Semalaman penuh Sakura tidak bisa
tertidur dengan nyenyak, selalu saja terjaga. Bukan karena hal yang menakutkan
tetapi hal yang sangat menyenangkan baginya. Kesan pertama yang tak ia
sangka-sangka, ternyata ada laki-laki yang begitu serius dan takut kehilangan
terhadap dirinya.
Pagi ini ia tengah sibuk
membereskan kamarnya yang sedikit berantakan. Baju kotor yang berada di pojok
ruangan segera ia rapikan
lalu ia taruh ke
dalam keranjang dan siap untuk dibawa ke ruang laundry.
Meja yang dipenuhi dengan buku-buku
tebal juga terlihat sangat tidak teratur. Banyak aksesoris-aksesoris ruangan
yang tidak seharusnya berada disana. Ia mulai membereskan satu persatu, mulai
dari baju kotor dan sekarang pindah membereskan meja tersebut.
Terdengar gagang pintu terbuka
Sakura menoleh “Selamat
pagi Abel” sapanya dengan semangat.
“Wah ada apa dengan Sakura Dayu Yumma yang pagi-pagi
seperti ini sudah membereskan kamar” ucap Charlotte yang duduk di ranjang
Sakura.
Sakura yang menggantungkan topinya
tetap tidak menoleh ke
arah Charlotte “Kau
pasti mengetahuinya bagaimana keadaan kamarku. Berantakan
sekali bukan? Ya mau
tidak mau aku rapikan
saja”.
Charlotte yang memerhatikan
gerak-geriknya sepertinya tidak seperti biasanya “Seperti ada yang berbeda dari sikapmu? Kau sedang berbahagia ya?”.
Sakura menoleh dan hanya tersenyum sumringah.
Charlotte yang langsung berdiri dan
menghampirinya “Astaga! Apa
yang telah terjadi? Ayolah ceritakan padaku” bujuknya.
“Kau ini! Jangan
seperti anak kecil” katanya sambil tersenyum. “Cepat katakan..” bujuknya sekali lagi. “Noah?” tebaknya.
Dan sekali lagi Sakura melihatnya dan mengembangkan senyumnya.
“Ya ampun.. ceritakan ayo cepat ceritakan”
Sakura yang berjalan menghampiri
ranjangnya dan Charlotte yang mencoba membenarkan
posisi duduknya siap untuk mendengarkan Sakura bercerita “Kau benar”.
“Ada apa dengannya? Ia menghubungimu tadi malam?” dengan
mata yang berbinar-binar. Dan Sakura mengangguk “Bukan hanya itu. Ia menceritakan semuanya padaku pada
saat itu juga”. Charlotte yang terus dirundung rasa penasaran itu “Terus.. terus”.
“Awalnya ia tidak mau mengungkapkan apapun yang ada dalam
benaknya, tetapi aku memaksanya
dan pada akhirnya ia menceritakan semuanya padaku. Alasan ia tidak menghubungi atau
menemuiku” jelas Sakura. “Ia
bilang, bahwa ia
takut untuk memulai suatu hubungan baru dikarenakan alasan pekerjaan yang tidak
menetap pada suatu daerah” jelasnya lagi.
Charlotte yang mulai tertarik dengan
cerita Sakura mulai mencondongkan badannya “Lalu?”
“Sudah lama ia
ingin mengungkapkan ini semua, ia pernah kecewa pada masa lalunya. Wanita yang
ia kasihi pergi meninggalkannya dengan alasan tidak bisa menjalin hubungan
dengan jarak jauh”.
“Aku pikir wanita itu bodoh” celetuk Charlotte. “Sepertinya”
sambung Sakura.
“Maka dari itu Noah takut untuk mengatakan padaku bahwa
ia mempunyai rasa padaku
dan juga ia tidak menginginkan
kesalahan yang sama terulang untuk kedua kalinya.. ia takut meninggalkan
ku sendiri disini, ia takut aku tidak bisa seperti wanita itu”. Charlotte
mengamati.
“Tetapi tidak semua orang seperti itu dalam
pemikirannya” seru Charlotte.
“Aku juga mengatakan hal yang sama kepadanya, aku bilang
aku akan belajar hal itu. Mungkin hal ini memang baru bagiku, tetapi siapa yang
tau kalau kita memang bisa menjalaninya”.
“Hanya sebuah sebuah kepercayaan yang membuat hubungan
semakin kuat” lanjutnya.
“Ya! Kau benar!”.
“Memang
berat memutuskan ini semua, tapi memang harus diputuskan apapun alasannya.
Selamat ya Ura
semoga kau bisa bersama terus dengan Noah” Charlotte yang melebarkan tangannya
dan mulai memeluk sahabatnya tersebut “Terima
kasih Bel”.
“Jadi mulai saat ini kau tidak boleh sedih lagi, kau sudah
mempunyai pasangan” kata Charlotte menggoda.
Tersenyum lebar dengan pipi
kemerahan “nanti Noah akan menjemputku kesini sekitar pukul sebelas dan sekarang sudah jam setengah sepuluh”..
“Hmm.. pantas saja kau merapikan kamarmu, jadi itu
alasannya”.
“Sudah kau siap-siap sekarang. Biar aku yang
membantumu membereskan kamarmu ini” ujar Charlotte. “Kau memang
terbaik. Sayang!”
mencium keras tepat dipipi kanan Charlotte. Kemudian Sakura masuk ke kamar
mandi.
“Abel! Aku pakai baju yang mana?”
dengan handuk yang masih melilit rambut basahnya itu.
“Kau bisa tidak dengan tidak teriak-teriak
seperti itu, aku tau kau sedang berbahagia
tetapi jangan berbicara terlalu kencang.. aku kan berada disampingmu” seru
Charlotte dengan mata yang melirik.
“Aku tidak
tau akan memakai baju yang mana.. maaf ya” katanya. Masih sibuk
mencari dan sekarang Charlotte juga ikut turun tangan memilih baju untuknya “Memangnya kau akan pergi kemana?
Formal atau tidak?”.
“Tidak tau aka
kemana” jawabnya. Charlotte yang mendengarnya merasa ingin mencubit pipi Sakura kemudian ia
menggeleng-gelengkan kepala.
“Bagaimana dengan ini?” kata Sakura yang menunjukkan
baju yang ia temukan. “Bagus”
“Ya
sudah aku pakai ini saja”.
“Itu kau tau baju mana yang ingin kau pakai, tidak harus
teriak-teriak seperti tadi kan” cetus Charlotte.
“Abel marah? Baik
aku minta maaf sekali lagi”.. “Ya sudah cepat
pakai bajumu, kita pergi ke dapur setelah
ini untuk sarapan”
“Baiklah, tunggu sebentar”
“Aku tunggu di meja makan” Charlotte yang jalan keluar.
Tingg..
Bunyi
pesan masuk dari Noah “aku kesana
sekarang”. Sakura hanya melihatnya dan langsung keluar kamar kemudian menuju meja
makan. Sesampainya
di meja makan, makanan sudah tertata rapi. Lenard dan Charlotte sudah duduk
disana menunggu Sakura.
“Selamat
pagi Lenard” datang dengan wajah yang berseri-seri. “Hmm.. sepertinya aku mencium aroma kebahagiaan pagi hari ini” sahut Lenard yang sembari
menyikut lengan Charlotte. “Ah
biasa saja”. “Dimana
Noah?” katanya menggoda. “Kau tau
darimana? Abel ya yang mengatakannya
padamu?” tebak Sakura.
“Tepat
sekali” jawab Lenard dengan memberi acungan
jempol ke
arah Sakura.
“Sudah..
waktunya sarapan sekarang” perintah Charlotte.
“Jadi bagaimana cerita awalnya sampai kau dihubungi Noah
tadi malam malam?” tanya Lenard yang masih penasaran. Mulut yang sudah terbuka
dan roti yang sudah sampai dibibir ditaruh ke atas piring “Jadi sebenarnya, aku
tidak sengaja membuka kontak-kontak di ponselku. Aku memang melihat nama Noah,
tetapi aku hiraukan dan ku taruh ponselku tepat disamping tanganku. Entah itu
tersentuh atau tidak aku tidak menyadarinya, tiba-tiba saat aku terdiam ada
suara laki-laki terdengar samar-samar. Lalu aku langsung melihat ke arah
ponselku. Dan benar saja itu suara yang berasal dari ponselku, lebih
terkejutnya lagi ternyata aku sedang menelepon Noah dalam keadaan tidak
sengaja”. Lenard dan Charlotte yang masih mendengarkan dengan seksama.
“Ya jadi seperti itu cerita rincinya”
lanjut Sakura yang kembali mengambil rotinya yang sempat ia taruh tadi. “Oh jadi
dalam keadaan tidak sengaja dan kau yang mulai untuk menghubunginya” jawab
Lenard mengerti. Charlotte yang berdiri dan berjalan ke arah lemari pendingin
“Jadi intinya yang menghubungi pertama adalah kau, Sakura”.
“Tidak! Aku merasa tidak
menghubunginya terlebih dulu” jawabnya mengelak. “Tetap saja, tidak sengaja
maupun dengan sengaja kau yang memulainya terlebih dulu”.
“Sudahlah, kenapa kalian jadi ribut.
Yang jelas sekarang Sakura sudah tidak bersedih lagi” kata Lenard yang selalu
menjadi penengah antara Sakura dan Charlotte. Lenard yang mengedipkan satu mata
ke arah Charlotte yang mengartikan bahwa benarkan saja apa yang Sakura katakan.
“Mau
kemana kau setelah ini?” tanya Lenard. “Belum tau Nard, yang pasti Noah sedang
dijalan menuju kesini”.
Lenard yang mengangguk tanda mengerti
yang kemudian disusul dengan menyesap teh hangatnya kemudian berkata “Oh baiklah
kalau begitu, aku juga setelah ini akan pergi keluar mungkin sampai malam”.
“Kau mau kemana? Kau tidak mengatakan
sebelumnya padaku” tanya Charlotte yang sembari mencoba untuk duduk dikursi. “Ada
urusan, anak dari teman ibuku dari Jakarta sedang berlibur ke Amsterdam”. “Berarti
aku bakal sendirian dirumah. Sementara kalian berdua ada urusan” jawab
Charlotte. “Kan ada bibi Bel” sahut Sakura terkekeh. Disambung dengan tawa
kecil dari Lenard. “Membosankan!” gumamnya.
Sedang
asyik berbincang terdengar suara mobil “Sepertinya itu Noah” melihat Sakura
yang langsung berdiri dan berjalan dengan langkah yang sedikit lebar. Lenard
dan Charlotte saling tatap melihat Sakura yang sontak berjalan ke arah luar.
Sakura yang membuka pintu
rumah dan melihat Noah yang sedang menutup pintu mobil kemudian berjala keluar
ke arahnya. Lalu Noah yang menyadari kehadiran Sakura langsung menyapa “Hai
Ra”. Sakura yang tersenyum lebar dan mencoba memengah lengan Noah “Hai, silakan
masuk” kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan menuju ke arah meja makan.
“Hallo semua, selamat pagi” sapa Noah
sambil melambaikan tangan kepada Lenard dan Charlotte. “Hai, Noah” sapa
Charlotte. “Sudah lama kita tidak berjumpa” sambungnya. Noah hanya tersenyum
manis pada Charlotte tanpa menjawab satu kata pun.
“Hai, Noah” sapa dari Lenard. “Hello,
Nard! Bagaimana kabarmu?” tanya Noah.
“Baik, seperti hari-hari sebelumnya.
Kau menanyakan itu seakan-akan kita sudah lama tak berjumpa” jawabnya sambil
tertawa.
Sakura
yang berada disampingnya hanya ikut tersenyum. “Noah, apakah kau sudah sarapan?”
tanya Charlotte. “Hanya minum secangkir kopi saja” sahutnya.
“Mau ku buatkan roti panggang?”.
“Tidak perlu repot-repot” sahutnya. “Sudah
tidak apa-apa” jawab Sakura yang kemudian berdiri ke arah dapur “Biarkan aku
saja yang membuatkan roti panggang untuk Noah” sambung Sakura. “Baiklah” jawab
Charlotte. Kemudian Charlotte merapikan piring dan gelas kotor yang ada diatas
meja makan dan dibawa ke wastafel. Sedangkan Noah dan Lenard yang sedang asyik
dengan obrolannya.
“Aku
tinggal ganti baju dulu ya” kata Lenard kepada ketiga kawannya tersebut. “Mau
kemana kau?” tanya Noah yang sembari mengunyah roti panggangnya.
“Ada urusan keluar”, dan Noah hanya
mengangguk cepat.
Sakura yang hanya berdiam duduk
disebelah Noah hanya menatap dan mengutak-atik ponselnya. “Sakura, kau diam
saja. Kau terlihat gugup sekali duduk disebelah Noah” ledek Charlotte. Sakura
yang berusaha mengerjapkan mata langsung mematikan ponselnya dan melihat ke arah
Charlotte yang berada tepat didepannya “Kau bilang apa barusan?”. Noah yang
sejak itu langsung menoleh ke arah Sakura dengan tatapan hangat.
“Aku bilang kau gugup berada disamping
Noah, yang sekian lama tidak bertemu” jelasnya lagi. “Memang benar apa yang
dikatakan Abel?” tanya Noah memastikan.
“Ah tidak, siapa bilang” katanya
berusaha mengelak.
“Sudah jangan berbohong, kelihatan
wajah gugupmu itu” sambung Charlotte. Sakura mengedipkan mata mengisyaratkan
untuk diam. Charlotte yang tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu. “Ia
tidak mau mengakuinya Bel” ucap Noah sambil melirik ke arah Sakura. Dan Sakura
melihat Noah dengan tatapan sedikit sinis “Siapa bilang? Aku biasa saja berada
di dekatmu” menghembus napas panjang.
Jam
sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, Lenard yang sudah rapi berjalan ke
arah meja makan “Aku tidak berlama-lama, akan segera berangkat” ujar Lenard.
Noah yang melihatnya “Baiklah, sampai jumpa”. Kemudian Lenard melambaikan
tangan kepada ketiga kawannya dan berjalan keluar. Kemudian Charlotte beranjak
dari kursinya, “Mau kemana Bel?” tanya Sakura.
“Kamar” jawabnya singkat.
Sekarang
tinggal Sakura dan Noah yang berada di pantry.
Sakura yang masih terdiam dan Noah yang masih asyik dengan roti panggangnya
yang tinggal satu gigitan lagi. “Kita mau kemana?” tiba-tiba tanya Sakura. Noah
yang beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah wastafel hendak mencuci tangan
“Ku serahkan padamu saja”. Sakura yang membereskan meja makan sembari
memikirkan akan kemana hari ini untuk kencan pertamanya bersama.
“Hmm. Kemana ya?” tanyanya lagi. “Teater?”.
“Boleh. Ada film bagus apa?” tanya
Sakura sambil mencuci piring dan gelas. “Aku belum melihatnya”.
“Selain itu kemana ya? Apakah kau ada
ide lain? Masa ke taman lagi” ujarnya.
“Atau ditaman belakang saja, duduk
sebentar sambil memikirkan kita akan kemana?”. “Baiklah, aku selesaikan tugasku
ini”. Noah melihatnya sambil terangguk manis.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment