Mencoba meluruskan kaki yang sejak seharian tadi beraktivitas diluar
ruangan. Ia mulai merasakan pegal-pegal pada otot kakinya. Lalu meraih
ponselnya yang berada diatas meja disamping tempat tidurnya. Dan mulai mencari
kontak dengan nama Noah.
“Rasanya ingin sekali menelepon orang ini” katanya yang
merasa gemas
melihat namanya yang
berada di ponsel tersebut. Diletakkannya ponsel tersebut
tepat disampingnya.
“Hallo” terdengar suara dua kali yang
berada diujung sana dan Sakura tiba-tiba terdiam sejenak dan tak lama
mengarahkan telinganya ke sumber suara tersebut.
“Astaga, ternyata tidak sengaja kepencet. Duh bagaimana ini?”
gumamnya dalam hati. Kemudian Sakura mencoba mengambil
ponselnya dan meletakkan di telinganya “Ha.. hallo”.
“Hai, ada apa? Tumben menelepon?” Tanya Noah.
Terus mencari jawaban dan menahan
malu atas
kecerobohannya sendiri “Hmm.. tadi aku sedang memainkan ponselku dan membuka
kontak, tiba-tiba saja ada nomormu”.
Noah yang terdengar sedikit tertawa “Jadi kau meneleponku gara-gara kau melihat kontakku ada
di daftar kontakkmu?”. “Tidak juga”.
“Heh.. tapi aku sepertinya tidak pernah meminta nomormu sebelumnya, kau yang
mengetikkan dan menyimpannya di ponselku ya?” sambung
Sakura. Dengan santainya Noah menjawab “Iya”. Rasa
penasaran Sakura pun terjawab, ternyata benar Noah yang membuka ponselnya dan
memasukkan kontaknya pada ponsel Sakura.
“Kapan kau memasukkan nomormu di ponselku?”
Tanyanya memastikan. “Saat kau sedang sakit waktu lalu, tepatnya saat kau sedang tertidur”
jelasnya. Ingin Sakura katakan yang sebenarnya tetapi ia takut Noah tidak
merasakan hal yang sama, dan itu akan membuatnya malu.
“Maaf” celetuk Noah yang berhasil
membuyarkan lamunan Sakura.
“Maaf untuk apa?” kata Sakura
bingung. “Aku sedang sibuk akhir-akhir ini dan jarang sekali
menemuimu atau mengabarkanmu” jelas Noah.
Sakura yang merasakan hal itu ingin bertanya yang sebenarnya tentang
perasaan Noah terhadapnya “Tidak
masalah” berusaha
mencoba agar semuanya baik-baik saja.
“Tapi sesibuk itukah?” sontak
pertanyaan Sakura yang tiba-tiba melesat
mulus keluar dari mulutnya. Noah terdiam dan bingung apa
yang harus ia jelaskan yang sebenarnya.
Memutar-mutarkan bolpoin tidak
mengalihkan tentang kebingungannya itu “Sebenarnya tidak terlalu sibuk, hanya saja..”.
Sakura langsung memotong kata-kata Noah “Hanya saja apa Noah? Kau kenapa bersikap
aneh seperti ini
sekarang?”. “Tidak apa-apa, lupakan saja” ujarnya mengelak. Sakura yang
terus memaksa agar ia katakan yang sebenarnya “Katakan padaku, ada apa yang sebenarnya terjadi padamu?”. “Aku takut” sahutnya singkat.
Semakin penasaran Sakura dibuatnya “Kau takut akan hal apa? Cepat katakan padaku”. “Aku takut, aku bingung untuk mengatakannya padamu”.
Sakura yang terdiam mencoba mendengarkan pernyataan Noah. “Aku takut untuk memulai suatu hubungan dan aku bingung tentang
pekerjaanku juga, bercampur aduk semua pikiranku menjadi satu”
jelasnya. “Tapi apa yang kau takutkan untuk memulai suatu
hubungan? Apa ada hubungannya dengan pekerjaanmu?” Tanya Sakura.
Noah yang menghela napas panjang “Sebenarnya aku
mempunyai perasaan padamu, tapi aku takut untuk memulainya. Karena bulan depan
aku akan ditugaskan di Perancis, tapi aku belum tau pasti aku akan langsung kesana atau akan
meneruskan satu proyek lagi yang sekarang sedang berjalan di Cordoba, Spanyol”. “Aku tidak ingin kau nantinya akan sendirian disini, sudah lama ingin ku ungkapkan
tapi nyaliku belum berani” ujar Noah
panjang lebar dan saat itu Sakura masih terdiam dan tidak sadar ia sudah
meneteskan air mata mendengar pernyataan Noah terhadap dirinya.
“Sebelum kau, aku pernah merasakan hubungan jarak jauh
saat aku pindah ke Amsterdam. Ia memutuskan hubungan kami, dengan alasan ia
tidak bisa berhubungan jarak jauh dan kali ini aku tidak mau kesalahan terulang
untuk kedua kalinya” jelas Noah.
“Aku sudah terbiasa berhubungan jarak jauh, bahkan itu kepada
ibuku. Karena kau tau sendiri pekerjaanku yang tak pernah menetap pada suatu
daerah” lanjutnya.
“Setiap orang berbeda walaupun ia berada diatas bumi yang sama, aku akan
belajar untuk bisa berhubungan jarak jauh denganmu. Tapi jangan lepas aku sendiri,
tuntun aku agar bisa terus bersamamu” ujar Sakura
yang begitu bijak.
“Apa kau yakin? Tapi aku takut untuk memulainya”
Tanya Noah. Sakura yang mendengus keras “Apa kata-kataku sulit untuk kau mengerti? Apa kau tidak
yakin padaku?”. “Baiklah, kalau kau yakin pada hubungan ini. Aku juga
yakin dan percaya pada dirimu” ujar Noah dengan nada suara yang
berubah menjadi bahagia. “Untuk soal takut dan bingung aku minta maaf padamu,
lemah sekali menjadi laki-laki tidak berani mengambil keputusan sendiri. Sampai
akhirnya kau tau permasalahanku yang sebenarnya” ucap Noah.
“Untuk hal seperti ini, tidak mudah untuk diputuskan.
Karena kau pernah mengalaminya sendiri, aku paham akan hal itu” kata Sakura dengan nada suara yang
menenangkan hati Noah. “Terima kasih Sakura, kau sangat mengerti bagaimana keadaanku”. “Bagaimana keningmu? Masih memar?”
“Sudah sangat baik, makanya berkunjung
lah kerumah
ku. Tidak ada
kabar, tidak pernah menemuiku”
katanya merajuk.
“Jadi kau menyindir?”. Sakura
tertawa “Tidak.. tidak aku tidak menyindirmu, perasa sekali kau
ini”. “Jadi sudah bisa untuk aku ajak jalan-jalan besok?”.
Sakura yang mengerutkan keningnya “Mau kemana? Ke taman? Atau terserah ku?”.
“Terserah kau saja mau kemana, besok aku jemput ya
lieverd” (Lieverd
adalah panggilan sayang dalam bahasa Belanda) kata Noah
menggoda. Sakura yang tersipu malu dan sempat terdiam. “Kenapa kau diam saja? Kau malu ya” ujar Noah
terkekeh. “Ah tidak.. besok jam sebelas pagi”
jawabnya ketus menyembunyikan rasa malunya. Noah yang kembali meledek “Duh.. galak sekali, iya aku jemput jam sebelas. Sudah lebih baik kau tidur agar
tidak gugup besok bertemu denganku. Geode nacht, lieverd”. Sakura menjawab singkat “Goede nacht”.
Hati dan perasaan yang sudah berubah
menjadi sangat bahagia dan tidak tau kata-kata apa yang harus ia keluarkan dari
mulutnya. Ia hanya tersenyum menatap langit-langit kamar dan mengingat-ingat
obrolan tadi bersama Noah. Dan perasaannya jauh lebih baik dari beberapa jam
sebelumnya.
No comments:
Post a Comment