semua orang yang mengunjunginya.
Ada pohon-pohon besar yang mengelilingi taman tersebut, jalan untuk pejalan
kaki, ada jalan bebatuan, ada danau yang tidak terlalu besar yang disana
terdapat angsa-angsa putih yang cantik.
Indah
sekali walaupun dikunjungi saat bulan telah berada pada posisinya lalu di
sambut dengan kerlap-kerlip bintang. Lampu taman yang dikelilingi bunga-bunga
bermekaran. Dan di setiap sudut taman memiliki bangku taman yang menghiasi
taman dan menyediakan para pengunjung untuk beristirahat. Walaupun sudah memasuki
malam hari masih banyak orang-orang yang berkunjung.
Terdapat
penjual yang berada disekitaran area taman yang menjual beraneka ragam makanan
khasnya. Seperti roti panggang, fish and chip, coklat panas, ice cream,
cookies, dan lainnya. Orang-orang disekitar sangat menikmati suasana taman yang
menyejukkan ini.
“Aku selalu suka dengan
taman ini” kata Sakura sambil memandang ke sekeliling.
“Taman ini tau semua isi
hati kita disaat kita punya masalah yang besar. Sama halnya denganku, selama
aku kembali ke Amsterdam. Aku selalu menyempatkan waktu kesini untuk
menceritakan masalahku kepada danau yang berada disana. Mungkin ini adalah hal
tergila untuk seseorang. Tapi ini tidak gila bagiku, aku hanya ingin bebas
seperti bintang-bintang
disana” kata Noah
sambil berbaring menatapi langit yang mulai menghitam.
Sakura
tidak berkata apa-apa, ia hanya mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ini
menarik untuk Sakura, taman yang indah dan sangat mengetahui perasaaan orang
yang berkunjung kesana.
“Hmm sepertinya aku sudah
menceritakan banyak hal, sehingga aku mengeluarkan keluh kesahku” kata Noah dengan pipi
yang memerah.
“Tidak masalah” ujar Sakura.
“Baiklah. Kau mau minum
apa? Biar nanti aku belikan minum
disana” tanya Noah.
“Aku pikir coklat panas, terima
kasih sebelumnya” jawab
Sakura sambil tersenyum.
“Kau tunggu sini dulu” kata Noah.
Sambil menunggu duduk di
rerumputan hijau, Sakura hanya melihat sekeliling. Dan sesekali melihat ponselnya, siapa tau ada pesan atau telepon
dari rumah. Ternyata tidak ada. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak Sakura
sembari memanggil namanya. Sontak Sakura pun menoleh ke belakang.
“Alexander? Sedang apa disini?” tanya Sakura kaget.
“Hai Sakura. Berjalan-jalan
saja menikmati udara malam dan kebetulan juga aku baru pulang kantor. Dan aku
pikir kesini dulu akan lebih baik untuk menghilangkan kesuntukkan pikiran ini. Kalau
kau sedang apa disini?”
Kata Alexander.
“Oh begitu. Sudah lama ya
kita tidak bertemu seperti ini
lagi, sudah lama tidak berhubungan denganmu. Aku sedang
jalan-jalan saja
bersama temanku,
habis pulang dari
supermarket kesini ” kata
Sakura.
“Oh, kalau boleh aku meminta
nomormu, kau
tau ponselku yang lama
telah hilang
dan nomor penting semuanya ada disana termasuk nomor mu. Maka
dari itu aku tidak pernah menghubungimu
kembali?” jelasnya.
“Astaga pantas saja aku
mencoba menghubungimu tidak dapat tersambung. Silakan kau catat nomor ini” kata
Sakura sembari menunjukkan nomornya yang terpampang di layar ponselnya.
“Terima kasih. Aku tidak akan berlama-lama, aku
pergi sekarang. Bye!”
kata Alexander
sambil pamit pergi.
“Bye Lex, hati-hati.” ujar Sakura sambil
melambaikan tangan kepada Alexander.
Tak lama, Noah datang sambil membawa empat kantung makanan yang ia beli tadi. Dan menyapa dari
jauh kepada Sakura.
“Sakura!” teriak Noah
sambil berjalan kearahnya.
“Astaga! kau bawa apa saja? Banyak sekali” kata Sakura sambil mendongak menatap
Noah.
“Aku melihat
semua ini menggiurkan, jadi aku beli semuanya. Ini coklat panas untukmu dan ini untukku. Aku juga beli
snack sama cookies, kelihatannya enak” kata Noah sumringah.
Mereka
pun meminum dan memakan makanan yang Noah beli. Dengan asik bercerita dan
bercanda. Sampai larut malam dan tidak tersadar sudah pukul sepuluh malam. Dan
besok Sakura harus bekerja pagi. Ia harus sudah berada di restoran pada pukul delapan pagi, karena ada acara
penting di restorannya.
“Ya ampun, sudah jam sepuluh lewat. Bisakah kita
pulang sekarang? Besok
aku harus bekerja pagi karena ada urusan” kata Sakura panik sambil melihat
arloji yang melingkar di tangan kirinya.
“Baiklah” jawab Noah.
Lalu mereka bersiap-siap
untuk pulang dan menuju ke mobil
yang terparkir sejak tadi di pinggir taman. Bergegas masuk dan mengendarai dengan hati-hati.
Beberapa
menit kemudian, sampai di rumah Sakura.
“Terima kasih untuk hari ini” kata Sakura sambil membuka
pintu.
“Sama-sama” jawab Noah sambil menatap Sakura.
“Terima kasih
juga,
sudah mengajakku ke Vondelpark” ujar Sakura dengan
senyum hangatnya.
“Sudah! Masuk kamarmu lalu
ganti baju setelah itu tidur. Selamat istirahat” kata Noah sambil membukakan
pintu kamar Sakura
“Sampai jumpa besok pagi” ujar Sakura.
Kemudian Sakura
langsung berbaring diatas ranjangnya. Dan mengecek selulernya apakah ada pesan
atau telepon. Ya! benar saja ada pesan dan itu hanya nomor.
“Selamat
malam Sakura. Maaf
mengganggu.
Alexander” Alexander.
“Hai Lex? Ada apa? Aku baru saja sampai dirumah”
Sakura.
“Oh maaf, aku mengganggu. Kalau kau lelah tidur saja. Geode nacht” Alexander.
“Tidak
apa-apa, tapi memang aku lelah sekali hari ini.
Maaf ya, aku tidur dulu. Besok kita sambung lagi. Geode nacht” Sakura.
“Mimpi indah”
Alexander.
Pagi yang cerah seperti hari-hari di
musim semi. Sakura sudah berada di dalam bus yang ingin mengantarkannya ke restorannya seperti biasa. Menurutnya pagi
ini tidak adil baginya, karena kantuknya masih menyelimuti kelopak mata
besarnya itu. Ya Sakura bentuk matanya besar karena mengikuti sang bunda yang keturunan
Indonesia. Tidak sempat sarapan jadi Sakura hanya menahan rasa lapar.
“Kau
terlihat tidak
bersemangat pagi ini” tanya Charlotte.
“Iya, aku
masih mengantuk. Semalam aku
tidur sudah larut” ujar Sakura sambil menguap
lebar.
“Kenapa kau berangkat pagi
sekali? Kenapa tidak
nanti saja, ada
angin apa kau?” tanya
Charlotte.
“Aku sedang ada urusan di restoran, ada acara”
ujar Sakura miris.
Charlotte yang satu bus dengannya, bukan karena
Charlotte ingin
mengantarkan Sakura melainkan ia ingin berkunjung ke rumah teman kerjanya yang bertepatan daerahnya melewati
restoran Sakura
bekerja.
“Sedikit lagi
aku sampai, kau hati-hati ya” kata Sakura sambil
bersiap-siap turun dan menuju pintu keluar.
“Terima kasih. kau juga hati-hati” ujar Charlotte dengan
senyum yang mengembang.
Akhirnya Sakura berjalan menuju
ke restoran tempat ia bekerja. Sambil membawa tasnya yang lumayan besar. Karena
banyak barang-barang yang harus dibawa. Dengan santainya Sakura berjalan sambil
menikmati suasana disekitarnya
yang begitu damai. Akhirnya Sakura sampai di depan pintu restoran.
“Sakura,
ayo cepat masuk dan
cepat ganti bajumu” perintah Nienke.
“Aku telat ya?” tanya Sakura terkejut.
“Tidak juga, tapi kau sekarang
harus lebih cepat,
soalnya ada tamu besar yang akan datang kesini” kata Nienke.
Nienke
adalah rekan kerja di tempat
Sakura bekerja.
Tanpa basa-basi Sakura langsung menuju ke loker karyawan untuk mengganti baju yang diberikan
oleh Nienke tadi. Dengan celana
hitam panjang dan baju
cook yang berwarna putih
yang sangat bersih.
Sakura
terlihat sangat cantik dengan rambut yang berwarna kecoklatan dan di gerai.
Bermodel keriting gantung tetapi tidak terlalu keriting, ya bisa dibilang
bergelombang. Rambut yang sering diminati oleh para gadis jaman sekarang. Tapi
ini memang benar-benar rambut asli Sakura. Namun
rambutnya tidak dibiarkan begitu saja, ia segera mengikat rambut
tersebut dan memakai topi cook
dan juga memakai safety shoes Sakura terlihat seperti koki profesional. Lalu Sakura berdiri di ambang pintu menuju
ke ruang lainnya yang dipakai sebagai tempat acara berlangsung.
Semua
orang yang berada didalamnya seperti para staf lain seperti pelayan maupun koki-koki dan orang
yang mengepalai disana pangling melihat penampilan Sakura
yang begitu menawan. Pipi Sakura memerah karena tidak biasa menjadi pusat
perhatian seperti itu.
“Maaf semuanya, kenapa
kalian melihatku seperti itu?” tanya Sakura penasaran.
“Kau terlihat cantik” ujar
salah satu teman Sakura.
“Terima kasih atas pujiannya” kata Sakura
dengan pipi yang semakin memerah seperti tomat.
Para karyawan lalu bersiap-siap dengan merapikan
baju mereka agar tidak terlihat lusuh untuk menyambut para tamu yang hadir.
Begitu pula
dengan Sakura, Sakura pun merapikan bajunya dan topinya itu agar rambutnya
tidak terurai.
Tak
lama tamu yang ditunggu-tunggu hadir ke acara tersebut. Dan saat itu juga mata
Sakura langsung melebar. Lalu Sakura langsung mengawasi laki-laki itu dengan
tatapan tidak percaya.
“Huh? Noah? Kenapa dia kesini? Pantas saja aku tidak
melihatnya pagi ini dirumah” gumam Sakura pelan tapi masih bisa dijangkau oleh
orang-orang disebelahnya.
“Noah? Kau
kenal dengan orang itu?” tanya Nienke yang
kebetulan berdiri tepat disebelah Sakura.
“Ah.. eh, apa?” kata
Sakura sambil mengerjapkan mata beberapa kali.
“Kau kenal dengan salah satu pemilik
restoran kita yang baru?
Ya, dia hanya menaruh beberapa saham ke restoran kita” kata Nienke.
“Kau tidak sedang bercanda
bukan? Noah menaruh saham disini?” ujar Sakura dengan volume suara yang
membeludak. Sehingga orang-orang yang disekitarnya melihat Sakura dengan
tatapan heran. Maupun Noah yang langsung mencari tau sumber suara itu dan tepat melihat
Sakura yang berada disana. Mata Noah langsung membesar dan heran menatap kenapa
Sakura ada disini.
Lalu Noah mencoba
menghiraukan pandangan tersebut untuk menyapa dan memberi salam kepada semua
orang yang sudah hadir di acara tersebut. Dengan memberi pesan atau pelajaran
kepada semua staf untuk bekerja yang baik. Dan memperkenalkan diri disini,
bahwa ia sebagai salah satu pemilik baru di restoran ini.
Lalu
beberapa menit kemudian ia turun dari panggung kecil untuk menghampiri Sakura
yang berada di ujung sana. Dengan santainya berjalan, Noah pun berdiri tepat didepan
Sakura.
“Hai” sapa Noah lembut.
Tapi Sakura tidak langsung
menjawab karena ia kaget melihat Noah yang tiba-tiba berdiri tegak
dihadapannya. Yang setau Sakura tadi Noah masih mengoceh panjang lebar diatas
panggung.
“Hai Noah” sapa Sakura.
“Ternyata kau bekerja disini, restoran
yang waktu lalu kau ceritakan itu?”
tanya Noah.
“Iya. Wah selamat ya jadi
pemilik baru kami disini. Selamat bekerja” kata Sakura memberi selamat kepada
Noah dengan menjulurkan tangan.
“Terima kasih. Tapi aku tidak bekerja
disini, aku hanya menaruh beberapa saham saja. Aku masih bekerja dikantor” kata
Noah.
“Hebat! Kau masih muda
sudah mempunyai
dua pekerjaan. Aku salut padamu”
kata Sakura memuji ditimpal dengan pipi yang mengembang.
“Sekali lagi terima kasih. Tapi aku tidak sehebat yang
kamu kira” terkekeh.
Disana
Sakura dan Noah berbincang-bincang sambil meminum minuman yang telah
disediakan. Dan memakan makanan ringan seperti canape, slice cake dan buah
potong. Dan tak terasa sudah pukul dua belas, saatnya acara selesai dan Noah
diminta untuk menutup acara tersebut.
“Aku tinggal dulu ya sebentar”
kata Noah sambil menaruh gelas yang ada di genggamannya itu.
“Baiklah” sahut Sakura.
Sakura melihat Noah yang
jalan dengan terburu-buru menuju ke atas panggung untuk mengakhiri acara hari
ini. Lalu disana Noah memberi salam dan memberi ucapan terima kasih atas apa
yang sudah para staf kerjakan selama ini.
Kemudian Noah turun dari panggung dan
menghampiri Sakura lagi dengan senyumannya yang khas. Dengan dada yang bidang,
tinggi, berambut ash blonde. Memakai kemeja cokelat muda yang terlihat gagah dan
tampan sekali.
“Setelah ini kau
ada acara lagi tidak?”
tanya Noah gugup.
“Sepertinya
tidak. Kenapa?” tanya
Sakura.
“Kau mau
menemaniku tidak?” tanya
Noah.
“Kemana? Tapi tidak mungkin pakaianku seperti ini.
Lagipula baju yang aku pakai tadi untuk kesini tidak memungkinkan” ujar Sakura
menunduk.
“Tidak perlu
khawatir, aku saja nanti hanya memakai kaos polos dan
celana jeans pendek” kata Noah.
“Memang mau kemana?” tanya
Sakura.
“Jalan-jalan
saja ke mall, taman,
pantai, atau apapun itu. Mau kan?” tanya Noah.
“Terserah
kau saja” jawab Sakura mengiyakan.
Drrtt...drrrtt...drrrtt ponsel Sakura
bergetar. Sepertinya itu telepon karena memiliki banyak getaran. Lalu Sakura
mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya yang panjangnya tepat dibawah
lulut. Ternyata itu pesan dari seseorang.
Lalu Sakura membuka ponselnya dan
melihat isi dari pesan itu.
“Hai Sakura” Alexander.
“Sedang sibuk?”
“Sakura?”
pesan untuk ketiga kalinya.
“Hai Lex,
ada apa?” Sakura.
Noah yang memperhatikannya
“Pesan dari siapa?” tanya
Noah tiba-tiba.
“Dari teman” kata Sakura
Gugup.
“Oh, aku
pikir dari kekasihmu” ledek Noah.
“Aku tidak punya kekasih”
ujar Sakura.
“Ternyata
benar yang dikatakan
Abel waktu lalu” ujar
Noah.
“Abel cerewet” kata Sakura malu.
“Kau
yang cerewet” jawab Noah
mengalihkan.
“Abaikan saja” kata Sakura
sambil mengibaskan tangan.
Cuaca yang panas di daerah
pantai memang membuat beberapa orang enggan untuk berkunjung terlalu lama
pada siang hari. Apalagi
jika hanya duduk dipasir putih atau hanya makan di sebuah resto terbuka. Tapi
angin lah yang bisa menyejukan itu semua. Sakura dengan cepat melahap makanan
yang ada dihadapannya itu. Dan Noah hanya menatapnya dengan senyum manisnya.
“Pelan-pelan saja, tidak usah
terburu-buru” ujarnya
Noah sambil mengambil makanan yang tertinggal di pinggir bibir mungil Sakura.
Sakura
hanya terdiam melihat reaksi Noah terhadapnya. Terjebak dalam apa? Tatapan
Noah? Atau perlakuan Noah terhadapnya?,
Tiba-tiba
Sakura dengan sigap mengambil tisu didalam tasnya dan mengelapnya dengan cepat.
“Maaf, aku lancang” ujar Noah.
“Eh... tidak..tidak.. apa-apa kok” jawab Sakura gugup
ditambah dengan malu.
Drrttt..drrrtt ponsel Sakura bergetar
lagi untuk kedua kalinya. Tapi Sakura tidak menyadari jika ponselnya bergetar
karena sedang asyik memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Pantai
sebagian orang menyukainya dan sebagian membencinya bahkan ada yang trauma
dengan yang namanya pantai. Tidak sama halnya dengan Sakura, bahkan Sakura
senang sekali dengan pantai. Menurutnya pantai adalah bagian dari hidupnya
untuk melepaskan sesak di dadanya selama ini. Waktu sudah menunjukan pukul empat
sore.
“Tuhan! senjamu begitu indah” teriak
Sakura dalam hati.
Noah
hanya duduk di pasir putih yang begitu bersih dan menatap penuh arti kepada
lautan. Keluasan alam yang ia dapatkan di bola matanya. Sedangkan dihati Sakura,
lautan itu adalah kebebasan alam
yang terbentang sejagad alam raya.
“Sakura”
“Apa?” jawab Sakura sambil duduk bersila disampingnya.
“Laut menurutmu seperti
apa?
“Laut? Laut adalah teman
sejatiku yang selalu mendengarkan apa saja yang aku utarakan. Laut itu bebas!
Tidak ada satupun orang melihat laut itu penuh kebencian, mungkin memang ada
beberapa” oceh Sakura panjang lebar.
“Apakah kau sering kesini?”
tanyanya.
“Tidak juga. Tapi aku
mencintai pantai, apakah kau suka pantai?” ujar Sakura sambil memandang langit
senja.
“Biasa saja, bahkan jarang
sekali aku ke pantai” jawab Noah sambil mengetuk-ngetuk ponselnya.
Noah merasa bosan
berlama-lama berada di pantai. Entah apa yang membuat ia merasa bosan. Apa
terlalu ramai disaat sore hari? Atau memang ia tidak begitu menyukai pantai?
Apa ada kenangan yang membuat ia menjadi terpuruk. Melihat seperti itu, Sakura
langsung menatap Noah dengan tatapan penasaran. Dan ingin menanyakan sesuatu
hal tapi takut mengganggu pikirannya.
Dan
akhirnya Sakura memberanikan diri untuk menanyakan hal apa yang ia ingin
tanyakan padanya.
“Noah, kau tidak apa-apa?”
“Aku merasa sangat
baik-baik saja”
“Kalau kau merasa
baik-baik saja, kenapa murung seperti itu?
Kau tidak nyaman berada disini?” tanya Sakura
“Tidak. Aku berani bersumpah”
“Kalau
begitu tunggu lebih lama dulu, aku rindu untuk melihat matahari terbenam. Setelah itu baru kita pulang” hiburnya.
Kamarku!
Hari yang melelahkan tetapi juga menyenangkan. Teriak-teriak diatas ranjang dan
lompat-lompat sehingga ranjang kecilnya berantakan. Kamar yang luas menjadi
sempit gara-gara Sakura memiliki barang yang begitu banyak dan tidak tertata
rapi. Walaupun ada pembantu rumah tidak semuanya dibereskan sendiri. Kasihan
menurut Sakura.
“Ura! Kapan kau tiba dirumah?” tanya Charlotte
yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sakura.
“Sedari tadi, melelahkan
sekali hari
ini”.
“Melelahkan?” .
“Benar sekali”.
“Bohong!”.
“Untuk apa” sambil
mengangkat dua tangan.
“Kalau memangnya lelah,
kenapa kau
lompat-lompat seperti itu
sampai-sampai kamarmu seperti
kapal pecah yang ditiup oleh angin tornado?” tanyanya melirik.
Sakura tertawa.
Duduk
diruang tengah yang berada di lantai dua sambil memakan makanan ringan dan
menonton televisi bersama Charlotte. Sakura mengambil ponsel dan mengecek
ponselnya. Ternyata ada pesan yang masuk sedari tadi ia berada di pantai
bersama Noah. Dan ia lupa kalau sedang berkirim pesan dengan
Alexander.
“Kau sedang apa?” Alenxander.
Lalu Sakura membalasnya
tanpa basa-basi. Dan mengetik layar dengan cepat.
“Maaf Lex, aku baru pulang. Tadi aku sedang tidak dirumah” Sakura.
Sakura menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang
tengah di lantai satu.
Dengan membawa ponsel dan laptopnya. Dengan jalan yang sedikit tidak seimbang.
Lalu mendapati meja yang dipenuhi berbagai macam cemilan.
Kemudian disisihkan semua barang
yang diatas meja tersebut untuk menaruh laptopnya. Kemudian ia mulai
mengerjakan proposal yang harus dikumpulkan tiga hari lagi. Proposal tersebut adalah
tugas dari dosen paling killer yaitu Meester Luuk van Daan.
Selang beberapa jam Lenard pulang kerumah dan menuju ke kamarnya yang
berada dilantai dua, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Sakura berada diruang tengah yang sedang asyik
dengan laptopnya. Kemudian Lenard manghampirinya dan menggagalkan niat awalnya.
“Kemarin
kau pergi bersama Noah?” .
“Darimana
kau mengetahuinya?” sambil menoleh kearah Lenard yang duduk di sofa.
“Noah cerita padaku, katanya dia
juga menaruh saham direstoran tempatmu bekerja”.
“Iya
benar, aku juga tadi sempat tidak
percaya melihat Noah berada disana” ujar Sakura sembari
mengetik.
“Lalu kau
pergi ke pantai dengannya bukan?” .
“Iya,
astaga Lenard
kenapa kau ini suka menggangguku saja, bisa
tidak kau mengintrogasiku
nanti saja.. aku sedang
sibuk” celoteh Sakura.
“Oke maaf..
tapi kelihatannya Noah tertarik padamu” kata Noah sambil mencodongkan tubuhnya
kearah Sakura dan mengedipkan sebelah matanya.
“Kau lebih baik
bersihkan seluruh badanmu itu, daripada kau mengatakan yang tidak terbukti
apa-apa!” jawab Sakura jengkel.
“Baiklah tuan
putri” sahut Lenard tersenyum menggoda.
Kemudian Sakura berhenti mengetik dan berpikir apakah iya Noah suka
padanya? “Tapi kita hanya sebatas teman
biasa, lagipula ia juga rekan kerja Lenard. Aku juga biasa saja padanya, tapi
kenapa aku kesal tadi melihat Lenard menggoda ku seperti itu? Terlihat seperti
aku menutupi sesuatu pada Lenard, terutama pada diriku sendiri. Masa iya aku
juga suka padanya? Ah tidak mungkin kami saja baru kenal, masa iya secepat itu?
Sudahlah hiraukan, mungkin saja ia hanya ingin bercerita pada Lenard” gumam
Sakura pada diri sendiri.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment