“Noah, aku haus” ujarnya sembari
mengelus lehernya.
“Minuman sodamu sudah habis?”
“Sudah, semenjak pertengahan film
minuman dan jagungku sudah ku habiskan” dengan tampang polos sembari melihat ke
depan jalan. Noah seketika mengusap wajahnya “Baiklah, kau mau minum apa?”.
“Es krim!” jawabnya dengan penuh
semangat. “Kau perlu tau bahwa es krim tidak membuat rasa haus mu itu hilang”.
“Memang. Tapi aku mau es krim vanilla saat ini”
“Dimana toko es krim di daerah dekat sini?” tanya
Noah yang masih berjalan ke luar ruangan teater. “Sepertinya ada toko es krim
yang tidak jauh dari sini”. “Ya sudah kita pergi kesana”.
Melihat
tangan Sakura yang melenggang bebas, Noah segera menggenggamnya dengan segera.
Sebelum tepat berada pada sasaran, Sakura yang merasa tangannya tersentuh
segera mengalihkan. Bukan karena tidak ingin saling bergandengan, hanya saja
Sakura yang masih merasa belum waktu yang tepat untuk saat ini. Mungkin
terkesan berlebihan, dikarenakan tidak ingin digandeng. Tetapi Sakura bersi
keras bahwa saat ini ia melakukan hal yang tepat. Noah pun dirasa pasti
memahaminya maksud dari tarikan tangan yang telah dilakukan oleh Sakura
beberapa detik yang lalu.
“Cepatlah masuk mobilmu Noah” perintah
Sakura yang sudah duduk manis di dalam mobil. Lalu Noah pun menuruti perintah
Sakura. Mesin mobil mulai terdengar jelas, Noah memundurkan mobilnya secara
perlahan dan sembari melihat kaca tengah. Mobil pun berjalan ke arah jalan raya
“Noah sepertinya kau harus mengurangi kecepatan mobilmu itu, karena toko es
krim berada setelah pompa bensin itu” kata Sakura yang menunjuk ke arah papan
nama pengisian bahan bakar yang berada di sebelah kiri jalan. “Astaga! Aku
adalah salah satu penggemar berat dari nama es krim ini” ujar Noah sembari
menundukkan kepala dan mencondongkan badan ke depan untuk melihat jelas nama
yang ada pada papan nama tersebut.
“Benarkah?” tanya Sakura senang. “Ya!”
“Bagus! Berarti aku berhasil untuk mengajakmu
makan es krim disini”
Ting...
“Hallo
selamat datang” sapa pelayan es krim di balik etalase. “Hai, pesan satu es krim
rasa vanilla” ujar Sakura yang
menunjuk kaca etalase tersebut “Kau ingin es krim rasa apa?” tanyanya pada Noah
“Coklat biskuit” selagi pelayan
mengambil es krim tersebut Noah mencari tempat duduk yang berada di dalam
ruangan yang berada pojok kanan.
Tak lama Sakura datang membawa dua
buah es krim yang berada di kedua tangannya itu.
Kali
ini tidak banyak orang yang datang ke toko es krim ini mungkin hanya dua orang
pengunjung sebelumnya yang duduk diluar ruangan, sehingga banyak tempat duduk
yang kosong. “Sepi sekali disini tidak seperti di Berlin” ujar Noah yang
sembari menyantap es krim tersebut.
“Entahlah! Biasanya setiap aku kesini,
aku selalu berada pada antrean belakang”
“Oh ya?” katanya tidak percaya. “Ya!
Mungkin orang-orang bosan makan es krim akhir-akhir ini. Tapikan sekarang sudah
musim panas” pikir Sakura. “Hmm..”
“Apakah kau menyukainya dengan film
yang tadi kita tonton?” tanya Noah.
“Biasa saja, tidak begitu menarik
perhatianku ternyata” jawabnya sembari mengaduk-aduk es krim nya.
“Lalu mengapa kau memilihnya?”
“Tidak tau”.. “Kenapa kau tidak tau,
kan kau yang memilih film itu”
“Aku melihat cuplikan film tersebut
sepertinya bagus ditambah dengan judul dan poster film itu. Ternyata semua
isinya tidak sama sekali” jelasnya dengan wajah murung. “Noah aku pikir kita
lebih baik segera pergi dari sini dan cepat habiskan es krim mu itu”
sambungnya.
“Buru-buru sekali. Ada apa memangnya?
Kau ada tugas kuliah?”
“Tidak, hanya saja aku tidak nyaman
jika bertemu dengan salah satu temanku disini nanti” katanya sambil mengawasi.
“Memangnya kenapa? Lagipula memangnya kau tau ia akan kesini?” Noah melihatnya dengan
tatapan heran. “Tidak”.
“Lalu kenapa kau seperti tidak nyaman
dan merasa khawatir? Dan memangnya kenapa jika kau bertemu dengan salah satu
temanmu? Apakah kau malu jika ketahuan pergi denganku?” tanya Noah semakin
heran.
“Tidak.. tidak bukan begitu maksudku
Noah” jawabnya dengan perasaan yang was-was. “Percayalah bukan itu yang ku
maksudkan”.
“Lalu apa?”
“Aku hanya tidak nyaman saja saat
keberadaanku atau privasiku terlihat oleh teman-temanku, entah itu hanya satu
atau dua orang saja” jelasnya.
“Ya sudah, kita pergi sekarang” kata
Noah yang bangkit dari tempat duduknya.
Sebelum mobil Noah
melintas, terlihat dari jauh lampu lalu lintas dengan cepat berubah warna
menjadi warna merah yaitu tanda untuk berhenti. Beberapa meter jarak sebelum
itu Noah telah memperlambat laju mobilnya. Sakura sedang asyik memainkan
ponselnya. “Sibuk sekali”.
Sakura pun langsung menoleh “Eh..
tidak”. Noah yang masih menopang kepalanya dengan tangan kirinya hanya melirik
samar “Jadi bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” tanyanya yang
masih mengutak-atik ponselnya.
“Kau setuju kan dengan hubungan ini?”
tanya Noah tiba-tiba. Sakura yang tidak bersandar lagi dan memiringkan badannya
menghadap Noah “Aku setuju Noah” jawabnya dengan pasti.
“Baguslah kalau begitu” katanya lega.
“Aku lapar sekali”
“Bagaimana kalau kita ke Leidsplein
saja? Banyak bistro enak disana” saran Sakura. “Pilihan yang tepat!”.
“Kira-kira
kau ingin makan malam apa?” tanya Noah. “Sepertinya makanan laut enak”.
“Selamat malam, untuk berapa orang?”
sapa sang pelayan restoran. “Malam, dua
orang” sahut Noah.
“Baik. Silakan masuk mari ikuti saya”
kata sang pelayan sembari membawa buku menu dan mengarahkan mereka ke meja
kosong. “Apakah tuan dan nyonya nyaman?” tanyanya.
“Tidak masalah” sahut Sakura. “Baiklah.
Silakan duduk, ini list menunya” sembari menyodorkan dua buku menu yang sudah
terbuka pada bagian makan utama yang paling populer disana. “Ingin pesan
sekarang atau ingin dilihat-lihat terlebih dulu?”
“Saya akan panggil anda kembali
nantinya” jawab Noah. “Baiklah tuan, permisi” kata sang pelayan lalu pergi
meninggalkan meja tersebut.
“Kau ingin makan apa?” tanya Noah yang
sembari bolak-balik halaman pada buku menu itu. “Sepertinya aku tidak akan
makan” sahutnya lesu.
“Bagaimana bisa, kau yang
merekomendasikan untuk makan makanan laut tapi kau sendiri yang tidak jadi
makan?”. “Aku hanya mengusulkan selagi kau bertanya padaku tadi, bukan berarti
aku akan ikut makan” jawabnya.
“Tidak. Ayolah Sakura, kau harus makan”
pintanya.
“Baik.. baiklah aku akan pesan makanan
pembuka saja”. “Hmm...”
“Ada apa Noah?” tanyanya. “Tidak..”
“Aku pesan gerookte makreelpate saja”
Gerookte
makreelpate adalah
salah satu makanan pembuka yang paling populer di Belanda yang terbuat dari
ikan makarel lalu ditambah daun seledri dan lobak, sehingga makanan ini menjadi
hidangan pembuka favorit warga Belanda.
“Hanya itu?”
“Iya itu saja” jawabnya sembari
menutup buku menu. “Untuk minumnya kau mau minum apa?” tanyanya sekali lagi. “Air
lemon hangat”. Noah mengangguk satu kali pada Sakura “Permisi!”. Tak lama salah
satu pelayan datang menghampirinya lalu Noah menyebutkan semua pesanannya dan
sang pelayan pun segera mencatat pesanan yang diutarakan oleh Noah.
Sakura
yang menahan rasa lapar mencoba untuk berdiam diri. “Apakah kau yakin dan akan
merasa kenyang dengan pesananmu itu?” tanya Noah.
“Aku yakin” jawabnya berbohong,
sebenarnya ia sangat lapar dikarenakan hanya makan pada pagi hari saja. Tetapi
ia merasa tidak napsu makan saat ini, entah merasa gugup atau lain halnya. Jika
ia merasa gugup untuk makan banyak dihadapan Noah kenapa tidak dari awal mereka
bertemu saja? Mungkin ia baru merasa gugup dikarenakan saat ini ia dan Noah
memiliki status hubungan resmi.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment