Teriknya matahari yang sudah mulai
memasuki awal musim panas, banyak mahasiswa yang asyik menghabiskan waktunya
dengan duduk di rerumputan taman di sekitaran kampus. Ada yang mengerjakan
tugas, ada yang asyik berkumpul dengan temannya, bercanda, bertukar pikiran dan
lain sebagainya. Begitu pula dengan Sakura Dayu Yumma yang sedang asyik dengan
tugasnya. Ia seorang diri yang mengerjakan tugas ditengah keramaian orang-orang
disekelilingnya. Bukan karena ia tidak mempunyai teman, ia sedang menunggu
Charlotte selesai kelasnya. Kebetulan dengan kampus yang sama dan seling
waktu satu
jam. Sakura lebih memilih menunggu Charlotte di taman kampus dan mengerjakan
tugas kuliahnya daripada harus pulang.
Ia berencana akan pergi sehabis
mereka selesai kelas. Mereka berpikir inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu.
Dimana waktu matahari bersinar lebih lama dan banyak café yang mulai membuka
tenda diluar ruangan. Dengan semilir angin yang sejuk, semua terasa
menyenangkan.
Terlihat salah seorang teman Sakura datang dan menghampirinya “Hai Sakura! Kau
masih disini?”.
“Hai
Jose, ya aku masih mengerjakan tugas” jawab Sakura.
“Bolehkah
aku duduk disini?” tanya
Jose
“Silakan”
ujar Sakura mempersilahkan
“Ah
kalau begitu aku kerjakan tugas ini saja bersamamu disini, biar kita bisa
saling bertukar pikiran” kata Jose.
“Kau
benar” jawab Sakura.
Kemudian mereka mengerjakan tugasnya masing-masing dan saling berdiskusi
satu sama lain. Terkadang Sakura yang bertanya dan begitupun sebaliknya. Apa
yang Sakura temukan dengan idenya sendiri kemudian ia membahasnya bersama.
Tugas kuliahnya
sebenarnya tidaklah sulit, hanya
memerlukan kreatifitas yang ada di otak saja.
Sedang asyik berdiskusi tidak terasa
dua jam sudah berlalu. Kemudian Sakura yang melihat arloji ditangan kirinya,
langsung membereskan buku-bukunya dan izin untuk pergi meninggalkan tempat
terlebih dahulu untuk menemui Charlotte.
Ting..
“Bel sepertinya aku agak sedikit telat, bus
yang aku tumpangi mengalami kendala.” Charlotte yang melihat ada notifikasi
pada layar ponselnya langsung menghubungi nomor telepon tersebut.
“Hallo
Bel, maaf. Sepertinya akan sedikit lama untuk masalah bus yang aku tumpangi ini”
ujar Sakura yang terlihat sedikit bingung.
“Kira-kira
berapa lama aku harus menunggumu? Lagipula kau tadi kemana saja? Di taman
kampus sebelah mana? Aku hubungi ponselmu selalu tidak aktif”
“Maaf.
Aku tadi mengerjakan tugas bersama temanku, di taman depan kampus dekat pohon
besar” terdengar suara yang sedikit lemah. Charlotte yang memutar bola
matanya, walaupun tidak dapat dilihat oleh Sakura “Hmm.. Baiklah! Aku tunggu kau, sekiranya sampai pukul enam kau tidak
muncul juga. Aku akan pulang saja”
“Lho
memangnya kenapa? Kau tidak bisa menungguku agak sedikit lebih lama?”
katanya “Ayolah Bel, jangan seperti itu”
“Aku
sudah memberi waktumu satu jam dan sekarang aku menunggumu satu jam setengah
lagi. Total ada dua jam setengah aku menunggumu, aku tidak bisa berlama-lama
Ra. Ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan malam ini juga”.
“Hmm
baiklah kalau begitu. Kau boleh pulang sekarang” sahut Sakura yang
terdengar pasrah dan merasa bersalah.
Sakura
tidak bisa berdiam diri untuk menunggu bus ini membaik. Ia berjalan ke arah
sedikit ke depan dekat persimpangan jalan lalu memberhentikan taksi. Pikiran
yang sedikit suntuk telah mengganggu hidup dan langkah kakinya. Saat ini ia tak
ingin pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya.
Ia
merasa harus menghibur hati dan pikirannya saat ini. “Dam Square, pak!” serunya
kepada supir taksi. Dan supir taksi hanya menganggukan kepalanya sekali, tanda
mengerti apa yang dikatakan oleh Sakura.
Sakura
yang hanya bersandar pada sandaran kursi mobil dan menatap kosong kepada
jalanan, ia hanya berdiam tidak mengeluarkan satu kata pun hanya hembusan nafas
yang terekam pada memori otaknya saat ini.
“Aku
tidak bisa terus-terusan seperti ini” ujarnya dalam hati.
Dikarenakan terlalu sibuk melamun ia
hampir tidak sadar bahwa sedari tadi ponselnya terus bergetar, padahal saat ini
sedang ia genggam.
“Alex? Mau apa meneleponku sekarang”
sembari memerhatikan layar ponsel namun tidak cepat-cepat ia angkat.
Tak lama kemudian ponselnya berhenti
bergetar, mungkin dikarenakan Sakura lama mengangkatnya. Tetapi tak lama
kemudian panggilan untuk ke lima kalinya masuk kembali “Hallo, Lex?”
“Hai
Sakura! Apakah kau sedang sibuk? Aku berusaha menghubungimu beberapa kali
panggilan, namun tidak ada jawaban”
“Heh,
maaf. Aku sedang dijalan saat ini, mungkin aku tidak mendengarnya kalau ada
panggilan masuk” jawabnya berbohong. “Kau
mau kemana?”
“Dam
Square”
“Bagus!
Aku akan kesana sekarang!” sahut Alexander cepat. “Tapi Lex?”
“Aku
tunggu disekitaran tugu” selaknya cepat lalu menutup ponselnya.
Sakura
saat ini yang hanya ingin sendiri, tetapi tidak berhasil. Namun sepertinya
Alexander dapat menjadi obat sementara untuk pikiran dan hatinya saat ini. Tak
apalah!
Taksi
yang melaju sesuai dengan kecepatan yang telah ditentukan membawanya mulus ke
tempat tujuannya. Sakura kemudian turun dari taksi dan berjalan ke arah tugu
yang telah Alexander katakan tadi, bahwa ia akan menemuinya disana.
Terhitung satu menit
kemudian terlihat ada seorang yang melambai-lambaikan tangannya ke arahnya dan
Sakura pun sadar akan sosok lelaki itu, kemudian ia mempercepat langkah
kakinya.
“Hai Lex! Sudah lama?” tanyanya dengan
napas yang terdengar sedikit tersengal-sengal. “Tidak”
“Duduk disini saja” perintah Alexander
sembari menunjuk anak tangga. Tidak hanya mereka berdua yang duduk di anak
tangga, banyak orang-orang yang duduk disana melingkari tugu tersebut.
Sakura yang menekuk kakinya hingga
membentuk siku mulai bertanya “Ada apa kau meneleponku tadi?”
“Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa
kau menanyakan seperti itu? Tidak boleh?” sahut Alexander. “Tidak masalah,
maksudku tumben saja”
“Aku hanya bosan, maka dari itu aku
menghubungimu. Kau benar-benar dari rumah untuk kesini sendiran?”
“Tidak, aku dari kampus” jawabnya.
“Hmm.. Kau juga merasa bosan ya?
Sehingga kau kesini dengan seorang diri” tebak Alexander. Sakura yang hanya
terdiam mendengar pernyataan Alexander. Jika ia mengelak nantinya ia akan
berbohong, tetapi jika nantinya ia menjawab ia akan terbongkar rasa sedihnya
itu.
Dam
Square termasuk salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh turis
mancanegara maupun domestik, dikarenakan alun-alun ini merupakan jantung kota
Amsterdam. Letaknya yang strategis sehingga banyak orang yang menghabiskan
waktu disana dengan cara bersepeda dari rumah hingga Dam Square, ada pula yang
membawa papan roda dan lain hal lagi. Pemandangan malam ditengah kota Amsterdam
sangat indah, disebabkan oleh bangunan-bangunan bersejarah yang mengelilingi alun-alun
ini seperti Pilar Putih, Madame Tussaud, Koninklijk Paleis atau yang biasa
dikenal sebagai Royal Palace of Amsterdam dan Nieuwe Kerk atau New Church.
Sakura
saat ini yang hanya memerhatikan pertunjukkan papan roda yang diikuti juga
dengan Alexander. “Kenapa kau diam saja?” Alexander membuka obrolan. Sakura
segera mengerjapkan mata dan tersadar bahwa Alexander telah melontarkan
pertanyaan padanya.
“Hanya saja aku sedang memerhatikan
pertunjukkan disana, seru sekali bukan” jawabnya sembari menunjuk ke arah
tengah lapangan tersebut. “Kau tidak seperti yang aku kenal sebelumnya, Sakura”.
“Aku
sudah bilang kepadamu bahwa aku akan baik-baik saja” ujarnya namun pandangannya
tetap tidak teralihkan oleh pertunjukkan tersebut. “Akan?” tegas Alexander “Ceritakanlah
saja padaku, kau ingatkan bahwa kita adalah teman sudah dekat sejak lama?”
sambungnya.
Sakura yang saat ini telah sadar apa
yang sebelumnya ia katakan bahwa semua akan baik-baik saja terdiam sejenak.
“Aku yakin pada diriku sendiri bahwa
aku baik-baik saja, Lex” jelasnya sekali lagi.
“Baiklah kalau itu adalah jawaban yang
dapat membuatmu tenang, tetapi aku tetap yakin bahwa kau sedang tidak baik-baik
saja. Perlu kau ingat kau dapat menghubungiku untuk berbagi cerita apapun itu
masalahnya” sahut Alexander.
Sakura hanya mengangguk
mendengar ucapan Alexander “Tidak semua
aku dapat menceritakan padamu, Lex. Seperti halnya perasaanku terhadapmu”
gumamnya dalam hati.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment