Ig - @FIDADIDO5

Tuesday, 19 May 2020

SPRING TO FALL (BAB 17)


“Noah, aku haus” ujarnya sembari mengelus lehernya.
“Minuman sodamu sudah habis?”
“Sudah, semenjak pertengahan film minuman dan jagungku sudah ku habiskan” dengan tampang polos sembari melihat ke depan jalan. Noah seketika mengusap wajahnya “Baiklah, kau mau minum apa?”.
“Es krim!” jawabnya dengan penuh semangat. “Kau perlu tau bahwa es krim tidak membuat rasa haus mu itu hilang”.
“Memang. Tapi aku mau es krim vanilla saat ini”
“Dimana  toko es krim di daerah dekat sini?” tanya Noah yang masih berjalan ke luar ruangan teater. “Sepertinya ada toko es krim yang tidak jauh dari sini”. “Ya sudah kita pergi kesana”.
            Melihat tangan Sakura yang melenggang bebas, Noah segera menggenggamnya dengan segera. Sebelum tepat berada pada sasaran, Sakura yang merasa tangannya tersentuh segera mengalihkan. Bukan karena tidak ingin saling bergandengan, hanya saja Sakura yang masih merasa belum waktu yang tepat untuk saat ini. Mungkin terkesan berlebihan, dikarenakan tidak ingin digandeng. Tetapi Sakura bersi keras bahwa saat ini ia melakukan hal yang tepat. Noah pun dirasa pasti memahaminya maksud dari tarikan tangan yang telah dilakukan oleh Sakura beberapa detik yang lalu.
“Cepatlah masuk mobilmu Noah” perintah Sakura yang sudah duduk manis di dalam mobil. Lalu Noah pun menuruti perintah Sakura. Mesin mobil mulai terdengar jelas, Noah memundurkan mobilnya secara perlahan dan sembari melihat kaca tengah. Mobil pun berjalan ke arah jalan raya “Noah sepertinya kau harus mengurangi kecepatan mobilmu itu, karena toko es krim berada setelah pompa bensin itu” kata Sakura yang menunjuk ke arah papan nama pengisian bahan bakar yang berada di sebelah kiri jalan. “Astaga! Aku adalah salah satu penggemar berat dari nama es krim ini” ujar Noah sembari menundukkan kepala dan mencondongkan badan ke depan untuk melihat jelas nama yang ada pada papan nama tersebut.
“Benarkah?” tanya Sakura senang. “Ya!”
“Bagus! Berarti aku berhasil untuk mengajakmu makan es krim disini”
            Ting...
            “Hallo selamat datang” sapa pelayan es krim di balik etalase. “Hai, pesan satu es krim rasa vanilla” ujar Sakura yang menunjuk kaca etalase tersebut “Kau ingin es krim rasa apa?” tanyanya pada Noah
“Coklat biskuit” selagi pelayan mengambil es krim tersebut Noah mencari tempat duduk yang berada di dalam ruangan yang berada pojok kanan.
Tak lama Sakura datang membawa dua buah es krim yang berada di kedua tangannya itu.
            Kali ini tidak banyak orang yang datang ke toko es krim ini mungkin hanya dua orang pengunjung sebelumnya yang duduk diluar ruangan, sehingga banyak tempat duduk yang kosong. “Sepi sekali disini tidak seperti di Berlin” ujar Noah yang sembari menyantap es krim tersebut.
“Entahlah! Biasanya setiap aku kesini, aku selalu berada pada antrean belakang”
“Oh ya?” katanya tidak percaya. “Ya! Mungkin orang-orang bosan makan es krim akhir-akhir ini. Tapikan sekarang sudah musim panas” pikir Sakura. “Hmm..”
“Apakah kau menyukainya dengan film yang tadi kita tonton?” tanya Noah.
“Biasa saja, tidak begitu menarik perhatianku ternyata” jawabnya sembari mengaduk-aduk es krim nya.
“Lalu mengapa kau memilihnya?”
“Tidak tau”.. “Kenapa kau tidak tau, kan kau yang memilih film itu”
“Aku melihat cuplikan film tersebut sepertinya bagus ditambah dengan judul dan poster film itu. Ternyata semua isinya tidak sama sekali” jelasnya dengan wajah murung. “Noah aku pikir kita lebih baik segera pergi dari sini dan cepat habiskan es krim mu itu” sambungnya.
“Buru-buru sekali. Ada apa memangnya? Kau ada tugas kuliah?”
“Tidak, hanya saja aku tidak nyaman jika bertemu dengan salah satu temanku disini nanti” katanya sambil mengawasi. “Memangnya kenapa? Lagipula memangnya kau tau ia akan kesini?” Noah melihatnya dengan tatapan heran. “Tidak”.
“Lalu kenapa kau seperti tidak nyaman dan merasa khawatir? Dan memangnya kenapa jika kau bertemu dengan salah satu temanmu? Apakah kau malu jika ketahuan pergi denganku?” tanya Noah semakin heran.
“Tidak.. tidak bukan begitu maksudku Noah” jawabnya dengan perasaan yang was-was. “Percayalah bukan itu yang ku maksudkan”.
“Lalu apa?”
“Aku hanya tidak nyaman saja saat keberadaanku atau privasiku terlihat oleh teman-temanku, entah itu hanya satu atau dua orang saja” jelasnya.
“Ya sudah, kita pergi sekarang” kata Noah yang bangkit dari tempat duduknya.


Sebelum mobil Noah melintas, terlihat dari jauh lampu lalu lintas dengan cepat berubah warna menjadi warna merah yaitu tanda untuk berhenti. Beberapa meter jarak sebelum itu Noah telah memperlambat laju mobilnya. Sakura sedang asyik memainkan ponselnya. “Sibuk sekali”.
Sakura pun langsung menoleh “Eh.. tidak”. Noah yang masih menopang kepalanya dengan tangan kirinya hanya melirik samar “Jadi bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” tanyanya yang masih mengutak-atik ponselnya.
“Kau setuju kan dengan hubungan ini?” tanya Noah tiba-tiba. Sakura yang tidak bersandar lagi dan memiringkan badannya menghadap Noah “Aku setuju Noah” jawabnya dengan pasti.
“Baguslah kalau begitu” katanya lega. “Aku lapar sekali”
“Bagaimana kalau kita ke Leidsplein saja? Banyak bistro enak disana” saran Sakura. “Pilihan yang tepat!”.
“Kira-kira kau ingin makan malam apa?” tanya Noah. “Sepertinya makanan laut enak”.

“Selamat malam, untuk berapa orang?” sapa sang pelayan restoran. “Malam,  dua orang” sahut Noah.
“Baik. Silakan masuk mari ikuti saya” kata sang pelayan sembari membawa buku menu dan mengarahkan mereka ke meja kosong. “Apakah tuan dan nyonya nyaman?” tanyanya.
“Tidak masalah” sahut Sakura. “Baiklah. Silakan duduk, ini list menunya” sembari menyodorkan dua buku menu yang sudah terbuka pada bagian makan utama yang paling populer disana. “Ingin pesan sekarang atau ingin dilihat-lihat terlebih dulu?”
“Saya akan panggil anda kembali nantinya” jawab Noah. “Baiklah tuan, permisi” kata sang pelayan lalu pergi meninggalkan meja tersebut.
“Kau ingin makan apa?” tanya Noah yang sembari bolak-balik halaman pada buku menu itu. “Sepertinya aku tidak akan makan” sahutnya lesu.
“Bagaimana bisa, kau yang merekomendasikan untuk makan makanan laut tapi kau sendiri yang tidak jadi makan?”. “Aku hanya mengusulkan selagi kau bertanya padaku tadi, bukan berarti aku akan ikut makan” jawabnya.
“Tidak. Ayolah Sakura, kau harus makan” pintanya.
“Baik.. baiklah aku akan pesan makanan pembuka saja”. “Hmm...”
“Ada apa Noah?” tanyanya. “Tidak..”
“Aku pesan gerookte makreelpate saja”
Gerookte makreelpate adalah salah satu makanan pembuka yang paling populer di Belanda yang terbuat dari ikan makarel lalu ditambah daun seledri dan lobak, sehingga makanan ini menjadi hidangan pembuka favorit warga Belanda.
“Hanya itu?”
“Iya itu saja” jawabnya sembari menutup buku menu. “Untuk minumnya kau mau minum apa?” tanyanya sekali lagi. “Air lemon hangat”. Noah mengangguk satu kali pada Sakura “Permisi!”. Tak lama salah satu pelayan datang menghampirinya lalu Noah menyebutkan semua pesanannya dan sang pelayan pun segera mencatat pesanan yang diutarakan oleh Noah.
            Sakura yang menahan rasa lapar mencoba untuk berdiam diri. “Apakah kau yakin dan akan merasa kenyang dengan pesananmu itu?” tanya Noah.
“Aku yakin” jawabnya berbohong, sebenarnya ia sangat lapar dikarenakan hanya makan pada pagi hari saja. Tetapi ia merasa tidak napsu makan saat ini, entah merasa gugup atau lain halnya. Jika ia merasa gugup untuk makan banyak dihadapan Noah kenapa tidak dari awal mereka bertemu saja? Mungkin ia baru merasa gugup dikarenakan saat ini ia dan Noah memiliki status hubungan resmi.




Bersambung...

No comments:

Post a Comment

Bieber'n

Bieber'n