“Kasihan
aku melihat Sakura” kata Lenard tiba-tiba.
“Ada
apa memang dengan dirinya?” sahut Noah sambil mengetuk-ngetuk bolpoin ke
dagunya.
“Keningnya
terbentur dinding” jawabnya. Kemudian Noah tertawa pelan “Ada-ada saja
yang dibuat anak itu”.
“Entahlah,
aku juga heran dengannya. Tetapi keadaannya memprihatinkan, ia tidak mau dibawa
ke dokter. Ia hanya ingin di kompres saja” ujar Lenard.
“Bagaimana
mau cepat sembuh kalau ia tidak mau pergi ke dokter, sudah biar aku saja yang
membawanya” kata Noah.
“Paling
juga tidak mau, aku saja sahabatnya tidak di dengar apalagi
kau” jawab Lenard kesal.
“Lihat
saja nanti” katanya menantang.
Kemudian Noah beranjak dari kursinya
dan berjalan ke
arah jendela besar yang berada di belakangnya dan berdiri menghadap ke arah jalan
raya sembari
memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Dan Lenard yang berada diruangan
Noah hanya duduk di sofa hitam panjang sembari menyilangkan kaki dan membaca koran.
Tepat pukul tiga lewat tiga puluh
sore hari. Waktunya coffee break, para karyawan biasanya beristirahat sebentar
sambil memejamkan mata, minum kopi atau teh dan
meregangkan otot-otot seluruhnya.
“Permisi
tuan, apakah anda ingin kopi atau teh?” tanya
office boy.
“Kopi
saja”
jawab Lenard, “Kau mau apa?”
sambungnya.
“Teh”
jawabnya singkat.
“Baiklah,
permisi tuan” kata office boy sambil menutup pintu.
Kemudian Noah berbalik badan dan berjalan kearah Lenard. “Nard, apakah
proyek yang berada di Perancis kau akan ikut juga denganku?”
“Iya
aku juga akan ikut
mengurus proyek disana, tetapi tidak seutuhnya. Bos hanya meminta kau untuk
turut serta sepenuhnya bukan?” Tanya Lenard sambil menutup koran dan
menaruhnya di meja.
“Katanya
sih begitu, aku pikir selain ku ada lagi yang membantuku mengurus semuanya”
ujarnya.
“Membantumu
hanya sebentar saja” sahutnya.
“Sudah
lima kali aku selalu di tugaskan diluar negeri dan itu dalam kurun waktu yang
cukup lama. Aku baru benar-benar di perusahaan yang berada disini kira-kira dua
bulanan” katanya.
“Kau
harus bersyukur, bos mempercayai kerjamu”
ujar Lenard sambil memegang bahu Noah.
“Iya,
aku tahu itu” sahutnya. “Tetapi
aku rindu dengan negaraku” sambungnya melemah.
“Ya sudah sabar,
ini tuntutan pekerjaan dan kau tidak mungkin menolaknya” kata Lenard.
Kemudian Noah merenung akan hal itu, tiba-tiba ia terpikir oleh Sakura.
Bagaimana kalau aku pergi ke Perancis? Bagaimana dengan wanita itu? Aku bingung
dengan semua ini. Ia baru saja dekat dengan seorang wanita yang bisa membuatnya
nyaman. Tetapi disisi lain ia harus pergi tidak lama lagi meninggalkan negara
ini karena urusan pekerjaan. Ia takut untuk memulai suatu hubungan, karena
resikonya ia akan berhubungan jarak jauh.
Tetapi disisi lain, ia sangat
menginginkan wanita tersebut. Dan ingin menjaga dirinya. Tapi ia terus
berpikir, apakah ia bisa memulainya dan akhirnya meninggalkan wanita tersebut
dengan satu alasan pekerjaan? Meninggalkan bukan berarti mengakhiri
hubungan tersebut, tetapi memulai suatu hubungan yang baru dengan jarak
.
“Apakah
kau mau donat?” tanya
Lenard.
“Donat?”
tanya Noah.
“Iya,
kalau kau mau biar ku pesankan
sekarang. Lumayan buat teman minum teh mu
itu” ujar Lenard.
“Aku rasa itu
pilihan yang tepat” katanya mengiyakan.
“Baiklah”
sahutnya sambil mengambil ponselnya dan menelepon toko donat.
Noah melambai-lambaikan tangan dan
berbisik “Aku
pesan satu box”. “Untuk
apa?” kata Lenard berbisik.
“Sakura”
jawabnya singkat.
Jam sudah menunjukkan pukul lima
sore. Setibanya di depan rumah Sakura, Lenard membuka pintu rumah dan mempersilakan
Noah untuk masuk sembari membawa donat untuk Sakura. Kemudian mereka berdua
berjalan menghampiri kamar Sakura dan Lenard mengetuk pintu kamar Sakura izin
untuk masuk.
“Masuk”
teriak dari dalam kamar.
Kemudian Lenard membuka pintu kamar
dan masuk kemudian disusul oleh Noah. Sakura sedang memejamkan matanya dan
dengan kompresan handuk yang membalut kepalanya.
“Hai
Ra” sapa Noah. Sontak Sakura membuka matanya dan melihat ke arah Noah “Hai Noah”.
Kemudian Noah duduk di kursi yang berada tepat disebelah ranjang Sakura.
“Katanya
kau sedang sakit, ini aku bawakan donat untukmu. Kau makan ya donat ini” kata
Noah sambil menunjukkan box donat.
“Iya
terima kasih
Noah, maaf kalau merepotkan” jawab Sakura lemah.
“Tidak,
apakah kau sudah minum obat?” Tanya Noah.
“Bagaimana
kau ini Noah, sudah ku bilang tadi.
Ia saja tidak mau pergi ke dokter” cetus Lenard.
“Apa kau?”
sahut Sakura agak kesal.
“Kenapa
kau tidak mau pergi ke dokter? Kau takut ya?” Tanya Noah bercanda.
“Iya, ia memang
takut sama dokter” sambung Lenard sekali lagi.
“Eh
tidak” bantahnya.
“Ya sudah, kau
bangun ya. Makan donat ini, setelah itu kita pergi ke dokter. Aku yang akan
mengantarmu” perintah Noah.
“Tapikan..”
Sakura menyelak.
“Tidak
ada bantahan ya, lihat saja keningmu semakin memburuk. Sekarang aku suapin kamu
donat ini,
ayo harus nurut” perintah Noah sekali lagi.
“Sudah
ikuti
saja, demi kebaikanmu juga” ujar Lenard.
Kemudian Noah mengambil satu donat dan menyuapi Sakura dengan pelan-pelan
dan Sakura menuruti sembari
bersandar di sandaran tempat tidurnya itu. Kemudian Lenard keluar untuk
mengambilkan minum untuk Sakura.
Sakura melihat Noah begitu tulus
sekali menyuapininya. “Aku tidak ingin terjebak pada dua hati sekaligus. Aku
juga tidak boleh berharap lebih pada orang ini. Aku takut hal yang sama seperti
Alexander”.
Jatuh cinta sendirian.
“Sakura
kenapa kau begitu damai? Kau mempunyai hati yang tulus dan mata yang benar-benar
jujur”
ujar Noah dalam hati. “Apakah aku sanggup untuk membuat hatinya terluka suatu
saat nanti? Disisi lain aku juga ingin melupakan masa laluku, yang seenaknya
meninggalkan diriku yang sedang mencintai dirinya saat itu dengan alasan tidak
bisa berhubungan jarak jauh”.
“Dan
suatu saat aku
akan meninggalkan Sakura untuk tugas keluar negeri. Tapi aku akan tetap menjaga
hubungan ini, karena aku belajar dari masa lalu”.
Tiba-tiba Lenard menjulurkan gelas yang berisi air ke Sakura “Ini minum dulu”.
Kemudian Sakura mengambil kemudian meminumnya.
“Apakah
kau mau donatnya lagi?” Tanya Noah.
“Tidak
Noah, aku sudah kenyang. Sekarang aku mau mengganti baju kemudian kita pergi ke
dokter” kata Sakura sambil menaruh gelas di meja samping ranjangnya.
“Baiklah,
aku tunggu diruang tamu ya” kata Noah sambil berdiri.
“Iya”
sahutnya.
Lenard yang berjalan di depannya
menoleh ke arahnya
“Kau
pakai sihir apa? Bagaimana
bisa tiba-tiba is
bisa nurut padamu”.
“Itulah
aku” jawabnya santai.
“Sombong
sekali kau, ah tapi tidak apa-apa. Akhirnya ia mau pergi ke dokter juga,
setelah aku, Charlotte dan Alexander berusaha menyuruhnya tapi ia tidak mau
juga” ujar Lenard sambil duduk di sofa.
“Alexander?” Tanyanya penasaran.
“Iya,
ia teman satu sekolah Sakura di Indonesia dulu” jelas Lenard.
“Oh
begitu. Apakah mereka sangat dekat?” tanyanya sekali lagi.
“Mereka
memang bersahabat semenjak sekolah dulu” jelasnya.
“Hmm”
gumam Noah.
“Memangnya
kenapa? Kau cemburu ya dengannya? Bertemu saja belum dengan lelaki itu, Sakura
juga bukan kekasihmu” ledek Lenard.
“Sudah”
jawab Noah.
“Sudah
apa?! Kau sudah mengutarakan isi hatimu? Jadi kau benar-benar suka pada Sakura?
Wah tidak menyangka” kata Lenard terheran-heran.
“Kau
bicara apa? Ada-ada saja” balasnya.
“Itu
tadi kau bilang sudah, ya sudah apa?” tanyanya penasaran.
“Sudahlah
lupakan, tidak penting juga” jawabnya menghindar.
Tak lama kemudian Sakura keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk
pergi. Lalu ia berjalan ke ruang tamu menghampiri Noah, bahwa ia sudah siap
untuk ke dokter. Lalu Noah melihatnya dan langsung berdiri.
“Hati-hati
kalian di jalan, terutama kau Sakura
harus pakai sabuk pengaman. Nanti tiba-tiba Noah menginjak pedal rem mendadak kena lagi keningmu
itu” kata Lenard sambil terkekeh, begitupun dengan Noah. Sakura hanya melirik
kearah Lenard dengan lirikan sinis.
“Awas
kau!”
sahutnya ketus.
“Ya sudah
kami pergi dulu Nard” kata Noah sambil memegang pinggang Sakura, maksud untuk
menuntun Sakura ke dalam mobil tetapi yang ada dalam pikiran Sakura berbeda.
Setelah diperiksa oleh dokter,
Sakura dan Noah keluar dari ruangan tersebut. Mereka berjalan menuju apotek
yang berada di lantai dasar. Kemudian Sakura duduk di bangku ruang tunggu sedangkan Noah
mengambil semua obat Sakura di apotek.
“Kau
tunggu disini saja, biar aku yang mengambil obatmu” katanya sambil mendudukkan
Sakura. Dan Sakura hanya menganggukan kepala.
Selagi Noah mengambil obatnya, Sakura hanya duduk terdiam sembari
menyandarkan kepalanya. Dan matanya hanya melihat orang-orang berjalan di
depannya. Dengan keadaan lesu ia tak dapat berbuat banyak.
Tak lama kemudian Noah datang dengan
membawa obatnya, kemudian ia duduk disebelah Sakura.
“Apakah
kau mau makan diluar?” Tanyanya.
“Mau
makan dimana?” Tanya Sakura.
“Apakah
kau ingin roti isi di restoran dekat sini?” menatap Sakura dekat.
“Baiklah,
kita pergi kesana saja” ujarnya.
“Kemarikan
tanganmu, biar ku gandeng agar kau tidak jatuh” melihat keadaan Sakura
yang diperban bagian kepalanya, Noah
merangkul bahu Sakura agar tidak hilang keseimbangan. Kemudian mereka berjalan
menuju pintu keluar ke
arah parkiran.
Sesampainya di depan mobil, Noah
membukakan pintu untuk Sakura dan mendudukkannya.
Kemudian
Noah menutup dan berjalan kearah pintu sebelahnya, kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.
Sepuluh menit kemudian sampai di
toko yang menjual roti isi tersebut.
“Noah.. sepertinya dibawa pulang saja roti isinya. Kasihan juga Lenard,
Abel sama bibi pasti belum makan malam” kata Sakura.
“Baiklah..”
jawab Noah. “Kau
mau pesan apa saja?” tanya
Noah.
“Apa
ya? Aku bingung” katanya sambil melihat menu yang terpampang pada layar dinding.
“Hmm..
bagaimana kalau roti isi daging
sapi lima porsi, kentang goreng 5 porsi yang besar, sama krim sup?” Tanya Noah.
“Boleh”
jawab Sakura singkat. “Oh
iya kali ini aku yang bayar semuanya ya” sambungnya.
“Lho
kenapa begitu? Kan aku yang mengajakmu kesini” kata Noah sambil melihat kearah
Sakura.
“Tapi
kan kau sering sekali membelikanku sesuatu, seperti kemarin yang di Bloemnmarket, kau membelikan semua yang
aku butuhkan” celotehnya tanpa menatap Noah.
“Sudah
tidak apa-apa, biar aku saja yang bertanggung jawab membayar semua ini” jelasnya
sambil membayar ke kasir.
Kemudian mereka berjalan menuju
pintu keluar.
“Kenapa kau begitu baik padaku?” Tanya Sakura heran. Tetapi Noah tidak
langsung menjawab apa yang Sakura tanyakan. Ia hanya sibuk membawa kantung yang
berisi makanan dan berjalan cepat dengan tatapan lurus kedepan.
“Noah pelan-pelan.. kepalaku masih terasa sakit” kata Sakura yang
berjalan cepat karena mengikuti langkah kaki Noah.
Kemudian
Noah menoleh kearahnya “Maaf
Ra.. terlalu
cepat ya langkah kaki ku?”
Jawabnya
dengan sedikit mengelak pertanyaan.
“Kau belum jawab pertanyaanku” kata Sakura sedikit kesal.
“Pertanyaan yang mana?” Tanya Noah pura-pura tidak tau.
“Kau ini memang tidak tau apa pura-pura tidak dengar?” Katanya tambah
kesal.
“Aku benar-benar tidak tau, mungkin memang tidak dengar karena aku jalan
terlalu cepat dan angin yang begitu kencang” elaknya.
“Pertanyaanku,
kenapa kau begitu baik padaku?”
tanyanya mencoba dengan nada pelan.
“Hmm.. karena” jawabnya ragu.
“Karena apa?!” Sakura Penasaran.
“Ya.. karena kau sahabatnya Lenard” jawab Noah.
“Oh” jawabnya singkat. “Apakah iya, dia baik padaku dengan alasan aku teman
baiknya Lenard? Apa mungkin alasan seperti itu masuk di akal? Sepertinya ia
menyembunyikan sesuatu hal. Lho tapi apa urusannya denganku kalau ia mau berbohong atau tidak? Peduli
sekali aku padanya”
sembari melirik ke arah Noah dengan seksama.
“Harus bagaimana aku ini? Terlihat gugup sekali berkata
di depannya. Noah kenapa kau jadi seperti ini” gumamnya dalam hati. “Kalau
kau memang tidak ada perasaan seharusnya jantung ini tidak berdegup sehebat ini” katanya pada
diri sendiri. “Ah apakah aku memang ada rasa dengannya? Kenapa aku
selalu menanyakan hal ini? Selalu berulang-ulang pertanyaan ku. Tetapi belum
ada jawaban yang pas. Sudahlah Noah jangan pikirkan itu sekarang, kau sedang
bersamanya, jangan sampai kau membuatnya curiga dengan tingkah lakumu yang aneh” kata Noah dalam
hati.
“Hei kenapa kau melamun seperti itu?” Tanya Sakura yang sudah berada
depan pintu mobil sejak tadi.
“Apakah iya aku
melamun? Oh iya sampai lupa buka pintunya” katanya sambil mecoba
mengambil kunci mobil yang berada di saku celananya.
“Ya ampun
kau masih melamun ternyata” ujarnya sambil mengamati.“Ah tidak” sahut Noah. “Ya sudah kau
masuk duluan saja, biar aku taruh makanan ini di kursi belakang” sambungnya.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment