Pintu kamar Sakura terketuk sangat
keras dari arah luar
“Siapa
sih pagi-pagi seperti ini
sudah mengetuk pintu keras-keras” gumam Sakura.
“Sakura, Ra bangun Ra ada tamu mencarimu sejak tadi” teriak bibi.
“Siapa
sih bi pagi-pagi
sudah bertamu saja” teriak Sakura dari dalam kamar.
“Ini sudah pukul
tiga sore, kau memangnya tidak melihat jam?” sahut bibi. Kemudian Sakura
terdiam setengah sadar dan langsung melihat ke arah jam
dinding.
“Ya ampun bi sudah jam segini? Katakan padanya setengah
jam lagi aku selesai” teriaknya sedikit panik.
Brukkkk! Terdengar
benturan dari dalam kamar Sakura.
“Sakura!
apakah kau baik-baik saja?” tanya
bibi.
“Duh,
iya bi aku baik-baik saja” jawabnya sambil memegang keningnya.
“Huh! ada-ada saja,
kenapa bisa terbentur seperti ini. Ah astaga!”
Sakura terkejut saat melihat keningnya didepan cermin. “Ya ampun kenapa
jadi memar seperti ini, mana Alex sudah menunggu sejak tadi” gumamnya sambil
memegang pelan-pelan keningnya.
Tanpa berlama-lama akhirnya Sakura mandi dengan hati-hati agar keningnya
tidak terbentur oleh benda lainnya.
Tiga puluh menit kemudian Sakura
keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk pergi, tetapi iya tetap memegang
keningnya.
“Lho
apa yang terjadi dengan keningmu?” Tanya Alexander bingung.
“Biasa,
hanya terbentur dinding saja” katanya sambil duduk disebelah Alexander.
“Ya
ampun ada-ada saja, yasudah kalau begitu kita ke dokter saja” kata Alexander.
“Tidak
perlu, ini tidak separah yang kau pikiran” katanya menenangkan.
“Ya sudah kalau
begitu di kompres saja ya, biar aku ke belakang minta alat kompres kepada bibi” kata
Alexander sambil bangun dari tempat duduknya.
Kemudian Alexander pergi ke dapur
untuk menyiapkan alat kompres untuk Sakura. Ia mengambil es batu dari dalam
lemari pendingin dan menaruhnya di sebuah mangkuk besar dan dituangkan air lalu mengambil
handuk kecil.
Kemudian ia menghampiri Sakura yang
berada di ruang
tamu yang terlihat sedang kesakitan. Lalu Alexander dengan segera menyelupkan
handuk kecil ke dalam mangkuk besar yang berisi air dingin tersebut, kemudian
ia menaruhkan ke kening Sakura yang memar tersebut.
“Apakah
kau merasa lebih baik?” Tanyanya.
“Ya
begitulah” jawabnya sambil duduk bersandar.
“Ya sudah kalau
begitu kita dirumah saja ya, tidak jadi pergi” kata Alexander sambil memegang
handuk kecil.
“Tidak,
kita tetap harus pergi.
Kan kau yang mengajakku pergi, aku tidak enak denganmu, lagi pula ini salahku
tidak berhati-hati kalau jalan” kata Sakura merasa tidak enak.
“Tapi
lihatlah keadaanmu
sekarang seperti ini” katanya khawatir.
“Aku
baik-baik saja Lex” kata Sakura mencoba
menenangkan lagi.
Alexander merapikan handuk dan mangkuk besar itu dan dibawa ke dapur,
sementara Sakura mengambil tas dikamar.
“Lex sudah belum?” teriak Sakura dari depan.
“Iya,
tunggu sebentar” sahutnya sambil berjalan.
Sakura berjalan keluar dengan langkah tidak seperti biasanya “Bibi, Ura pergi
dulu ya”.
“Iya
Ra hati-hati, itu keningnya
sudah membaik kan?” Tanya bibi.
“Iya, bibi tidak
perlu khawatir” jawabnya.
Kemudian Alexander menyalakan mobilnya dan Sakura masuk ke dalam mobil
tersebut. Lalu bibi segera membukakan pintu gerbang.
“Pertama kita
akan kemana
dulu? Apakah kau ingin membeli sesuatu?” Tanya Alexander.
“Aku
lapar, belum sempat makan” jawabnya sambil menatap lurus ke depan.
“Baiklah
kalau begitu kita pergi makan dulu yang berada di mall saja, aku juga ingin
membeli sesuatu” katanya.
“Baiklah”
Sakura menatap ke
arah Alexander cukup lama. “Oh
iya Lex,
tumben sekali kau mengajakku jalan seperti ini, memangnya ada apa?” Tanyanya.
“Ah
tidak apa-apa, sudah lama kita tidak bertemu sejak sekolah di Bali dulu”
jawabnya agak sedikit bingung.
“Oh
begitu ya, kau sekarang semenjak pindah ke Amsterdam sibuk sekali” katanya.
“Ya
begitulah.. aku selalu dihantui oleh pekerjaan” jawabnya melemah.
“Aku
saja sempat tidak percaya
melihatmu waktu lalu berada ditaman” ujar Sakura.
“Ah
iya kebetulan sekali waktu itu, aku jadi bisa menghubungimu dan jalan bersamamu
seperti sekarang” katanya sambil tersenyum ke arah Sakura.
“Iya
Lex” sambil menatap ke
arah Alexander.
Alexander itu adalah sahabat Sakura sejak sekolah menengah atas waktu
mereka masih tinggal di Bali. Ia orang asli negara kincir angin dan orang tua
Alexander kebetulan pernah bertugas di Bali sejak Alexander memasuki sekolah
menengah atas dan
Alexander
bersekolah dimana Sakura juga bersekolah di satu sekolah yang sama.
Dulu mereka memang sempat berniat
untuk melanjutkan sekolah di Belanda. Dan kebetulan ayah Alexander ditugaskan
hanya dalam kurun waktu tiga setengah tahun. Akhirnya mereka memutuskan untuk
melanjutkan sekolah ke Belanda. Sejak itu juga orang tua Sakura memutuskan
untuk pindah ke kampung halaman ayah Sakura yaitu Jepang.
Sakura sempat menaruh hati padanya
sejak duduk dibangku sekolah. Mungkin sampai sekarang, entahlah. Lalu Sakura
menatap Alexander yang sedang menyetir mobil dengan tatapan sangat dalam dan
penuh arti. “Apakah
kau masih ingat akan kertas itu Lex?” gumamnya sangat pelan.
“Ra? Kau kenapa melihatku seperti itu? Dan kau bilang apa barusan?” Tanya
Alexander sambil melambaikan tangan tepat dihadapan wajah Sakura. Lalu Sakura
langsung mengerjapkan mata “Eh,
eh tidak aku hanya sedang merasakan sakit sedikit di keningku” mencoba untuk tidak
gugup.
“Oh
kau masih sakit ya, mana sini biar aku lihat” Alexander melihat dan menyentuh
dengan hati-hati. “Ya ampun cobaan
apalagi untuk hari ini ya Tuhan” gumamnya
dalam hati.
“Sudah
tidak apa-apa makanya kau jangan melamun lagi, agar kau tidak bisa merasakan
sakit di keningmu” kata Alexander.
“Iya.. iya, sudah
singkirkan tanganmu yang besar itu” ujarnya sambil gemetar.
“Astaga,
iya maaf” jawab Alexander.
“Demi Tuhan! Ada apa denganmu Sakura” gumamnya sekali lagi dalam hati.
“Aku tidak mau mempunyai perasaan
lagi kepadanya” gumamnya dalam lamunan. Sudah cukup waktu sekolah aku
mengharapkan ia, tetapi tidak ada balasan sama sekali. Ia baik, tetapi
sebagai sahabat. Awalnya aku berpikir bahwa dia menyukaiku, tetapi setelah aku
perhatikan baik dan perhatiannya kepadaku tidak melebihi dari sahabat. Semenjak
dari itu aku mencoba menahan perasaanku padanya dan aku berusaha untuk mencoba
menjadi sahabat yang baik baginya.
Tetapi itu tidak mudah bagiku, setiap hari aku bertemu dengannya, bercanda dengannya, duduk satu bangku
dengannya, bermain dan melakukan banyak hal dengannya. Hampir setiap akhir
pekan ia selalu meneleponku
dan memainkan gitar untukku
lalu bernyanyi bersama.
Dan sekarang aku sudah hampir bisa melupakannya, tetapi ia datang
kembali dan perhatiannya itu tidak pernah surut padaku.
“Ra ayo kita turun, kita sudah sampai” kata Alexander.
“Oh
kita sudah sampai ya” katanya sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
Kemudian mereka turun dari mobil dan
berjalan menuju pintu masuk mall. Kemudian tiba-tiba Alexander merangkul bahu
Sakura “Awas
Ra!! Hei kau gila ya!” teriak Alexander kepada pengemudi mobil tersebut.
“Kau
harus berhati-hati,
jangan melamun kalau menyeberang”
ujar Alexander sambil mentapnya dan masih merangkul bahunya. Kemudian Sakura
hanya bisa terdiam melihat Alexander dan ia tidak bisa berkata apapun.
“Kau
mendengarkanku kan?” tanyanya. Kemudian Sakura hanya menganggukan kepalanya dua
kali.
“Apa kau mau makan disini saja?” Tanya Noah sambil menunjuk restoran
Cina.
“Ya sudah kita
makan disini saja” jawabnya.
Lalu mereka masuk dan duduk ditempat khusus untuk
dua orang. Dan mereka menerima menu makanan dari si pelayan. “Kau mau makan
apa?” Tanya Alexander.
“Sepertinya
aku hanya memesan bubur saja” jawabnya sambil melihat-lihat menu.
“Kau
tidak mau dumpling atau sup
tofu sebagai tambahan?” Alexander menawarkan.
“Ah
dumpling boleh lah pesan satu, shrimp dumpling ya” katanya mengiyakan.
“Baik
kalau begitu” sahutnya. Alexander mengangkat tangan tanda memanggil si pelayan
kemudian pelayan datang dan mencatat semua pesanan Sakura dan Alexander.
Setelah pelayan pergi mereka
berbincang-bincang tentang jaman mereka sekolah dulu.
“Aku
rindu dengan suasana Bali” kata Alexander sambil menatap Sakura.
“Aku
juga rindu jaman kita sekolah dulu Lex” ujar Sakura.
“Iya,
aku juga rindu dengan masa-masa itu” sambung Alexander.
“Oh
iya Lex, kau ingat tidak saat kita pulang sekolah dan kau berjanji akan
membelikanku es krim di salah satu toko?” tanyanya.
“Ah
iya-iya aku ingat akan hal itu, es krim yang
tidak kau habiskan dan kau memberikan sisanya padaku” ledek Alexander.
“Kau
bicara apa? Coba katakan sekali lagi” kata Sakura sambil mencondongkan tubuhnya
ke arah
Alexander.
“Tidak.. tidak aku
hanya bercanda” jawabnya sambil terkekeh.
“Sejak
awal aku menawarkanmu, tapi kau bilang kau makan duluan saja” katanya sambil
memanyunkan bibirnya.
“Aku
hanya bercanda,
jangan marah seperti itu”
katanya sambil mengusap pipi Sakura. Kemudian Sakura terdiam.
“Oh
iya keesokan harinya, Evan menanyakan kalau kau dan aku kemarin pergi berdua.
Karena ia melihat kita dari belakang” ujarnya.
“Ah
iya benar. Aku juga awalnya pulang bersama Putu dan Rachel, tetapi aku berhenti
sejenak dan menunggu mereka berjalan agak jauh. Lalu aku bersembunyi” ceritanya.
Evan, Putu, dan Rachel adalah teman satu kelas mereka di sekolah dulu.
“Ada-ada
saja,
kenapa dulu kita harus mengumpat-umpat seperti itu” ujar Alexander sambil
menggaruk-garuk keningnya.
“Entahlah,
mungkin dulu kita masih kecil sekali jadi malu untuk jalan berdua” jawab
Sakura.
Tidak lama kemudian si pelayan datang dan membawa makanan pesanan
mereka, dan menaruhnya diatas meja. Lumayan penuh makanan diatas meja mereka,
karena mereka memesan tiga makanan dan dua minuman dalam satu meja.
“Selamat
menikmati” kata si pelayan ramah.
“Terima
kasih” jawab Sakura.
Kemudian mereka menikmati makanan
yang mereka pesan.
Sekitar tiga puluh menit berlalu,
mereka telah
selesai menghabiskan makanannya.
Kemudian mereka bergegas bangun dan meninggalkan restoran tersebut. Lalu mereka
berjalan sembari
melihat-lihat toko baju.
“Tunggu sebentar,
aku mau mencari kemeja lengan panjang disana” kata Alexander sambil menunjuk
salah satu toko di seberang sana.
“Baiklah
kalau begitu aku akan menemanimu mencari kemeja” jawab Sakura. Lalu mereka
masuk ke dalam toko tersebut dan langsung pergi ke tempat kemeja. Sakura juga
terlihat sibuk memilih kemeja untuk Alexander, dan Alexander pun melakukan hal
yang sama.
“Lex apakah kau suka dengan kemeja ini” Tanyanya sambil mengangkat
kemeja tersebut.
“Ah
iya benar! Kemeja yang
seperti ini
yang sedang aku cari. Warna yang bagus! Memiliki dasar warna putih dan
dipunggung ada campuran warna abu-abu” ujarnya sambil memegang kemeja tersebut.
“Syukurlah! Aku
cepat menemukannya” jawabnya lega.
“Kau
memang tau segalanya apa yang aku mau,
Sakura” katanya sembari
menatap Sakura dalam.
“Bisa
saja kau ini” jawabnya
tersipu malu.
“Ya
sudah aku akan mencoba ini di kamar pas, dan kau harus ikut dan menungguku didepannya
agar kau dapat melihatnya” ajaknya sambil menggandeng tangan Sakura menuju
kamar pas. Dan Sakura hanya mengikuti langkah kaki Alexander tanpa satu kata yang
keluar dari mulutnya.
Kemudian Alexander masuk ke dalam kamar pas dan Sakura hanya menunggu didepannya.
Dan tak lama kemudian Alexander keluar dengan mengenakan kemeja pilihan Sakura.
“Bagaimana
menurutmu?” sambil merentangkan tangan. Sakura tidak berkata apapun, ia hanya
terdiam melihat penampilan Alexander yang tepat berada di hadapannya dan
Sakura hanya mengamatinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Kau terlihat
tampan” gumamnya tidak sadar. Kemudian Alexander melambaikan tangan kearah
wajah Sakura “Hei! Kau
bilang apa barusan?”
“Apa?
Iya..
iya bagus kemeja itu untukmu” katanya gugup.
“Sudah
ku duga kau akan bilang seperti itu” katanya sambil terkekeh. Tapi Sakura
kembali melihatnya dan memperhatikan Alexander yang sekarang sedang bercermin.
“Ya
sudah aku akan mengganti baju sebentar” katanya langsung menutup pintu.
Kemudian Sakura mengerjap-ngerjapkan mata “Sudah sana cepat!”.
Setelah membayar, mereka langsung
pergi meninggalkan mall tersebut dan menuju café yang berada di pusat kota. Selama
di perjalanan hanya berdiam diri tanpa ada yang membuka obrolan, hanya
menikmati sejuknya angin musim semi.
Lima
menit kemudian, akhirnya mereka sampai di café tersebut. Dan memilih meja yang
berada diluar, karena pemandangan dan dekorasinya lebih indah dibandingkan di
bagian dalam café tersebut. Dan seperti biasa ada pelayan yang mengantarkan
list menu kepada mereka
lalu mereka tanpa menunggu lama langsung memesan dua caramel machiatto.
Ada seseorang yang sedang mengawasi Sakura di meja yang berada disudut
café tersebut, tetapi Sakura tidak menyadarinya. Dan ternyata orang tersebut
adalah Noah. Ia sedang mengopi sembari mengerjakan tugas kantornya di café
tersebut dengan seorang diri.
“Siapa laki-laki
itu yang bersama Sakura?” tanyanya pada diri sendiri. “Sudahlah
hiraukan, lagipula memang Sakura siapaku?” gumamnya sekali lagi.
Kemudian ia mencoba melanjutkan tugasnya
tetapi tidak pernah fokus, salah lagi dan salah lagi. “Duh kenapa salah terus
seperti ini” katanya sambil menekan tombol backspace
dengan kesal. Lalu Noah melihat ke arah Sakura dan Alexander sekali lagi dan tiba-tiba
tidak tau kenapa Noah merasa sangat kesal sekali jika ia melihat ke arah kedua
orang tersebut. Kemudian ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan
mengambil semua barang yang ada diatas meja tersebut dan pergi meninggalkan
café itu.
Tersadar Sakura melihat ke arah Noah,
karena ia menabrak seorang pelayang yang sedang membawa tray sampai terjatuh
ke lantai. Kemudian Sakura melihat Noah, tapi ia tidak percaya kalau itu Noah.
“Apakah
itu Noah? Kenapa dia terburu-buru seperti itu? Ah tidak mungkin juga” gumamnya
pelan.
“Ada
apa Ra?” Tanya Alexander penasaran.
“Oh,
itu baru saja ada seorang laki-laki menabrak si pelayan yang sedang membawa tray sampai jatuh ke lantai” jelasnya.
“Bodoh
sekali orang itu!”
sahutnya sambil mengabaikan.
“Sepertinya
aku kenal dengan laki-laki itu” kata Sakura tetap menatap si pelayan yang
sedang membereskan sendok yang berhamburan.
“Hanya
perasaanmu saja kali, sudahlah teruskan minum kopimu” perintah Alexander. Dan
Sakura hanya mengikuti perintah Alexander.
“Tetapi kalau benar itu Noah kenapa ia harus menghindar begitu
saat aku ber’ada disini? Kenapa dia tidak menyapaku? Atau memang ia sedang buru-buru
ya?”
Tanya nya dalam hati. Sakura hanya diam memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
Sakura merasa keningnya mulai sakit
lagi dan ia memegang kepalanya dengan hati-hati.
“Apakah
kau baik-baik saja?” Tanya Alexander sambil memegang tangan Sakura.
“Kepalaku
terasa sakit
lagi” jawabnya.
“Ya sudah
kalau begitu akan
ku antar kau pulang sekarang” katanya sambil membangunkan Sakura.
Lalu mereka berjalan keluar dan
Alexander merangkul Sakura yang sedang kesakitan ke arah mobilnya.
Dan membuka pintu mobil, kemudian mendudukan Sakura. Dengan cepat Alexander
masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil tersebut ke arah rumah
Sakura. Sakura hanya bersandar pada sandaran kursi tersebut sambil memejamkan
matanya karena menahan sakit.
“Bi..bi
tolong bukakan pintu bi” teriak Alexander sambil menekan tombol bel. Tak lama
kemudian Charlotte segera membukakan pintu dan melihat Sakura yang sangat
lemas.
“Astaga,
Ura kenapa? Ayo cepat
duduk disini” Terlihat
sangat khawatir.
“Tolong
ambilkan handuk kecil, air dingin dan es batu ya” perintah Alexander kepada
Charlotte.
“Baiklah”
kemudian Charlotte ke dapur menyiapkan semua apa yang diperintahkan Alexander.
Tak lama kemudian Lenard turun dari
tangga dan melihat Sakura terbaring lemas di sofa ruang tamu, lalu Lenard
mempercepat langkah kakinya ke
arah Sakura dan memegang Sakura “Ra
kau kenapa? Kenapa dia?” Tanya nya bingung.
“Tadi
siang, pas ia
bangun tidur kepalanya terbentur dinding dan sekarang jadi memar dan sakit
kepalanya” jelas Alexander.
“Ya
ampun Sakura, ada-ada saja”
ujar Lenard sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu Charlotte datang membawa semua
peralatan tersebut dan langsung mengkompres
kening Sakura dengan air dingin. Sakura sedikit merintih kesakitan.
“Tahan,
sebentar lagi keningmu merasa lebih baik” kata Charlotte.
“Kepalaku
sakit sekali” ujar Sakura sampai mengeluarkan air mata.
“Iya
kau harus tahan” kata Alexander sambil memegang tangan Sakura memberi semangat.
“Kau
harus ke dokter” kata Lenard.
“Tidak
perlu Nard, aku di kompres saja” jawabnya pelan.
“Tapi
kau kesakitan seperti ini” katanya sekali lagi.
“Aku
tidak apa-apa kok” sambil mengernyit kesakitan.
“Ya
sudah kalau itu maumu” jawabnya pasrah.
Sakura di gendong oleh Lenard menuju ke kamarnya untuk istirahat.
“Biar
aku saja yang menjaga Sakura” ujar Alexander.
“Apakah
kau yakin?” Tanya Charlotte.
“Iya apakah kau
tidak keberatan?” Tanya Lenard.
“Tidak,
aku tidak keberatan menjaganya disini” jawab Alexander.
“Baiklah
kalau begitu jaga dia baik-baik ya, kami tinggal dulu” kata Lenard kemudian
jalan keluar dan menutup pintu.
Sakura sedang tertidur dan Alexander
mengusap-usap kepala Sakura dengan lembut. Kemudian Sakura terbangun “Kau sedang apa
Lex? Kok belum pulang?” tanyanya.
“Aku
akan menemanimu dan menjagamu disini” jawabnya.
“Tidak
perlu aku akan baik-baik saja, lagipula sekarang sudah malam lebih baik kau
pulang saja” perintahnya.
“Tidak,
aku akan menjagamu” elaknya.
“Tidak
perlu Alexander,
aku tidak apa-apa lebih baik kau pulang saja sekarang” perintahnya sekali lagi.
“Baiklah
kalau begitu, kau jaga diri ya” ujar Alexander. Kemudian Alexander pergi
meninggalkan Sakura.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment