Ig - @FIDADIDO5

Wednesday, 9 September 2020

SPRING TO FALL (BAB 22)

 Sebulan berlalu ia menjalani hidup tanpa Noah disampingnya. Untung saja ia memiliki kegiatan yang cukup sibuk, bekerja dan perkuliahan sudah dimulai semester baru. Semilir angin musim gugur telah dirasakannya, Sakura berjalan ke halte bus yang berada dekat dari restorannya itu.

            Terdengar suara dering nada memanggil “Halo” sapa lelaki dari seberang sana.

“Hai Noah! Kau masih sibuk bekerja?” Sakura yang memegang ponsel dengan tangan sebelah kanan itu sembari berjalan dengan langkah sedikit lebar.

“Tidak.. baru saja pekerjaanku selesai. Aku baru selesai meeting yang diadakan diluar kantor tentang iklan yang akan dipasang di pusat kota” jelas Noah.

“Kau yang membuatnya?”

“Ya. Aku, namun dibantu dengan rekan ku yang lainnya juga”..

“Ngomong-ngomong bulan ini aku akan berkunjung ke Marseille bersama 4 orang teman-temanku” ujarnya dengan gembira. “Benarkah? Kau akan berkunjung ke Marseille?”

“Ya!” sahutnya mantap. “Apakah kau bisa menemaniku selama aku berada disana?”

“Aku belum tau pasti, tapi aku akan berusaha mencoba untuk dapat menemanimu nanti”

“Baiklah! Sampai jumpa nanti Noah!” serunya dibalik layar ponsel.

 

000

 

            Lagi-lagi Sakura tidak langsung kembali ke rumah, ia menaiki bus namun dengan arah tak menentu dan juga ia tidak tau akan turun di halte bus daerah manapun.

“Sepi” gumamnya pada diri sendiri.

            Selang beberapa menit ia akhirnya turun di halte bus alun-alun kota. Pintu pun terbuka dan orang-orang bergegas untuk keluar dari bus dan menyusuri jalanan sore yang sangat ramai. Ia melihat salah satu kedai kopi dengan nuansa bangunan lama.

Tingg...

Bunyi bel terdengar ketika orang membuka pintu cafe. “Selamat Sore, ingin pesan apa?”

“Hai, selamat sore. Aku ingin coklat panas 1”

“Baiklah” kata si pekerja cafe tersebut. Sembari menunggu coklat tersebutnya selesai. Ia memerhatikan bangunan dari cafe tersebut “Indah sekali, bukan” serunya sendiri.

 “Kau tepat sekali, ditambah lagi kau datang pada sore hari seperti ini” sahut si pekerja cafe itu sembari menyodorkan pesanan Sakura. “Eh.. terima kasih. Semoga harimu menyenangkan” kata Sakura sambil berlalu.

            Hanya ada sisa satu meja kosong yang berada diujung luar ruangan. Sakura dengan cepat menghampirinya. Menaruh tasnya dan duduk.

Mencoba menghirup udara yang memaksa masuk ke hidungnya “Manis sekali wangi coklat ini” ujarnya pelan. Sangat ribut suasana diluar dengan bunyi orang-orang berbincang, suara klakson mobil, anak-anak kecil tertawa dan juga sorot lampu mobil yang berlalu lalang. Namun ia sangat menikmatinya. Keramaian ini yang ia cari, untuk menutupi kesepian daripada dirinya itu.

            “Sakura?” terlintas seorang laki-laki yang berhenti dihadapannya sekarang. “Alex? Kau ada disini juga?”

“Kau bisa lihat sendiri, aku baru saja pulang kerja dan tidak menyangka bisa melihatmu disini”

“Silakan duduk” katanya sembari menunjuk bangku yang ada dihadapannya.

“Kau sendirian?”

Sakura yang terlihat mengangkat sedikit kedua bahunya itu “Seperti yang kau lihat saat ini”.

“Tidak bersama Charlotte atau Lenard? Hmm.. atau siapa nama kekasihmu itu?” tanyanya berusaha mengingat sebuah nama. “Noah?”. Alexander pun menjentikkan jarinya.

“Sebentar aku akan memesan kopi, sepertinya akan lebih terasa nikmat jika aku juga mempunyai sebuah minuman hangat”.

 

            Sambil meniup-niup kopinya di ujung bibir “Jadi kau hubungan jarak jauh dengannya?”

“Ya!”

“Apakah kau merasa baik-baik saja dengan hubunganmu itu?” sebuah pertanyaan yang terucap namun terdengar dalam makna yang berbeda.

“Maksudmu apa?” tanya Sakura tidak mengerti. “Ya, kau dan Noah”..

“Aku dan Noah baik-baik saja, dan kau harus tau bulan ini aku akan ke Marseille untuk mengunjunginya”.

“Oh. Dia sekarang berada di Perancis”

“Tepatnya di Paris” sahut Sakura dengan tatapan agak ketus. “Lalu?”

“Lalu apa? Kau kalau bicara jangan setengah-setengah”

“Sabar Sakura. Maksudku lalu kau yang menemuinya ke Paris?”

“Tidak. Ia yang akan mengunjungi ku ke Marseille” jawabnya. “Romantis sekali.. semoga kau dan dia bahagia” Sakura tidak dapat memahami kalimat yang baru saja ia dengar, maksud dari kalimat tersebut kalimat untuk mendoakan atau menyumpahi.

“Alex.. sepertinya aku pamit duluan” katanya sambil mengambil tasnya itu lalu pergi. Alex belum sempat berkata banyak namun Sakura dengan langkah kaki cepat telah pergi.

 

            “Apa maksudnya Alexander berkata seperti itu?” tanyanya kepada diri sendiri dengan perasaan kesal. “Astaga” ia tidak menyadari bahwa bus yang sedikit lagi ia tumpangi ternyata sudah menutup pintu dan pergi begitu saja.

“Kenapa aku kebanyakan melamun seperti ini” katanya sambil memukul kepalanya sedikit keras. Ia memutuskan untuk duduk di dinding tembok menunggu bus selanjutnya walaupun membutuhkan waktu beberapa menit.

 

000

 

“Bibi! Ura pulang!” teriaknya dari pintu masuk.

“Lama sekali tumben. Kau sudah makan malam?” tanya bibi. “Belum” sahutnya sambil menjatuhkan badannya ke sofa ruang tengah.

“Bibi sudah masak. Makanlah!” seru bibi. “Iya nanti saja, kaki Ura semuanya pada pegal-pegal” sambil memijit-mijit tumit kakinya itu. “Bibi sini saja duduk disebelah Ura. Bibi sedang menonton siaran tv bukan?”

“Iya”.

No comments:

Post a Comment

Bieber'n

Bieber'n