Sebulan berlalu ia menjalani hidup tanpa Noah disampingnya. Untung saja ia memiliki kegiatan yang cukup sibuk, bekerja dan perkuliahan sudah dimulai semester baru. Semilir angin musim gugur telah dirasakannya, Sakura berjalan ke halte bus yang berada dekat dari restorannya itu.
Terdengar suara dering nada
memanggil “Halo” sapa lelaki dari
seberang sana.
“Hai Noah! Kau masih sibuk bekerja?” Sakura yang memegang ponsel dengan
tangan sebelah kanan itu sembari berjalan dengan langkah sedikit lebar.
“Tidak.. baru saja pekerjaanku
selesai. Aku baru selesai meeting yang diadakan diluar kantor tentang iklan
yang akan dipasang di pusat kota” jelas Noah.
“Kau yang membuatnya?”
“Ya. Aku, namun dibantu dengan rekan
ku yang lainnya juga”..
“Ngomong-ngomong bulan ini aku akan
berkunjung ke Marseille bersama 4 orang teman-temanku” ujarnya dengan gembira. “Benarkah? Kau akan berkunjung ke
Marseille?”
“Ya!” sahutnya mantap. “Apakah kau bisa menemaniku selama aku berada disana?”
“Aku belum tau pasti, tapi aku akan
berusaha mencoba untuk dapat menemanimu nanti”
“Baiklah! Sampai jumpa nanti Noah!” serunya dibalik layar ponsel.
000
Lagi-lagi Sakura tidak langsung
kembali ke rumah, ia menaiki bus namun dengan arah tak menentu dan juga ia
tidak tau akan turun di halte bus daerah manapun.
“Sepi”
gumamnya pada diri sendiri.
Selang beberapa menit ia akhirnya
turun di halte bus alun-alun kota. Pintu pun terbuka dan orang-orang bergegas
untuk keluar dari bus dan menyusuri jalanan sore yang sangat ramai. Ia melihat
salah satu kedai kopi dengan nuansa bangunan lama.
Tingg...
Bunyi bel
terdengar ketika orang membuka pintu cafe. “Selamat Sore, ingin pesan apa?”
“Hai, selamat
sore. Aku ingin coklat panas 1”
“Baiklah”
kata si pekerja cafe tersebut. Sembari menunggu coklat tersebutnya selesai. Ia
memerhatikan bangunan dari cafe tersebut “Indah sekali, bukan” serunya sendiri.
“Kau tepat sekali, ditambah lagi kau datang
pada sore hari seperti ini” sahut si pekerja cafe itu sembari menyodorkan
pesanan Sakura. “Eh.. terima kasih. Semoga harimu menyenangkan” kata Sakura
sambil berlalu.
Hanya ada sisa satu meja kosong yang
berada diujung luar ruangan. Sakura dengan cepat menghampirinya. Menaruh tasnya
dan duduk.
Mencoba
menghirup udara yang memaksa masuk ke hidungnya “Manis sekali wangi coklat ini”
ujarnya pelan. Sangat ribut suasana diluar dengan bunyi orang-orang berbincang,
suara klakson mobil, anak-anak kecil tertawa dan juga sorot lampu mobil yang
berlalu lalang. Namun ia sangat menikmatinya. Keramaian ini yang ia cari, untuk
menutupi kesepian daripada dirinya itu.
“Sakura?” terlintas seorang
laki-laki yang berhenti dihadapannya sekarang. “Alex? Kau ada disini juga?”
“Kau bisa
lihat sendiri, aku baru saja pulang kerja dan tidak menyangka bisa melihatmu
disini”
“Silakan
duduk” katanya sembari menunjuk bangku yang ada dihadapannya.
“Kau sendirian?”
Sakura yang
terlihat mengangkat sedikit kedua bahunya itu “Seperti yang kau lihat saat ini”.
“Tidak
bersama Charlotte atau Lenard? Hmm.. atau siapa nama kekasihmu itu?” tanyanya
berusaha mengingat sebuah nama. “Noah?”. Alexander pun menjentikkan jarinya.
“Sebentar aku
akan memesan kopi, sepertinya akan lebih terasa nikmat jika aku juga mempunyai
sebuah minuman hangat”.
Sambil meniup-niup kopinya di ujung
bibir “Jadi kau hubungan jarak jauh dengannya?”
“Ya!”
“Apakah kau
merasa baik-baik saja dengan hubunganmu itu?” sebuah pertanyaan yang terucap
namun terdengar dalam makna yang berbeda.
“Maksudmu
apa?” tanya Sakura tidak mengerti. “Ya, kau dan Noah”..
“Aku dan Noah
baik-baik saja, dan kau harus tau bulan ini aku akan ke Marseille untuk mengunjunginya”.
“Oh. Dia
sekarang berada di Perancis”
“Tepatnya di
Paris” sahut Sakura dengan tatapan agak ketus. “Lalu?”
“Lalu apa?
Kau kalau bicara jangan setengah-setengah”
“Sabar
Sakura. Maksudku lalu kau yang menemuinya ke Paris?”
“Tidak. Ia
yang akan mengunjungi ku ke Marseille” jawabnya. “Romantis sekali.. semoga kau
dan dia bahagia” Sakura tidak dapat memahami kalimat yang baru saja ia dengar,
maksud dari kalimat tersebut kalimat untuk mendoakan atau menyumpahi.
“Alex..
sepertinya aku pamit duluan” katanya sambil mengambil tasnya itu lalu pergi.
Alex belum sempat berkata banyak namun Sakura dengan langkah kaki cepat telah
pergi.
“Apa maksudnya Alexander berkata
seperti itu?” tanyanya kepada diri sendiri dengan perasaan kesal. “Astaga” ia
tidak menyadari bahwa bus yang sedikit lagi ia tumpangi ternyata sudah menutup
pintu dan pergi begitu saja.
“Kenapa aku
kebanyakan melamun seperti ini” katanya sambil memukul kepalanya sedikit keras.
Ia memutuskan untuk duduk di dinding tembok menunggu bus selanjutnya walaupun
membutuhkan waktu beberapa menit.
000
“Bibi! Ura
pulang!” teriaknya dari pintu masuk.
“Lama sekali
tumben. Kau sudah makan malam?” tanya bibi. “Belum” sahutnya sambil menjatuhkan
badannya ke sofa ruang tengah.
“Bibi sudah
masak. Makanlah!” seru bibi. “Iya nanti saja, kaki Ura semuanya pada
pegal-pegal” sambil memijit-mijit tumit kakinya itu. “Bibi sini saja duduk
disebelah Ura. Bibi sedang menonton siaran tv bukan?”
No comments:
Post a Comment